Sukses

Peran Ayah dalam Mengajarkan Anak Puasa Pertama

Proses belajar anak untuk puasa tidak terlepas dari peran serta ayah. Apa saja yang harus Anda perhatikan?

Klikdokter.com, Jakarta Anak yang belum memasuki masa puber memang tidak diwajibkan puasa. Namun nyatanya, tak sedikit anak yang justru bersemangat mencari tahu bahkan ikut berpuasa. Di sinilah orang tua bertugas mengenalkan puasa pada anak. Pengenalan ini tentu tak lepas dari peran seorang ayah.

Peran ayah dalam mengajarkan anak berpuasa sangat penting. Pengenalan dan dorongan yang baik dari ayah akan mampu menginspirasi buah hatinya. Dengan pengenalan yang tepat pula, penerimaan dan pemahaman anak akan puasa akan baik. Bahkan, anak dapat termotivasi untuk berpuasa.

Nah, beberapa cara di bawah ini dapat para ayah terapkan:

  1. Hindari paksaan dalam berpuasa

Hal pertama yang harus diingat ketika mengajak anak berpuasa adalah tidak boleh ada paksaan. Ingat, sebelum menginjak puber atau sekitar usia 14 tahun, anak tidak diwajibkan berpuasa. Apa yang akan coba Anda perkenalkan pada anak adalah pembelajaran puasa.

Walau tidak ada patokan usia pasti, anak dapat mulai diajak melakukan puasa pertamanya ketika sudah cukup memahami nilai berpuasa, sekitar 6-10 tahun. Atau, saat anak sedang dalam kondisi benar-benar sehat serta bersedia atas keinginan sendiri ikut serta berpuasa.

  1. Beri contoh positif ketika berpuasa

Agar anak tahu betul bagaimana tata cara berpuasa, seorang ayah harus terlebih dahulu memberi contoh langsung dengan perilakunya sendiri.

Beri pemahaman tentang nilai-nilai berpuasa, mulai dari rentang waktu tidak boleh makan-minum, menahan diri dari emosi, hingga amalan ibadah lain yang dapat dilakukan selama menjalankan ibadah puasa.

Ingat, anak cenderung sangat tertarik dengan kegiatan orang dewasa yang dilakukan di sekitarnya. Jadi jika ingin anak menikmati waktu puasanya, berikan dulu contoh baik yang dapat ia jadikan panutan untuk bekal puasa pertamanya.

  1. Ajarkan puasa secara bertahap

Walaupun anak terlihat semangat dalam berpuasa, ingatkan dia untuk melakukan puasa secara bertahap. Hal ini juga dilakukan untuk turut membiasakan tubuh anak beradaptasi terhadap perubahan pola makan yang dilakukan selama berpuasa.

Berbeda dengan orang dewasa yang bisa mengukur aktivitas selama puasa, anak akan lebih mengikuti instingnya untuk terus bergerak dan bermain. Bukan tidak mungkin anak menjadi lemas dan pada akhirnya akan merugikan kesehatannya.

Agar kekhawatiran ini tidak terjadi, minta anak untuk berpuasa secara bertahap. Pada awalnya anak bisa berpuasa selama 2 jam lamanya. Perlahan, durasi ini bisa diperpanjang sesuai dengan kemampuan puasa sang anak.

  1. Sahur dan buka bersama

Ayah, usahakanlah hadir dalam dua waktu penting berpuasa: sahur dan buka. Bangunkan anak ketika waktu sahur tiba dan dampingi juga dia saat buka puasa. Walau anak belum kuat untuk tidak makan dan minum sampai magrib tiba, tetap hitung porsi untuknya ketika ayah atau ibu menyiapkan menu berbuka.

Tidak hanya membiasakan anak dengan pola makan saat puasa, kehangatan dalam dua waktu makan utama ini akan membuatnya nyaman dan semakin semangat berpuasa.

  1. Awasi selalu kesehatan dan kesanggupan anak dalam berpuasa

Hal penting lain yang wajib dilakukan ayah ketika mendampingi anak berpuasa adalah ‘pasang mata’. Sebisa mungkin, awasi kesanggupan anak dalam menjalankan ibadahnya.

Bila anak sudah terlihat sangat lemas, mengeluh pusing, keringat dingin, sakit perut, atau kehilangan konsentrasi, sebaiknya segera minta dia mengakhiri puasanya. Berikan anak minuman yang rasanya manis dan segar seperti jus buah agar segera dapat mengisi kekosongan energinya.

Seorang ayah akan selalu menjadi idola di mata anaknya, termasuk untuk urusan puasa. Berikan contoh terpuji dan kenalkan anak pada kemuliaan puasa dengan cara yang positif. Perlahan, anak akan terbiasa dan pada akhirnya tidak berat lagi ketika sudah memiliki kewajiban penuh dalam berpuasa.

[HNS/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar