Sukses

Angin Duduk, Penyakit Apa Itu?

Sering dikira sekadar masuk angin, padahal angin duduk lebih dari itu. Sebetulnya, penyakit apa ini?

Klikdokter.com, Jakarta Tak sedikit orang yang menganggap angin duduk serupa dengan masuk angin yang bisa dirasakan semua orang. Ini merupakan anggapan yang salah. Angin duduk, atau istilah medisnya angina pektoris, berhubungan dengan jantung. Sebetulnya penyakit apa itu?

Angina pektoris adalah rasa nyeri di dada yang diakibatkan oleh sel otot jantung yang kurang mendapatkan aliran darah yang membawa oksigen. Aliran darah ke sel otot jantung ini dapat terganggu akibat adanya penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah koroner yang mengalirkan darah ke sel otot otot jantung tersebut.

Gejala angina pektoris

Gejala yang biasanya terjadi saat seseorang mengalami angina pektoris adalah nyeri dada. Kondisi nyeri ini bisa menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, dan punggung.

Nyeri dada ini bisa bersifat khas, bisa pula tidak. Nyeri dada yang khas berupa nyeri yang tidak dapat ditunjuk dengan satu jari dan tidak nyaman.

Selain itu, nyeri dada juga berlangsung lama, yaitu lebih dari 20 menit. Gejala juga bisa disertai dengan sesak napas, kelelahan, mual, pusing, gelisah, keringat berlebihan, bahkan hingga pingsan.

Faktor risiko angina pektoris

Berbagai risiko yang dapat menyebabkan seseorang bisa terkena angina pektoris meliputi:

  • Hiperlipidemia (kolesterol tinggi)
  • Diabetes
  • Tekanan darah tinggi
  • Stres berlebih
  • Kegemukan atau obesitas
  • Riwayat penyakit jantung di keluarga
  • Usia di atas 45 tahun bagi pria dan di atas 55 tahun bagi wanita (saat menopause)
1 dari 3 halaman

Tiga jenis angina pektoris

Untuk lebih mewaspadai nyeri dada akibat angina pektoris ini, Anda perlu mengenali lebih jauh jenis-jenisnya. 

  1. Angina pektoris stabil

Pemicu terjadinya angina pektoris stabil adalah stres yang berlebihan, aktivitas fisik yang intens (misalnya olahraga), makan terlalu banyak, udara dingin, ataupun kebiasaan merokok.

Pada kondisi ini diperlukan pasokan aliran darah yang membawa aliran darah yang membawa oksigen ke sel otot jantung yang lebih banyak. Akan tetapi, karena pembuluh darah koroner mengalami penyempitan atau adanya sumbatan, maka kebutuhan tersebut tidak tercukupi.

  1. Angina pektoris tidak stabil

Pada angina pektoris tidak stabil, pemicunya adalah timbunan lemak ataupun bekuan darah yang menghalangi aliran darah menuju ke jantung. Nyeri dada yang terjadi akibat angina pektoris jenis akan tetap ada meskipun penderita sudah beristirahat dan minum obat.

  1. Angina Prinzmetal

Jenis ketiga adalah angina Prinzmetal, yaitu pembuluh koroner jantung mengalami penyempitan sementara akibat spasme atau kekakuan dari pembuluh darahnya. Nyeri dada dapat terjadi kapan saja, bahkan saat penderita sedang beristirahat.

2 dari 3 halaman

Diagnosis angin duduk

Untuk mengetahui jenis angin duduk yang dialami, maka dokter akan melakukan evaluasi lewat wawancara medis seputar gejala yang dirasakan, pencetus, durasi, dan lain-lain.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lainnya. Bisa berupa elektrokardiogram atau rekam jantung, rontgen dada (X-ray), ekokardiografi, tes ketahanan jantung, pemeriksaan enzim jantung, skintigrafi jantung, angiografi pembuluh darah koroner, dan CT scan jantung.

Pengobatannya sendiri bergantung pada ringan atau beratnya gejala yang dirasakan serta hasil pemeriksaan. Angina pektoris stabil yang gejalanya ringan hingga menengah dapat ditangani dengan melakukan pola hidup sehat. Mulai dari pola makan rendah lemak, rajin berolahraga, mempertahankan berat badan ideal, tidak merokok, tidak minum alkohol, dan istirahat cukup. 

Dokter juga dapat memberikan obat-obatan sesuai dengan kelainan yang terjadi. Selain itu, ada juga kemungkinan diperlukan tindakan yang lebih invasif seperti pemasangan stent (cincin) ataupun operasi bypass koroner.

Dari penjelasan di atas, jangan lagi menganggap angin duduk seperti masuk angin, ya. Angin duduk adalah peringatan penting bahwa jantung Anda tidak mendapatkan cukup darah. Jika merasakan gejala-gejala yang disebutkan di atas, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar