Sukses

IDI Hadapi Tantangan Besar dalam Menyehatkan Bangsa Indonesia

Perjuangan IDI dalam menyehatkan bangsa Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Bagaimana IDI menaklukkan beragam tantangan ini?

Klikdokter.com, Jakarta Ikatan Dokter Indonesia  atau IDI senantiasa menjadi mitra pemerintah dalam upaya menyehatkan bangsa, meningkatkan angka harapan hidup dan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Hal ini kembali diungkapkan melalui momentum Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-111 yang perayaannya digelar pada Senin (20/5) lalu di Sekretariat Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Menteng Jakarta Pusat.

Indonesia tengah mengalami perubahan pola penyakit, yang sering disebut transisi epidemiologi. Kondisi ini ditandai dengan adanya beban ganda masalah gizi dan meningkatnya angka kesakitan maupun kematian akibat penyakit tidak menular (PTM), seperti stroke, jantung, diabetes dan lainnya.

Sebagai wujud komitmen terhadap permasalahan tersebut, program dan kegiatan pengabdian IDI lebih diarahkan pada penanggulangan masalah stunting, penyakit tidak menular dan kesadaran hidup bersih.

Memberikan yang terbaik pada bangsa kita yang sedang didera permasalahan stunting gizi buruk dan penyakit tidak menular (PTM) yang sekarang angkanya tinggi adalah fokus arah dan tujuan dari Hari Bakti Dokter Indonesia ke-111,” ungkap Ketua Umum PB IDI, Dr. Daeng M Faqih, SH.MH.

Peran IDI dalam memerangi stunting

Perlu Anda ketahui, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa 30,8% atau sekitar 7 juta balita di Indonesia mengalami stunting. Menurut dr. Daeng, ini adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis yang utamanya dialami pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Seorang anak yang stunting sangat mungkin mengalami gangguan dalam proses tumbuh kembangnya.

 “Penanggulangan masalah stunting di Indonesia baru 38%. Masalah penyakit tidak menular seperti jantung, diabetes, obesitas meningkat. Ini menjadi tanggung jawab semua elemen masyarakat, termasuk petugas medis dan pemerintah,” tutur dr. Daeng

Namun memang, menurunkan kejadian stunting dan risiko penyakit katastropik akibat gaya hidup tidak sehat bukanlah perkara mudah. Sebab perbaikan lingkungan dan perubahan perilaku ke arah yang lebih sehat masih belum dilakukan secara sistematis dan terencana oleh semua komponen bangsa.

Untuk penyakit tidak menular, angka kejadian kondisi ini masih terus mengalami peningkatan, khususnya penyakit katastropik seperti obesitas, stroke, jantung dan diabetes yang menjadi beban berat bagi pelayanan kesehatan saat ini. Keadaan ini terjadi akibat kurangnya kesadaran masyarakat tentang penerapan gaya hidup sehat, pola makan bergizi seimbang dan aktivitas fisik. Termasuk juga stres dan kebiasaan merokok yang masih menjadi hal lumrah di masyarakat.

Dokter untuk bangsa

Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) dalam peringatannya selalu dikaitkan dengan upaya mempertegas gerakan Dokter untuk Bangsa. Gerakan ini bertujuan untuk menghimpun seluruh potensi dokter dan segenap rakyat Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan bangsa.

“Pembangunan kesehatan di Indonesia tidak lepas dari peran sentral dokter. Karena dokter adalah intelektual yang berhadapan langsung atau berada di tengah masyarakat dengan bekal nilai profesi yang menjadi kompas dalam segala tindakannya,” kata dr. Daeng

Menurutnya, semakin kompleks tantangan dan masalah yang dihadapi menuntut IDI dan segenap dokter Indonesia sebagai ‘leading profession’ dan motor penggerak perubahan. Pemerintah adalah leading sector pembangunan yang perlu didukung oleh seluruh sektor dan aktor pembangunan di masyarakat.

Usaha IDI dalam menyehatkan bangsa akan bisa terwujud jika masyarakat juga turut memperbaiki diri dan gaya hidup ke arah yang lebih sehat lagi. Masyarakat juga perlu membantu perjuangan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan selalu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang, beraktivitas fisik, tidak merokok, memeriksa kesehatan secara rutin, serta menjaga kebersihan diri, keluarga maupun lingkungan.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar