Sukses

Ini 4 Alasan Mengapa Difteri Bisa Mengancam Nyawa

Meski gejalanya mirip radang tenggorokan, tetapi jangan sepelekan difteri! Inilah alasan mengapa difteri bisa mengancam nyawa.

Klikdokter.com, Jakarta Difteri merupakan penyakit infeksi yang utamanya menyerang tenggorokan dan hidung. Gejala awalnya berupa ketidaknyamanan di tenggorokan. Penyebabnya adalah bakteri Corynebacterium diphteriae.

Difteri bisa menyebabkan infeksi nasofaring, kesulitan bernapas hingga kematian. Selain itu, penyakit menular ini juga bisa mengakibatkan komplikasi serius.

Salah satu tindakan untuk mencegah difteri adalah dengan pemberian vaksin. Vaksin difteri adalah salah satu vaksinasi yang wajib diberikan kepada balita, mengingat penyakit ini sering menyerang anak-anak usia dini dan sudah makan banyak korban. Meski dengan pengobatan, diteliti bahwa 1 dari 10 penderita difteri akan meninggal dunia.

Difteri sangat mudah menular

Penyakit ini tergolong sangat cepat menular lewat percikan lendir pernapasan (droplet). Oleh sebab itu, orang-orang yang tidak memiliki imunitas terhadap difteri bisa dengan mudahnya tertular.

Gejala yang umumnya timbul adalah:

  • Nyeri menelan
  • Suara serak
  • Demam, menggigil
  • Sesak nafas
  • Bengkak pada kelenjar getah bening leher
  • Tubuh lemah, tidak nafsu makan
1 dari 2 halaman

Alasan mengapa difteri bisa mengancam nyawa

Sekilas, gejala-gejala di atas bisa dikira infeksi saluran pernapasan biasa. Sayangnya, difteri tidak sesepele itu. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa difteri bisa memberat hingga bisa mematikan.

  1. Rentan terjadi kesulitan bernapas

Pada difteri, bisa muncul lapisan tebal berwarna putih abu-abu yang menutupi dinding belakang tenggorokan. Bila terlepas, lapisan tersebut dapat menutup saluran pernapasan. Jika ini sampai terjadi, penderitanya tak bisa bernapas dan bisa dengan cepat berakhir pada kematian.

Selain itu, gagal napas pada penderita juga bisa terjadi akibat perluasan infeksi pada organ paru. Kondisi ini menyebabkan peradangan luas di paru-paru, sehingga fungsi pernapasan tak bisa berjalan sebagaimana mestinya.

  1. Mengakibatkan kerusakan otot jantung (miokarditis)

Toksin atau racun yang diproduksi oleh bakteri Corynebacterium diphteriae dapat menyebabkan peradangan pada otot jantung. Akibatnya, sistem pompa jantung terganggu, yang pada akhirnya membuat detak jantung menjadi tak beraturan.

Tak hanya itu, bisa pula terjadi blok impuls listrik pada jantung akibat peradangan tersebut, sehingga menyebabkan penderita membutuhkan pacu jantung. Pacu jantung ini membantu agar denyut jantung bisa normal kembali.

Pada keadaan yang sangat berat, otot jantung bisa menjadi begitu lemah, sehingga tak mampu memompa darah ke seluruh tubuh. Kondisi ini memungkinkan terjadinya gagal jantung.

  1. Gangguan saraf tubuh

Beberapa minggu setelah munculnya gejala awal difteri, komplikasi pada sistem saraf bisa terjadi. Salah satu kelumpuhan yang dialami adalah pada otot diafragma. Gerakan diafragma ini sangat penting untuk memperluas rongga dada. Dengan rongga dada yang lebih luas, maka paru dapat mengembang dengan sempurna. Nah, jika penderita mengalami kelumpuhan otot diafragma ini, paru-paru jadi tidak bisa mengembang dengan sempurna. Maka, terjadilah gejala sesak napas.

Gangguan sistem saraf masih tetap berisiko terjadi sekalipun penderita telah pulih dari gejala awal difteri. Itulah kenapa pasien anak-anak sering direkomendasikan untuk tetap menjalani perawatan di rumah sakit meski kondisinya sudah terlihat membaik.

  1. Gangguan ginjal

Gangguan ginjal umum terjadi pada bentuk difteri yang berat (disebut sebagai difteri maligna atau difteri gravis. Akibat terjadi kerusakan ginjal, fungsi penyaringan darah oleh ginjal akan terganggu. Pada akhirnya, penderita bisa mengalami gagal ginjal karena terjadi penumpukan zat-zat limbah yang normalnya harus dikeluarkan lewat urine. Gagal ginjal yang tidak tertangani dengan cepat dapat berakibat fatal karena bisa mengganggu kerja otak.

Itulah berbagai alasan mengapa difteri bisa mengancam nyawa penderitanya. Makanya, bentengilah diri Anda dan keluarga agar tak tertular penyakit tersebut. Cara efektifnya adalah dengan vaksin. Agar lebih optimal, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat juga tak kalah penting.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar