Sukses

Kenali 4 Faktor Risiko Tindakan Anarkis yang Terjadi Saat Demo

Tindakan anarkis yang terjadi saat demo dapat dipicu oleh berbagai faktor. Mari kenali apa saja faktor risiko tersebut.

Klikdokter.com, Jakarta Tindakan anarkis sering muncul saat demo ketika salah satu pihak merasa tidak puas terhadap situasi yang sedang terjadi. Unjuk rasa memang hak warga negara dalam menyampaikan pendapat. Namun, jika aksi menyuarakan pendapat itu diwarnai tindakan anarkistis, tentu akan mengancam keselamatan warga masyarakat. Aksi pembakaran asrama Brimob oleh sejumlah oknum, Rabu (22/5) dini hari tadi adalah salah satu contohnya.

Selain perbuatan tersebut, Anda mungkin pernah melihat beberapa tindakan kekerasan lain saat unjuk rasa, baik secara langsung atau melalui berbagai media. Seperti perusakan fasilitas umum, pelemparan batu, sampai pemukulan terhadap aparat. Apa yang menyebabkan seseorang mudah melakukan tindakan anarkis saat berdemonstrasi?

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan seorang lebih mudah melakukan tindakan anarkistis selama demonstrasi. Tindak kekerasan dapat timbul sebagai hasil dari berbagai kombinasi faktor, seperti faktor biologis, psikodinamik, dan sosial. Berikut ulasannya.

  1. Faktor genetik

Tindak kekerasan merupakan kejadian yang disebabkan oleh banyak faktor. Riwayat keluarga yang penuh kekerasan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan. Sampai saat ini, belum ditemukan gen spesifik yang mengkode perilaku kekerasan.

Karena itu, kekerasan kemungkinan merupakan fenomena poligenetik, dengan banyak gen yang bertindak secara terkoordinasi untuk menghasilkan fenotipe yang agresif. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa adanya riwayat keluarga dengan tindakan agresif dapat berpengaruh pada perilaku anak kelak.

Penelitian pada anak kembar menunjukkan bahwa anak pada kelompok kembar monozigot (dari satu sel awal yang sama) memiliki tingkat perilaku kekerasan yang lebih mirip, dibandingkan dengan kembar yang berasal dari zigot yang berbeda.

  1. Faktor psikososial

Faktor psikososial berperan penting dalam tindakan agresif seseorang. Interaksi antara faktor biologis dan lingkungan dapat bertanggung jawab atas kekerasan dan agresi. Karena itu, dokter perlu memberikan perhatian yang cermat pada faktor-faktor psikososial yang turut menyebabkan perkembangan perilaku kekerasan.

Salah satu teori yang berkembang untuk menjelaskan terjadinya perilaku kekerasan adalah social learning theory atau teori pembelajaran sosial. Teori pembelajaran sosial menyatakan bahwa perilaku kekerasan adalah hasil dari pengalaman masa lalu, yang melibatkan pengaruh lingkungan dan adanya imbalan. 

Selain itu, maraknya peredaran gambar kekerasan di media mungkin membuat orang menjadi kurang peka terhadap kekerasan (desensitisasi). Beberapa faktor di lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku kekerasan adalah tunawisma serta menyaksikan atau mengalami kekerasan.

  1. Penggunaan alkohol dan obat terlarang

Penggunaan zat terlarang telah terbukti meningkatkan risiko perilaku kekerasan. Berdasarkan satu penelitian, pasien yang menggunakan alkohol atau narkoba memiliki lebih banyak jumlah penahanan selama hidupnya dibandingkan pasien dengan skizofrenia, gangguan kepribadian, atau gangguan afektif. 

Selain itu, kombinasi alkoholisme dan gangguan kepribadian antisosial meningkatkan kemungkinan wanita melakukan pembunuhan 40-50 kali lipat. Adapun pada diagnosis skizofrenia hanya meningkatkan risiko 5-6 kali lipat.

  1. Adanya gangguan psikiatri

Terdapat beberapa gangguan psikiatri yang dapat menyebabkan tindakan kekerasan. Gangguan kejiwaan yang terkait dengan kekerasan sangat bervariasi, seperti gangguan psikotik, gangguan afektif, dan stres pasca trauma. Pada pasien psikotik, halusinasi yang dialaminya dapat mencetuskan perilaku yang agresif.

Perilaku kekerasan perlu mendapatkan perhatian ketika tindakan ini sering dilakukan dan sulit dikontrol. Pelaku tindakan anarkis selama demo atau unjuk rasa memerlukan pemeriksaan lebih mendalam karena melibatkan tindak kekerasan dalam kelompok. Perilaku ini belum tentu muncul jika oknum berada pada situasi sendiri. Apapun penyebabnya, jauhi tindak kekerasan dan hidup damai untuk kemajuan bangsa.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar