Sukses

Penting! Ini Aturan Vaksin Difteri untuk Anak

Pemberian vaksin difteri sangat penting untuk mencegah si Kecil terkena penyakit mematikan ini. Ketahui aturan vaksin difteri untuknya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Vaksin difteri sangat penting untuk mencegah anak terkena penyakit infeksi yang menyerang saluran napas ini. Gejala awal difteri biasanya berupa nyeri menelan, sehingga sering dianggap infeksi ringan. Namun, pada kondisi lebih berat, terbentuk lapisan putih tebal di belakang tenggorokan yang bisa sebabkan sesak napas hingga kematian. Berikut ini adalah aturan vaksin difteri untuk anak.

Karena bisa menyebabkan hilang nyawa, difteri tidak boleh diremehkan. Kabar baiknya, dengan pemberian vaksin sesuai aturan, si Kecil dapat terhindar dari penyakit akibat bakteri Corynebacterium diphteriae ini.

Mengapa difteri harus diwaspadai

Seperti yang sudah disebut sebelumnya, salah satu gejala awal difteri adalah nyeri saat menelan. Gejala lainnya yang juga umum dirasakan penderita adalah:

  • Suara serak, bahkan berbunyi seperti mengorok
  • Demam dan menggigil
  • Bengkak pada kelenjar getah bening di leher
  • Tubuh lemah, tidak nafsu makan
  • Sesak napas
  • Muncul lapisan tebal berwarna putih abu-abu yang menutupi dinding belakang tenggorokan. Gejala yang paling ditakutkan ini dapat menutup saluran pernapasan, menyebabkan penderita tidak dapat bernapas.

Kebanyakan kasus difteri terlambat diketahui dan sudah memasuki tahap yang lanjut. Pada tahap ini, racun dari bakteri dapat menyebabkan kerusakan jantung, ginjal, dan sistem saraf.

Beberapa komplikasi yang diakibatkan penyakit yang sempat mewabah di Indonesia tahun 2017 ini adalah kelumpuhan, pneumonia (infeksi paru berat), dan kegagalan pernapasan. Difteri juga bisa mematikan, terutama untuk kelompok usia yang rentan. Dilaporkan 1 dari 5 anak-anak dan orang dewasa yang tertular penyakit ini akan kehilangan nyawa.

1 dari 2 halaman

Pentingnya vaksin difteri

Difteri adalah penyakit yang sangat mudah menular lewat percikan lendir pernapasan (droplet). Oleh sebab itu, mereka yang tidak imunitas terhadap difteri bisa dengan mudahnya tertular.

Satu-satunya cara efektif agar terhindar dari penularan penyakit berat ini adalah dengan vaksin difteri. Vaksin ini sudah terbukti aman dan efektif dalam mencegah penularan penyakit difteri.

Sebagai kilas balik, pada tahun 1920 Amerika Serikat menghadapi kasus difteri hingga 200 ribu kasus tiap tahunnya. Berkat vaksin difteri yang digunakan secara luas, angka kasus penyakit ini menurun hingga 99 persen!

Jenis vaksin difteri

Secara umum, ada beberapa jenis vaksin difteri yang dibedakan lewat cara penulisan nama vaksinnya.

  • Vaksin DTap atau umum dikenal dengan sebutan DTP atau DPT saja. Vaksin ini bertujuan untuk melindungi anak-anak usia balita dari diferi, tetanus, dan pertusis (batuk rejan).
  • Vaksin Tdap. Vaksin ini umumnya digunakan sebagai booster atau penguat imunitas. Cakupan usianya bisa digunakan hingga usia remaja awal hingga dewasa. Perlindungan yang diberikan juga terhadap tetanus, difteria, dan pertusis.
  • Vaksin Td, yang juga umum digunakan sebagai booster. Sasaran usianya adalah remaja muda hingga dewasa. Vaksin ini memberi perlindungan dari tetanus dan difteri.
  • Vaksin DT, yang targetnya adalah melindungi anak-anak dari difteri dan tetanus.

Tidak ada alasan untuk menolak vaksin difteri karena sudah terbukti aman dan efektif untuk mencegah penularan difteri. Apalagi, vaksin yang digunakan pada program imunisasi nasional dibuat oleh perusahan dalam negeri, yaitu Bio Farma.

Jadwal pemberian vaksin difteri

Berikut adalah jadwal pemberian vaksin difteri pada anak berdasarkan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2017:

  • Vaksin DTP awal pada usia 2, 3, dan 4 bulan (bisa dalam bentuk kombinasi dengan vaksin lain)
  • Booster pada usia 18 bulan, 5 tahun
  • Booster menggunakan vaksin Td atau Tdap pada usia 10-12 tahun, dan 18 tahun

Vaksin difteri hanya mengandung komponen bakteri penyebab difteri yang cukup untuk menciptakan kekebalan. Dengan kata lain, jenis vaksin difteri adalah “vaksin mati” karena bukan jenis vaksin yang mengandung kuman hidup yang dilemahkan.

Oleh karena itu dibutuhkan booster atau ulangan untuk mempertahankan agar kadar antibodinya tetap tinggi di dalam tubuh. Booster menggunakan vaksin Td bisa diberikan setiap 10 tahun untuk menjaga kekebalan.

Sejatinya, vaksin difteri paling baik diberikan saat kondisi tubuh sehat. Bila calon penerima sedang mengalami infeksi ringan, maka vaksin tetap diperbolehkan sesuai rekomendasi dokter. Namun, bila calon penerima punya alergi berat terhadap bahan-bahan dalam vaksin, maka vaksin difteri tidak boleh diberikan.

Efek samping mungkin terjadi pasca vaksinasi. Yang sering dilaporkan adalah demam, kemerahan, bengkak, dan nyeri di area penyuntikan.

Komplikasi yang serius akibat vaksin DTP angkanya sangat kecil. Namun, jangan sampai hal ini mengurungkan niat Anda untuk memberikan anak vaksin, karena komplikasi yang bisa terjadi – jika tidak mendapatkan vaksin – jauh lebih membahayakan.

Itulah penjelasan lengkap mengenai aturan penting vaksin difteri untuk anak. Kesimpulannya, vaksin difteri merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan penyakit mematikan tersebut. Vaksin difteri juga adalah salah satu bentuk kepedulian Anda terhadap kesehatan buah hati, mengingat usia kanak-kanak adalah rentang usia yang paling mudah terkena komplikasi dari penyakit difteri, terutama kematian.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar