Sukses

Mirip Impetigo Bulosa, Ini Bedanya dengan Cacar Monyet

Cacar monyet yang terdeteksi di Singapura dan penyakit impetigo bulosa yang sering menyerang anak tidaklah sama. Ini bedanya.

Klikdokter.com, Jakarta Beberapa hari lalu kasus penyakit cacar monyet terdeteksi ada di Singapura. Meski terkesan mirip, penyakit ini berbeda dengan penyakit impetigo bulosa, yang sejak dulu disebut awam dengan istilah “cacar monyet”. Hal ini karena penyebab dan gejalanya juga berbeda.

Penyakit cacar monyet yang meresahkan warga Singapura disebabkan oleh infeksi virus monkeypox yang masuk ke dalam golongan Orthopoxvirus, dan ditularkan melalui berbagai hewan liar seperti hewan primata dan tikus.

Sedangkan, penyakit impetigo bulosa yang terlanjur dikenal dengan sebutan “cacar monyet” juga, disebabkan infeksi bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes. Jangan sampai Anda gagal paham. Sebab, keduanya adalah penyakit yang berbeda.

Perbedaan impetigo bulosa dan cacar monyet

Meskipun mempunyai penyebutan nama yang sama, cacar monyet yang kini meresahkan warga Singapura dan impetigo bulosa ternyata memiliki berbagai perbedaan sebagai berikut:

  1. Cara penularan

Dari cara penularannya saja sudah berbeda. Penyakit cacar monyet ditularkan dari hewan ke manusia (paling sering) dan dari manusia ke manusia, melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, luka di kulit yang terbuka pada hewan yang terinfeksi, atau lendir pernapasan seseorang yang sudah terinfeksi saat bersin atau batuk.

Sementara itu, penyakit impetigo bulosa dapat menular melalui kontak langsung antara kulit dengan kulit, atau dengan barang perantara seperti handuk, alat makan, serta baju yang sudah terkontaminasi oleh bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes.

  1. Masa inkubasi

Masa inkubasi yang merupakan masa di mana gejala akan muncul sejak terpapar kuman penyebab penyakit impetigo bulosa maupun cacar monyet juga tak sama. Untuk penyakit impetigo bulosa, masa inkubasinya selama 4–10 hari, sedangkan masa inkubasi cacar monyet selama 5–21 hari.

  1. Gejala yang muncul

Gejala awal kedua penyakit ini hampir sama, yaitu adanya demam, ruam dan lenting di kulit, nyeri di otot serta sakit kepala. Perbedaannya adalah pada cacar monyet disertai adanya pembengkakan kelenjar getah bening, sedangkan pada impetigo bulosa, kulit yang melepuh dapat meninggalkan kerak bewarna kuning.

  1. Komplikasi yang ditimbulkan

Meskipun berbeda jenis kuman penyebabnya, kedua jenis penyakit ini dapat mengalami komplikasi jika tidak ditangani dengan segera. Pada cacar monyet, komplikasi berupa infeksi paru (pneumonia), infeksi mata, kebutaan, dan radang otak (ensefalitis).

Sedangkan pada impetigo bulosa, komplikasi berupa selulitis (infeksi bakteri sampai lapisan dalam kulit), septikemia (infeksi bakteri yang menyebar ke dalam darah) dan glomerulonephritis (infeksi di pembuluh darah kecil di ginjal).

Cegah sebelum tertular!

Penyebaran virus cacar monyet relatif cepat, walaupun belum menyebar di Indonesia. Pencegahan sejak dini merupakan langkah terbaik untuk menghindari penyakit ini, misalnya dengan menghindari berkunjung ke negara yang tengah terjangkit penyakit cacar monyet.

Selain itu, pencegahan dapat dimulai dari diri sendiri dengan rutin cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum makan dan setelah beraktivitas di luar rumah, serta mengurangi kontak langsung dengan hewan yang berpotensi menularkan cacar monyet seperti hewan primata dan pengerat. Jangan lupa juga untuk meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan vaksin cacar smallpox yang dapat memproteksi tubuh hingga 85 persen dari infeksi cacar monyet.

Sebagai langkah pencegahan agar terhindar dari cacar monyet maupun impetigo bulosa, biasakan diri Anda untuk melakukan berbagai tips pencegahan yang disarankan di atas. Dan yang tak kalah penting, penuhi kebutuhan nutrisi harian dengan makanan sehat dan bergizi, agar daya tahan tubuh tidak mudah menurun, dan tidak mudah terinfeksi virus lainnya.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar