Sukses

Cacar Monyet atau Flu Babi Afrika yang Lebih Berbahaya?

Cacar monyet dan flu babi Afrika sedang sedang menyusui Asia Tenggara. Tapi, mana yang lebih berbahaya di antara kedua penyakit itu?

Klikdokter.com, Jakarta Setelah cacar monyet lebih dulu terdeteksi di Singapura, dan dikhawatirkan menyusup ke Indonesia melalui Batam, kini di Vietnam sedang terjadi flu babi Afrika. Keduanya sama-sama memicu kekhawatiran masyarakat. Lalu mana di antara keduanya yang lebih berbahaya?

Cacar monyet menjadi perhatian khalayak setelah seorang pria asal Nigeria yang masuk ke Singapura terdeteksi mengidap penyakit tersebut. Kementerian Kesehatan Singapura menyatakan bahwa pria 38 tahun tersebut kini sedang dalam penanganan intensif dan dalam kondisi stabil di bagian isolasi National Centre for Infectious Diseases (NCID), Singapura.

Sementara itu, Straits Times mengabarkan bahwa Vietnam telah memusnahkan lebih dari 1,2 juta babi di peternakan yang terinfeksi demam babi Afrika, pada Senin (13/5)lalu . Babi dimusnahkan ketika virus itu terus menyebar dengan cepat di wilayah tersebut.

Virus ini pertama kali terdeteksi di Vietnam pada Februari lalu dan telah menyebar ke 29 provinsi, termasuk Dong Nai, yang memasok sekitar 40 persen daging babi yang dikonsumsi di Kota Ho Chi Minh, pusat ekonomi selatan Vietnam.

Daging babi menyumbang 3/4 dari total konsumsi daging di Vietnam, sebuah negara berpenduduk 95 juta orang. Sebagian besar dari sekitar 30 juta babi yang dipelihara di peternakan dikonsumsi di dalam negeri tersebut.

Mengenal flu babi Afrika

Virus flu babi Afrika sangat menular. Gejala yang paling umum dari virus dalam bentuk akut adalah suhu badan tinggi dan kehilangan nafsu makan. Gejala lain termasuk muntah, diare, kesulitan bernafas dan berdiri.

Tidak ada pengobatan spesifik untuk penyakit ini. Meski penyakit ini ternyata tidak sama dengan flu babi yang pernah mewabah beberapa waktu lalu, namun dalam kondisi tertentu bisa menyebabkan kematian.

Penyakit flu babi Afrika dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Babi hutan telah diidentifikasi sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan penyebab penyebarannya. Kondisi ini semakin mudah tersebar melalui serangga seperti kutu.

Selain itu bahaya lain yang harus diwaspadai, virus ternyata juga dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan – dan beberapa tahun dalam bangkai beku – sehingga produk daging menjadi perhatian khusus untuk penularan lintas batas.

Melansir dari The Guardian, pekan lalu, sebungkus sosis yang disita di bandara Jepang dari seorang pelancong yang datang dari Tiongkok ditemukan mengandung virus penyakit ini. Hal yang sama juga terjadi di Korea Selatan.

Mana lebih berbahaya?

Penyakit yang sedang mengguncang Asia ini benar-benar membuat banyak orang khawatir. Pasalnya, efeknya tidak enteng dan penularan virusnya begitu masif.

Menurut dr. Alvin Nursalim SpPD dari KlikDokter, sebenarnya kedua penyakit ini bisa sangat berbahaya. Sulit untuk menentukan mana yang paling berbahaya. Sebab, kedua penyakit ini berpotensi menyebabkan kematian.

"Kedua penyakit ini harus ditangani dengan serius. Untuk cacar monyet pada beberapa kasus bisa melalui penyakit infeksi paru atau pneumonia atau infeksi selaput otak," sambung dr. Alvin.

Sementara itu, flu babi Afrika juga menyebabkan infeksi paru sehingga tampak memiliki kemiripan dengan cacar monyet.

"Jadi, influenza yang tidak ditangani dengan baik, apalagi ditambah dengan sistem imunitas yang buruk, bisa menyebabkan infeksi paru yang berat. Sehingga akhirnya bisa menyebabkan gagal napas," tegas dr. Alvin. Jadi, penanganan yang tepat adalah kunci agar penyakit ini tidak menyebabkan kematian.

Munculnya penyakit cacar monyet dan flu babi Afrika memang menyentak kesadaran masyarakat. Perlu kewaspadaan agar terhindar dari penularan penyakit ini. Pencegahan dini bisa dilakukan antara lain dengan mengenali beragam gejalanya dan tidak melakukan kontak dengan hewan-hewan tersebut, atau orang yang terjangkit kedua penyakit itu.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar