Sukses

Kenali dan Waspadai Penularan Herpes Genital

Herpes genital masih belum menjadi perhatian serius. Tapi, penting untuk mengenali dan mewaspadai penyakit ini.

Klikdokter.com, Jakarta Herpes genital masih kurang menjadi perhatian. Hal ini tak terlepas dari kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit tersebut.

Sampai saat ini, masih ada banyak mitos dan pengertian yang salah tentang herpes genital. Akibatnya masyarakat tidak mengetahui secara tepat apa sebenarnya penyakit ini, bagaimana penyebarannya, dan bagaimana mencegah serta mengobatinya.

Herpes genital memang jarang menyebabkan kematian tapi demikian penyakit ini bersifat kronis atau dapat bertahan selama bertahun-tahun atau seumur hidup. Penyakit ini menular melalui kontak seksual dan dapat mengenai pria maupun wanita.

Walaupun pengobatan dapat membantu meredakan penyakit ini, nyatanya jika sudah terkena maka virus akan tetap ada dalam tubuh sehingga penyakit ini tidak dapat diobati secara permanen. Oleh karena itu, kesadaran akan penyakit ini harus ditingkatkan sehingga masyarakat dapat tanggap terhadap penyakit ini, serta mengenali penyakit herpes genital secara tepat serta mewaspadai penularannya.

Hal inilah yang membuat Klinik Pramudia menggelar acara diskusi bertajuk "Tanggap Herpes Genital: Kenali penyakitnya, waspadai penularannya" pada Kamis (16/5) di Bebek Bengil, Thamrin, Jakarta Pusat. Klinik yang secara khusus bergerak dalam pengobatan penyakit kelamin itu menginginkan agar masyarakat mendapatkan edukasi benar soal herpes genital yang masih awam sekali.

1 dari 3 halaman

Mengenai penyakit herpes genital

Herpes genital adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Herpes simplex. Risiko kondisi ini bisa meningkat berlipat ganda apabila Anda hobi bergonta-ganti pasangan seksual.

“Herpes genital merupakan salah satu penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang diakibatkan oleh Herpes Simplex Virus (HSV) tipe 1 dan 2. Biasanya tipe 1 ditularkan melalui oral ke oral sedangkan tipe 2 melalui aktivitas seksual, tetapi dengan semakin berkembangnya bentuk aktivitas seksual maka terkadang ditemukan HSV tipe 1 di area genital," ujar Dr. dr. Wresti Indriatmi, SpKK(K), M.Epid yang hadir dalam diskusi tersebut.

Dokter Wresti menjelaskan bahwa perjalanan penyakit atau jenis herpes genital dimulai dengan lesi inisial primer, yaitu saat pertama kali terkena herpes genital, tubuh akan langsung menunjukkan gejalanya seperti sariawan, sakit dan dapat bernanah.

Selanjutnya, lesi inisial non-primer yaitu saat pertama kali virus masuk. Pada fase ini tubuh sudah terlebih dahulu membentuk antibodi sehingga virus tidak langsung terlihat atau menunjukkan gejala. Lalu ada juga episode kambuhan, yaitu pada saat virus yang sudah ada dalam tubuh dan menunjukkan gejalanya saat antibodi menurun.

“Biasanya yang terkena herpes genital, seperti di RSCM, masih usia dewasa muda (20-40 tahun). Usia termuda pasien herpes genital di RSCM yaitu 16 tahun dan untuk tertua usia 64 tahun. Dari 2016-2018, 60 persennya adalah kasus herpes atypic atau tidak menunjukkan gejala khas dan untuk mendeteksinya dibutuhkan pemeriksaan lab HSV dan PCR, 20 persen asymptomatik atau yang tidak langsung menunjukkan gejala dan 20 persen typical atau yang sudah parah,” kata dr. Wresti

Sementara, dr. Wresti mengungkapkan bahwa obat-obatan yang ada sekarang hanya untuk mengurangi kekambuhan penyakit ini karena sifat penyakit ini tidak bisa sembuh total. Herpes genital bersifat periodik, kemunculannya akan bergantung dari daya tahan tubuh pasien.

Bagi pasien dewasa, herpes genital tidak berbahaya ataupun menyebabkan kematian. Akan tetapi, bagi ibu hamil yang baru saja terkena virus HSV akan sangat berbahaya bagi bayinya

“Herpes genital bukan hanya menyerang fisik namun juga psikis, seperti menimbulkan rasa malu, tidak percaya diri bahkan dapat mempengaruhi hubungan antar pasangan. Masyarakat dapat melakukan pencegahan agar tidak terkena virus herpes, misalnya dengan tidak berganti-ganti pasangan seksual, dan menjaga kebersihan area genital. Dan jika sudah menemukan gejala atau tanda herpes seperti sariawan di area genital, segera konsultasi ke dokter untuk diobati," ungkap dr. Wresti.

2 dari 3 halaman

Pengobatan herpes genital

Terapi herpes genital seperti tertera pada Guidelines Centers of Disease Control dan Prevention (CDC) pada 2015 dapat dibagi menjadi beberapa kategori, berdasarkan waktu timbulnya penyakit, pada penderita HIV, ibu hamil serta bayi, serta terapi supresi pada penderita HSV yang sangat sering timbul. Terkait obat-obatan yang sering dipakai adalah Acyclovir, Valcyclovir, dan Famcyclovir.

"Pemeriksaan laboratorium diperlukan hanya sebagai konfirmasi pada diagnosis penyakit. Diagnosa utama adalah melalui penilaian secara klinis oleh seorang dokter spesialis kulit dan kelamin. Beberapa pemeriksaan Laboratorium yang dapat dilakukan, yaitu pemeriksaan antibody HSV1: Ig M dan IG G, pemeriksaan antibody HSV2: IgM dan IgG, PCR serta Kultur sel," ujar dr. Anthony Handoko, SpKK, FINSDV selalu CEO Klinik Pramudia.

Di Indonesia sendiri secara umum pemeriksaan yang lazim dapat dilakukan secara rutin adalah pemeriksaan antibodi HSV, tetapi biaya pemeriksaan ini cukup mahal.

Jangan lupakan juga episode kekambuhan dari penyakit ini. Menurut dr. Anthony, penyakit ini memiliki tingkat kekambuhan yang cukup tinggi.

“Tingkat kekambuhan penyakit ini tinggi dan itu dapat terjadi seumur hidup pasien sehingga dapat menimbulkan beban psikologis dan finansial yang tinggi pada penderitanya," jelas dr. Anthony.

Hal ini disebabkan karena setelah pasien tekena infeksi primer atau initial yang biasanya bersifat subklinis, maka virus dapat berdiam diri, dalam keadaan tidur di sel syaraf, tepatnya di ganglia dorsalis dalam jangka waktu yang lama, bahkan seumur hidup. Dan pada saat kondisi imunitas penderita sedang menurun, maka virus yang berifat dormant tersebut dapat aktif kembali sehingga menimbulkan episode rekurensi atau berulang.

Pada fase ini biasanya gejala klinis akan lebih berat dan nyata. Bila episode ini terjadi minimal 6 kali dalam setahun, maka penderita akan diberikan terapi supresi sebagai lanjutan sesudah terapi rekurensi selesai dijalani.

Di sisi lain, dr. Anthony menaruh perhatian khusus soal masih banyaknya mitos dan fakta yang berkembang di masyarakat tentang herpes genital. Ia sadar masih berseliweran mitos bahwa herpes genital tidak bisa sembuh, mematikan, menggunakan kondom akan menjamin 100% cegah penularan, dapat menular dengan pemakaian alat bersama, dan hanya terdapat pada selaput lendir.

"Untuk itu, kami menghimbau agar masyarakat tanggap terhadap herpes genital, dengan cara peduli dan mencari informasi yang benar tentang penyakit ini serta melakukan pencegahan dengan konsep ABC," ungkap dr. Anthony.

Metode ABC yang dimaksud adalah Abstinance (tidak melakukan kontak seksual selain dengan pasangan), Be faithful (hubungan monogami), dan Condom (selalu digunakan saat melakukan hubungan seksual).

"Masyarakat dianjurkan untuk mengenali gejalanya, segera konsultasi ke dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mendapatkan diagnosa dan pengobatan yang benar dan tepat serta patuh terhadap anjuran pengobatan,” tutupnya.

Ya, herpes genital memang belum menjadi perhatian utama masyarakat Indonesia. Hanya saja, Anda perlu mengenali penyakit ini dan mewaspadai penularannya.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar