Sukses

Bagaimana Tidur dan Mood Memengaruhi Memori Kerja Anda?

Kinerja otak dipengaruhi oleh berbagai hal. Apakah tidur dan mood juga memengaruhi otak Anda, dalam hal ini memori kerja?

Klikdokter.com, Jakarta Kesehatan otak, dalam hal ini memori kerja, harus dalam keadaan terbaik supaya segala aktivitas berjalan sesuai dengan rencana. Untuk ini, Anda dituntut untuk memiliki waktu tidur yang cukup dan mood yang baik, karena keduanya disebut memiliki hubungan yang erat dengan kemampuan otak terkait memori kerja.

Apa itu memori kerja? Ini adalah memori jangka pendek yang digunakan setiap hari saat menjelajah dunia, menilai situasi, menggunakan bahasa, dan membuat keputusan. Seiring bertambahnya usia, kemampuan otak terkait memori kerja akan semakin menurun.

Lantas, bagaimana dengan waktu tidur dan mood? Apakah kedua hal tersebut memberikan pengaruh yang singifikan terhadap memori kerja?

Untuk menemukan jawaban tersebut, sebuah tim yang tergabung dari empat institusi, University of California, University of California, University of Michigan, dan National Institute of Neurological Disorders and Stroke, baru-baru ini melakukan dua studi. Tujuannya adalah untuk melihat faktor-faktor yang memengaruhi memori kerja manusia.

Tim peneliti mengonfirmasi bahwa studi baru ini melihat bagaimana berbagai macam faktor-faktor memengaruhi aspek kualitatif dan kuantitatif dari memori kerja. Hal ini merujuk pada kekuatan dan akurasi ingatan yang bekerja, dan seberapa besar ingatan yang terkait dengan kemampuan ini di otak.

"Peneliti lain telah mengaitkan masing-masing faktor secara terpisah dengan fungsi memori kerja secara keseluruhan. Tetapi penelitian kami melihat bagaimana faktor-faktor ini dikaitkan dengan kualitas dan kuantitas memori. Hal seperti ini adalah yang pertama kali dilakukan," kata ketua peneliti, Weiwei Zhang, Ph. D, seperti dikutip di Medical News Today.

"Ketiga faktor tersebut saling terkait. Misalnya, orang lanjut usia lebih cenderung mengalami suasana hati negatif daripada orang dewasa yang lebih muda. Kualitas tidur yang buruk juga sering dikaitkan dengan suasana hati yang tertekan," lanjutnya.

1 dari 2 halaman

Berdampak pada kualitas dan kuantitas

Setelah melihat studi yang menganalisis faktor-faktor yang terlibat secara terpisah, para peneliti ingin mencari tahu apakah ada ketertaitan antara kurang tidur dan pengaruh mood yang turut mengganggu memori kerja.

Penelitian saat ini termasuk ke dalam dua studi terpisah dengan temuan yang saling melengkapi. Untuk penelitian pertama, para peneliti merekrut 110 mahasiswa yang diminta untuk memberikan laporan mengenai kualitas tidur dan pengalaman dengan suasana hati yang tertekan. Kemudian, tim peneliti menilai bagaimana hal-hal tersebut terkait dengan fungsi memori kerja para peserta.

Dalam studi kedua, para peneliti memperluas penilaian mereka pada orang-orang dari berbagai usia. Tim peneliti merekrut 31 peserta dari komunitas lokal dengan rentang usia antara 21–77 tahun.

Setelah dikumpulkan dan diteliti, hasilnya menyebut bahwa usia berbanding terbalik dengan memori kerja kualitatif. Dengan kata lain, semakin Anda bertambah usia, fungsi memori kerja menjadi semakin tidak akurat.

Pada saat yang sama, tim peneliti juga menemukan bahwa suasana hati yang tertekan dan kualitas tidur yang tidak teratur berhubungan erat dengan memori kerja kuantitatif yang lebih buruk. Artinya, kemungkinan untuk menyimpan ingatan jangka pendek menjadi semakin kecil jika Anda memiliki waktu tidur yang sedikit dan suasana hati yang cenderung negatif.

Kualitas tidur pengaruhi memori kerja

Akhirnya, tim peneliti berhipotesis bahwa kualitas tidur, suasana hati, dan usia berkontribusi terhadap penurunan memori kerja. Analisis statistik yang dilakukan menunjukkan bahwa setiap faktor yang terlibat berdiri secara independen. Ini mungkin terkait dengan pengaruh dan mekanisme yang berbeda-beda.

"Agar pikiran dapat bekerja sebaik-baiknya, penting bagi orang lanjut usia untuk memastikan bahwa mereka memiliki kualitas tidur yang baik dan berada dalam suasana hati yang positif," ungkap Weiwei Zhang, Ph.D.

Penelitian di atas rupanya sejalan dengan apa yang diungkapkan dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter. Beliau mengatakan bahwa cukup tidur adalah cara paling baik untuk menjaga kesehatan otak.

"Cukup tidur bisa meningkatkan daya ingat, mengurangi risiko Alzheimer dan membuat otak lebih kreatif," ujar dr. Vita.

Cukup tidur membuat perputaran informasi di dalam sel otak berlangsung dengan lebih optimal. Ini berarti, untuk memiliki daya ingat yang baik, Anda perlu tidur dengan waktu yang cukup dan berkualitas. Dan, dengan diiringi oleh balutan mood positif setiap waktu, fungsi memori kerja dan kesehatan otak secara keseluruhan akan terjaga optimal.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar