Sukses

Turunkan Risiko Depresi pada Anak Lewat Olahraga Beregu

Depresi pada anak bisa saja terjadi. Namun, Anda bisa mengatasinya dengan mengajak si Kecil mengikuti olahraga beregu.

Klikdokter.com, Jakarta Depresi dapat ditemukan di segala usia, baik pada orang dewasa, remaja maupun anak. Itu sebabnya isu depresi pada anak menyeruak seiring berjalannya peningkatan kasus anak yang mengalami gangguan mental. Namun, penelitian menyebutkan bahwa olahraga beregu dapat menurunkan risiko depresi.

Masa pra remaja dan remaja merupakan masa yang sulit untuk banyak anak dikarenakan perubahan pada tubuh serta kecemasan dan depresi yang dapat melanda akibat kepercayaan diri yang mulai terbentuk.

Suatu studi yang tertuang di dalam jurnal Pediatrics tahun 2016 menemukan bahwa terdapat 37 persen peningkatan angka remaja yang mengalami episode depresi mayor dalam 10 tahun terakhir, dan 60 persen tidak mendapatkan bantuan profesional.

Olahraga beregu merupakan solusi depresi pada anak

Riset terbaru menemukan bahwa keterlibatan dalam olahraga beregu berhubungan dengan volume hippocampus, atau area pada otak yang bertanggungjawab atas ingatan jangka panjang serta respon emosional pada anak laki-laki maupun perempuan.

Setelah mengikuti olahraga beregu, ditemukan penurunan angka depresi pada anak laki-laki usia 9-11 tahun yang terlibat dalam olahraga tersebut.

Temuan ini masuk akal, menurut Dr. Cynthia LaBella, ketua umum American Academy of Pediatrics (AAP) Council on Sports Medicine and Fitness. Sebab, olahraga beregu menyediakan aktivitas aerobik secara rutin, yang telah diketahui memberikan efek positif terhadap memori, kognisi, serta suasana hati.

Selain itu, membangun koneksi dengan teman-teman lain dan menumbuhkan rasa memiliki tujuan, kepemilikan, serta pencapaian, juga bisa menjadi faktor pelindung terhadap depresi.

1 dari 2 halaman

Pentingnya olahraga bagi anak

Olahraga penting dilakukan sejak dini karena berkaitan dengan kesehatan tulang, yang nantinya akan terlihat pada masa remaja, di mana 33–43 persen total massa tulang akan terbentuk.

Jika anak dapat mencapai angka tersebut pada masa remaja, akan membantu kepadatan tulang meningkat sebanyak 10 persen. Hasilnya, perkembangan osteoporosis pun bisa ditunda hingga 13 tahun.

Pesan utamanya adalah bahwa anak dan remaja butuh aktif secara fisik agar kebiasaan ini dapat bertahan hingga dewasa. Dengan olahraga beregu, anak dapat mengembangkan kemampuannya menjadi seorang pemain regu yang harus bergantian atau bergiliran dalam melakukan sesuatu.

Dalam olahraga tersebut anak akan bekerjasama dan berkolaborasi untuk membangun kepercayaan pada anggota tim, serta mengalami rasa empati pada sesama. Hal ini juga berlaku pada regu lawan ketika menjadi pihak yang menang maupun kalah.

Pada anak dengan gangguan perkembangan koordinasi, risiko depresi bisa dikurangi dengan olahraga beregu. Sebab, ketika mereka ikut serta dalam olahraga beregu, kesepian dapat berkurang meskipun kesulitan dalam berkoordinasi dan tidak secepat atau selihai teman lainnya.

Sayangnya, penurunan risiko depresi ini tidak berlaku pada aktivitas lain seperti seni dan musik, begitu pula dengan olahraga individual. Hal ini diduga karena partisipasi anak tidak terkombinasikan antara latihan fisik dengan bekerjasama sebagai kelompok untuk mencapai tujuan yang sama dan mengalahkan lawan.

Jadi, untuk mendapatkan manfaat olahraga beregu tersebut, seorang anak harus melakukan keduanya, yakni adanya kerjasama dan aktivitas fisik.

Anak dan remaja masa kini lebih banyak menggunakan media sosial serta permainan digital dan virtual untuk berinteraksi, dan mengurangi kesempatan untuk mengasah kemampuan untuk memecahkan masalah bersama. Padahal, hal tersebut juga meningkatkan risiko anak terkena depresi.

Lewat olahraga beregu, anak dapat belajar berkomunikasi, efisiensi terhadap diri sendiri, kerjasama, serta mengenal integritas dan rasa hormat terhadap peraturan dan objektif yang dimiliki dalam suatu tim. Sehingga, kemungkinan depresi pada anak bisa dikurangi.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar