Sukses

Selfitis, Tanda Terobsesi akan Selfie?

Ber-selfie setiap saat bisa jadi pertanda Anda alami selfitis. Apakah Anda mengalami gejala ini?

Klikdokter.com, Jakarta Baru saja potong rambut, selfie. Sedang berolahraga di pusat kebugaran, selfie. Bermacet-macetan di jalan, selfie. Sebagian orang mungkin menganggap selfie atau swafoto yang berarti mengambil foto diri sendiri adalah ajang narsistik seseorang. Tapi hati-hati, terlalu terobsesi pada selfie bisa jadi merupakan tanda seseorang mengalami selfitis.

Namun, banyak juga orang berpendapat jika selfie bertujuan untuk mengabadikan suatu momen dan tidak ada salahnya dilakukan. Bahkan untuk mendapatkan hasil selfie yang sempurna, tak sedikit orang yang sampai rela merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli ponsel atau kamera canggih.

Apa itu selfitis?

Seperti dilansir oleh the American Psychiatric Association, selfitis merupakan kondisi di mana seseorang terobsesi untuk mengambil foto dan mengunggahnya ke media sosial untuk mencari perhatian dan biasanya merupakan kompensasi dari tingkat kepercayaan diri yang rendah dan kurangnya intimasi sosial dengan orang lain. Meski begitu, selfitis belum digolongkan sebagai gangguan mental.

Para peneliti di Nottingham Trent University di Inggris dan Thiagarajar School of Management di India telah membuat penelitian mengenai kondisi selfitis dan tingkat keparahannya. Dari penelitian tersebut diidentifikasi 6 faktor yang biasanya menyebabkan kondisi selfitis, yaitu:

  • Kompetisi sosial
  • Mencari perhatian
  • Mengabadikan momen,
  • Membuat mood seseorang menjadi lebih baik
  • Tingkat kepercayaan diri
  • Kontak sosial

Studi lain yang dipublikasikan di buku Psychology of well-being menyebutkan bahwa obsesi seseorang akan selfie bertujuan untuk "membahagiakan" diri sendiri. Penelitian tersebut dilakukan pada kelompok mahasiswa yang diminta untuk melakukan selfie dan mengambil foto dengan ponselnya.

Responden diminta untuk mengambil 1 dari 3 jenis foto setiap hari, yaitu selfie saat tersenyum, memotret benda yang membuat mereka bahagia, atau memotret benda yang bisa membuat orang lain bahagia.

Hasilnya setelah 3 minggu, responden yang melakukan selfie menjadi lebih percaya diri dan lebih kreatif dengan senyumnya. Sehingga dari studi tersebut dapat disimpulkan bahwa selfie sering kali menjadi ajang untuk meningkatkan kepercayaan diri seseorang.

Penelitian lain yang dipublikasikan di the International Journal of Mental Health and Addiction menyebutkan bahwa sama halnya seperti berjudi, mengonsumsi alkohol, dan seks – yang bisa membuat seseorang ketergantungan – mengambil dan mengunggah foto selfie pun bisa berpotensi sama.

Responden dalam penelitian itu menyebutkan bahwa dengan melakukan selfie, mereka merasa tingkat kepercayaan diri meningkat, dapat menampilkan citra terbaik diri, dan sebagai ajang eksistensi diri. Namun, para peneliti menyebutkan bahwa perilaku tersebut dapat berujung pada narsisisme, kurangnya empati dengan orang lain dan bisa memunculkan sifat egois.

Sementara menurut yang dilansir oleh California State University Los Angeles di Amerika Serikat, seseorang disebut mengalami selfitis ketika ia terobsesi mengambil foto selfie berkali-kali dalam sehari dan mengunggahnya ke semua media sosial yang dimilikinya.

Tanda lainnya adalah ketika hampir dari setengah album foto Anda berisi foto selife dan Anda menggunakan filter atau aplikasi edit foto tertentu agar tampilannya sempurna. Hal tersebut bisa jadi mengindikasikan kurangnya tingkat kepercayaan diri Anda atau ajang mencari perhatian orang lain akibat kurangnya dukungan sosial.

Bahkan studi terkini yang dilansir oleh jurnal JAMA Facial Plastic Surgery melaporkan bahwa tingkat operasi rekonstruksi wajah mengalami peningkatan dan salah satu alasannya adalah sebagian orang merasa tidak puas dengan tampilan wajahnya saat selfie.

Para dokter bedah plastik anggota dari the American Academy of Facial Plastic and Reconstructive Surgery menyebutkan bahwa 55 persen pasien mereka yang meminta tindakan operasi implan hidung (rhinoplasty) beralasan karena hidung mereka terlihat lebih besar saat selfie. Lalu, 13 persen dari responden survei pun menyebutkan bahwa tindakan operasi plastik yang mereka lakukan bertujuan agar tampilan selfie lebih sempurna.

Sebetulnya, selfie adalah hal yang sah-sah saja. Namun, ketika Anda mulai terobsesi dan melakukan selfie berkali-kali dalam sehari, maka waspadalah, bisa jadi Anda terkena selfitis. Cobalah letakkan ponsel Anda, introspeksi diri sendiri mengapa hal tersebut terjadi dan nikmati momen di sekitar ketimbang sibuk ber-selfie.

[MS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar