Sukses

Gagal Tes Buta Warna? Yuk, Kenali Gangguan Penglihatan Ini

Banyak orang tidak sadar dirinya menderita buta warna. Memangnya, apa sih buta warna?

Klikdokter.com, Jakarta Lolos tes buta warna untuk beberapa bidang pendidikan dan karier adalah syarat mutlak. Namun, banyak orang yang baru sadar dirinya mengidap buta warna setelah gagal dalam tes tersebut. Mengapa bisa begitu?

Menurut dr. Dina Kusumawardhani kepada KlikDokter, buta warna adalah ketidakmampuan mata dalam membedakan warna dasar, yaitu merah, hijau, biru, atau campuran. Buta warna terjadi karena adanya masalah di butiran pigmen mata pada sel-sel kerucut di retina mata, sehingga mata gagal menangkap spektrum warna tertentu.

Sebagian besar kasus buta warna telah muncul sejak lahir akibat kelainan genetik. Selain itu, dijelaskan oleh dr. Widi Asrining Puri kepada KlikDokter, buta warna juga bisa disebabkan oleh proses penuaan, gangguan mata tertentu (glaukoma, degerasi makular, katarak, atau retinopati diabetes), cedera pada mata, dan efek samping obat-obatan tertentu.

Jenis-jenis buta warna

Buta warna sendiri terbagi ke dalam dua jenis, yaitu:

  1. Buta warna total

Penderita buta warna total sama sekali tidak dapat mengidentifikasi warna yang dilihatnya. Seseorang dengan buta warna total hanya dapat melihat hitam dan putih (gradasi warna abu-abu) atau monokrom. Kasus ini sangat jarang ditemukan.

  1. Buta warna parsial

Buta warna parsial sering juga disebut sebagai buta warna sebagian. Penderitanya hanya tidak dapat mengidentifikasi dengan akurat beberapa warna tertentu.

Tergantung warna apa yang sulit diidentifikasi penderitanya, khusus untuk buta warna parsial, gangguan ini terbagi lagi ke dalam beberapa kategori, yaitu:

  • Tritanopia

Penderitanya kesulitan mengidentifikasi warna biru dan kuning. Biru dianggap sebagai hijau, sementara kuning terlihat seperti abu-abu terang.

  • Tritanomali

Penderitanya kesulitan membedakan warna biru dengan hijau, sementara merah muda terlihat seperti merah atau kuning.

  • Deuteranopia

Penderitanya sering mengidentifikasi warna merah sebagai kuning kecoklatan, serta hijau sebagai krem.

  • Deuteranomali

Penderitanya kesulitan membedakan warna biru dengan ungu, serta mengidentifikasi kuning dan hijau sebagai merah.

  • Protanomali

Penderitanya melihat warna merah, kuning, dan jingga sebagai hijau dan tidak secerah warna aslinya.

  • Protanopia

Penderitanya sering mengidentifikasi warna hijau dan jingga sebagai kuning, serta melihat merah sebagai hitam.

1 dari 2 halaman

Deteksi buta warna

Sejak lahir, manusia sudah disodori dengan warna-warna di sekelilingnya. Oleh karenanya, sebagian besar penderita buta warna tidak sadar jika dirinya mengalami gangguan tersebut.

Dibutuhkan sebuah tes untuk memastikan seseorang memang benar-benar menderita buta warna.

Metode tes buta warna sendiri ada beberapa macam, yaitu:

  • Anomaloscope

Metode anomaloscope dilakukan dengan alat seperti mikroskop. Kemudian pasien akan diminta melihat ke arah lingkaran yang dibagi ke dalam dua warna, merah-hijau pada satu sisi dan kuning pada sisi lainnya. Pasien harus menekan tombol pada alat tersebut saat warna pada lingkaran-lingkaran tersebut berubah jadi satu warna yang sama.

  • Ishihara

Metode Ishihara adalah tes buta warna yang paling umum dan sering digunakan. Pasien akan diminta melihat sebuah lingkaran yang memiliki banyak bintik-bintik beraneka warna di dalamnya. Bintik-bintik tersebut membentuk suatu huruf atau angka, yang kemudian harus diidentifikasi oleh pasien.

  • Farnsworth-Munsell

Metode Farnsworth-Munsell menggunakan gambar lingkaran dalam jumlah banyak dan sejumlah gradasi warna. Tes ini dipakai untuk menganalis apakah pasien dapat mengidentifikasi perubahan warna yang sangat tipis.

  • Cambridge

Metode Cambridge hampir sama dengan Ishihara. Pasien sama-sama diminta untuk mengidentifikasi huruf tersembunyi yang ada di dalam lingkaran dengan penuh bintik-bintik berbeda warna. Bedanya, tes ini menggunakan medium komputer, bukan kertas seperti Ishihara. Biasanya, Cambridge juga hanya fokus pada huruf "C".

Sayangnya, menurut dr. Widi, buta warna, terutama yang disebabkan masalah genetika tidak dapat disembuhkan, sementara yang disebabkan oleh faktor lain masih dapat ditangani. Namun, ada yang dapat dilakukan untuk membantu penderita buta warna parsial, yaitu dengan menggunakan lensa kontak warna yang dapat membantu membedakan warna.

Jika Anda merasa memiliki tanda-tanda menderita buta warna dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, segera periksa ke dokter mata. Selanjutnya dokter akan melakukan tes untuk memastikan seberapa parah buta warna Anda.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar