Sukses

3 Bahaya Congekan Jika Tidak Diobati

Keluarnya cairan berbau dari telinga alias congek tak boleh diremehkan. Congekan bisa timbulkan tiga bahaya ini jika tidak diobati.

Klikdokter.com, Jakarta Tak boleh diremehkan, congekan bisa mendatangkan bahaya jika tidak diobati. Congek, atau bahasa medisnya disebut dengan otitis media supuratif kronis (OMSK), adalah peradangan kronis pada telinga bagian tengah yang disertai dengan pecahnya (perforasi) gendang telinga. Penderitanya akan mengalami keluarnya cairan berbau dari telinga secara terus-menerus atau hilang timbul.

Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), angka kejadian OMSK di dunia cukup banyak terjadi. Sebanyak 65-330 juta orang mengalami kondisi dan 39-200 juta di antaranya menderita komplikasi gangguan pendengaran.

Di negara-negara maju, prevalensi OMSK berkisar 1-46 persen, sedangkan di negara-negara berkembang jumlahnya bervariasi. Hal ini disebabkan oleh adanya beberapa faktor seperti sosioekonomi yang rendah, pemenuhan gizi yang kurang, maupun lingkungan tempat tinggal yang kurang terjaga kebersihannya.

Penyebab congekan

Secara garis besar, penyebab terjadinya congekan bermula dari seringnya seseorang mengalami peradangan berulang pada telinga bagian tengah. Biasanya, peradangan ini berasal dari infeksi hidung dan tenggorokan yang berulang maupun adanya riwayat alergi (rinitis).

Peradangan yang berulang akan menimbulkan masalah di sekitar telinga tengah, dan yang rentan mengalami masalah adalah gendang telinga. Gendang telinga dapat robek atau pecah. Padahal gendang telinga adalah selaput tipis dan berfungsi menyalurkan suara ke tulang-tulang pendengaran.

Pecahnya gendang telinga memiliki derajat keparahan masing-masing. Ada yang hanya berupa titik kecil, ada pula yang berlubang. Akibat pecahnya gendang telinga ini, maka akan muncul keluhan seperti keluar cairan putih kekuningan, cairan bercampur darah yang disertai bau tidak sedap, dan gangguan pendengaran.

1 dari 2 halaman

Bahaya congekan jika tidak diobati

Pengobatan dari penyakit congek bervariasi, bergantung pada derajat keparahannya. Pada umumnya, akan dilakukan tindakan pembersihan liang telinga secara rutin, pemberian antibiotik, hingga tindakan operasi timpanoplasti (penutupan gendang telinga yang pecah).

Namun, jika Anda terlambat ke dokter, kondisi congek sudah kadung parah, atau tidak melakukan pengobatan dengan, maka ada beberapa bahaya yang mengintai.

  1. Gangguan pendengaran

Akibat infeksi di sekitar telinga, komplikasi gangguan pendengaran berupa ketulian bisa terjadi kapan saja. Komplikasi ini terjadi akibat rusaknya tulang-tulang pendengaran.

Selain menimbulkan gangguan pendengaran, tak jarang pula ditemukan keluhan gangguan keseimbangan, mengingat kemampuan ini juga berada di dalam telinga.

  1. Meningitis

Meningitis merupakan komplikasi tersering pada sistem saraf pusat yang sering terjadi khususnya pada anak-anak. Infeksi pada telinga yang tidak ditangani dengan benar dapat menjadi pintu masuk utama kuman untuk masuk ke dalam sistem saraf pusat.

Sama seperti gejala meningitis pada umumnya, meningitis akibat congekan memunculkan gejala seperti demam tinggi, kejang, muntah menyembur, hingga penurunan kesadaran.

  1. Abses otak

Terbentuknya abses otak (sekumpulan nanah yang bersarang di otak) adalah komplikasi paling menakutkan dari congekan. Abses ini mengakibatkan otak mengalami pembengkakan. Keluhan yang dirasakan meliputi sakit kepala hebat, kejang, penurunan kesadaran, kesulitan bergerak, hingga bisa berujung pada hilang nyawa.

Apabila suatu hari Anda mendapati adanya cairan keluar dari telinga di bantal, jangan menunda untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis THT. Semakin cepat tertangani, keluhan bisa teratasi dan terhindar dari komplikasi.

Jangan lagi remehkan cairan yang keluar dari telinga, karena itu adalah gejala awal telinga sedang tak beres dan memiliki risiko penyakit berbahaya. Gangguan pendengaran dan keseimbangan, meningitis, dan abses otak adalah bahaya congekan jika tidak diobati dengan benar. Congek bisa terjadi pada siapa saja tanpa pandang bulu. Untuk mencegahnya, mari lebih peduli pada kesehatan dan kebersihan telinga, hidung, dan tenggorokan dengan memeriksakannya secara rutin.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar