Sukses

Waspada, Ada Kasus Cacar Monyet di Singapura!

Kasus cacar monyet di Singapura menyentakkan kesadaran warga negeri tersebut. Bagaimana asal mulanya?

Klikdokter.com, Jakarta Munculnya kasus cacar monyet di Singapura menggemparkan negeri tersebut! Seorang pria 38 tahun warga Nigeria yang berkunjung ke negeri tersebut – tiba pada 28 April – dideteksi terkena penyakit langka cacar monyet atau monkeypox.

Pengecekan yang dilakukan pada Rabu (8/5) lalu – seperti dilansir Strait Times – jelas menggegerkan warga Singapura. Dituturkan oleh pihak Kementerian Kesehatan Singapura, bahwa pria tersebut langsung diisolasi di National Center for Infectious Disease. Dikabarkan pria itu dalam kondisi stabil.

Singapura yang terkenal dengan ketertiban dan kedisiplinannya dalam hal karantina, selain kini kemasukan kasus cacar monyet, ternyata juga pernah disusupi beberapa penyakit langka lainnya. Infeksi Candida auris, infeksi virus Zika dan infeksi Streptococcus group B, pernah menggemparkan Singapura beberapa waktu lalu.

Penyakit cacar monyet yang tahun lalu sempat mewabah di Nigeria itu, kini tampaknya mulai menyusup ke Asia, termasuk Singapura. Waspadai gejala dan penyebab penyakit yang bikin kulit beruntusan parah ini!

Bagaimana cacar monyet menular?

Kasus penyakit cacar monyet pertama kali ditemukan pada manusia di salah satu negara Afrika, yaitu Republik Demokratik Kongo, pada 1970. Antara 1970 hingga 1986, dilaporkan terjadi sekitar 400 kasus cacar monyet.

Tahun lalu penyakit cacar monyet ini sempat mewabah di Nigeria. Sedikitnya ada 10 negara di Afrika yang pernah mengalami wabah penyakit tersebut.

Menurut pemaparan dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, virus cacar monyet menular melalui kontak langsung manusia dengan cairan tubuh, darah, atau kulit dari hewan yang terinfeksi. Pada umumnya, hewan yang terinfeksi virus ini.

Seperti diberitakan Reuters – menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Singapura – pria tersebut ternyata tertular virus ini akibat mengonsumsi bushmeat saat menghadiri sebuah resepsi pernikahan di Nigeria. Bushmeat adalah sejenis daging yang berasal dari beberapa jenis binatang seperti simpanse, gorila, antelope, beberapa jenis burung atau binatang pengerat, yang umum disantap warga Afrika.

Meski demikian, jangan berpikir bahwa manusia akan aman dari jangkauan virus ini. Anda juga perlu waspada karena penyebaran penyakit ini juga bisa terjadi dari manusia ke manusia.

Kemungkinan penularan itulah yang kini sedang dilacak oleh Kementerian Kesehatan Singapura. Kabar resmi yang dilansir Channel News Asia menyebutkan bahwa si pria Nigeria yang sempat tinggal di Hotel 81 Orchid di kawasan Geylang itu sudah berinteraksi dengan setidaknya 23 orang.

Semuanya juga sudah diisolasi dan akan dipantau selama 21 hari. Kementerian Kesehatan Singapura menekankan bahwa kemungkinan penularan penyakit ini pada warga Singapura, amat kecil.

1 dari 2 halaman

Waspadai gejala penyakit cacar monyet

Dijelaskan oleh dr. Sepri, jika seseorang sempat kontak langsung dengan lesi kulit, cairan tubuh, atau lendir dari pernapasan penderita cacar monyet, ia sangat berpotensi terinfeksi. Virus ini juga terdapat dalam droplet (partikel kecil) sehingga ketika penderitanya batuk, bersin, orang-orang di sekitarnya rentan tertular.

Setelah virus cacar monyet masuk ke dalam tubuh seseorang, gejalanya akan timbul antara 4-20 hari kemudian (masa inkubasi). Menurut dr. Sepri, ada sejumlah gejala yang menyertai penyakit ini seperti demam, keringat dingin, sakit kepala hebat, nyeri punggung, nyeri otot, badan lemas hingga pembesaran kelenjar getah bening.

Selain beragam gejala di atas, penderita cacar monyet juga bisa mengalami komplikasi mulai dari infeksi bakteri pada luka, infeksi paru (pneumonia), gangguan pernapasan, infeksi mata, kebutaan, sampai terjadinya radang otak (ensefalitis).

Menangkal cacar monyet sejak awal

Lalu apakah penyakit ini akan dengan begitu saja merebak? Tidakkah ada vaksin yang bisa menangkal serangan si cacar monyet ini?

Dokter Sepriani memberikan sinyal yang menyejukkan mengenai hal itu. Menurutnya meski penyebaran penyakit ini relatif cepat, umumnya cacar monyet bisa sembuh sendiri (self-limited) layaknya penyakit yang diakibatkan virus lainnya.

Biasanya penyembuhan penyakit ini perlu waktu 2-4 minggu. Pengobatan yang dilakukan terhadap penderita infeksi cacar monyet umumnya bertujuan untuk mengurangi gejala seperti demam, nyeri kepala, nyeri otot.

Hingga saat ini memang belum ada vaksin yang secara spesifik mencegah infeksi cacar monyet. Namun, menurut dr. Sepriani penggunaan vaksin cacar (smallpox) efektivitasnya mencapai 85 persen untuk menangkal cacar monyet.

Langkah antisipasi yang bisa dilakukan masyarakat sebenarnya cukup mudah. Kurangilah kontak Anda dengan jenis-jenis hewan yang rentan membawa virus cacar monyet ini, termasuk jangan memeliharanya di rumah.

Namun jika hal itu tidak bisa Anda hindari, segera cuci tangan dengan memakai sabun dan air mengalir. Bila Anda menemukan hewan yang menunjukkan gejala-gejala seperti luka terbuka pada kulit dan mata berair, segera laporkan kepada petugas kesehatan.

Cara-cara pencegahan tersebut diharapkan bisa mengantisipasi penularan infeksi cacar monyet yang saat ini sudah menyusup ke Singapura. Kedekatan lokasi Indonesia dan negara tersebut memang memancing spekulasi bahwa sebagian wilayah Tanah Air – seperti Batam – sangat rentan terimbas oleh penyakit ini.

Meski demikian masyarakat tidak perlu panik mendengar adanya kasus cacar monyet di Singapura. Lakukan saja langkah-langkah pencegahan yang sudah dipaparkan di atas. Dan jika Anda mengalami sejumlah gejala yang mirip, segera periksa ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar