Sukses

Terdiagnosis Kanker Serviks Saat Hamil, Harus Bagaimana?

Jika terdiagnosis kanker serviks saat hamil, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan.

Klikdokter.com, Jakarta Satu hingga 3 persen wanita terdiagnosis kanker serviks saat hamil atau saat melahirkan. Sekitar setengah dari kasus tersebut terdiagnosis sebelum melahirkan dan sisanya terdiagnosis 12 bulan setelah melahirkan.

Kanker serviks adalah salah satu kanker yang paling sering ditemukan dalam kehamilan dengan angka kejadian sekitar 0.8 hingga 1.5 kasus per 10.000 kelahiran.

Kebanyakan pasien yang terdiagnosis kanker serviks saat hamil berada dalam stadium awal penyakit. Biasanya hal ini ditemukan lewat hasil skrining prenatal yang rutin dilakukan.

Tes Papanicoalau (Pap) atau yang lebih sering dikenal sebagai pap smear merupakan tes yang direkomendasikan untuk dilakukan pada kunjungan awal pemeriksaan kehamilan, kecuali telah dilakukan sebelum kehamilan.

Jenis tes ini aman dilakukan saat hamil, dan menjadi langkah awal untuk mendeteksi kemungkinan kanker serviks.

Kanker serviks di masa kehamilan

Kanker serviks saat hamil relatif jarang terjadi. Namun, angka kejadian kondisi ini diperkirakan akan meningkat akibat lebih banyaknya wanita yang menunda untuk melahirkan.

Penelitian sejauh ini menduga bahwa kanker serviks yang terdiagnosis saat hamil tumbuh secara lambat dan cenderung tidak menyebar dibandingkan dengan kanker serviks pada wanita yang tidak hamil. Diagnosis tersebut bergantung pada hal-hal berikut :

  • Tipe kanker serviks yang dimiliki (tipe sel)
  • Seberapa besar tumor dan apakah sudah menyebar (stadium)
  • Usia kandungan saat terdiagnosis
  • Apa yang diharapkan
  • Risiko tindakan medis yang dipilih

Jika usia kandungan lebih dari tiga bulan, dokter mungkin menyarankan ibu untuk melahirkan lewat operasi caesar lebih dini. Di samping itu, dokter juga mungkin akan melakukan pengangkatan rahim dalam waktu yang bersamaan.

Kemudian, sang ibu mungkin membutuhkan terapi lebih lanjut untuk mengatasi kanker dengan melakukan kemoterapi dan radioterapi (kemoradioterapi). Namun, jika usia kandungan kurang dari tiga bulan, dokter mungkin akan mengambil tindakan secara langsung.

Jika diputuskan untuk terapi, maka kehamilan perlu dihentikan. Namun, bila ibu hamil ingin tetap melahirkan buah hatinya, maka dokter akan menunda terapi hingga usia kandungan lebih dari tiga bulan.

Penundaan ini dilakukan dengan alasan kemoterapi saat trimester pertama tidak dapat dilakukan karena dapat merusak janin atau menyebabkan keguguran.

Penanganan berdasarkan ukuran tumor

Berdasarkan ukuran tumor, beberapa tumor kecil memungkinkan untuk dilakukan terapi dengan biopsi kerucut atau trakelektomi, yakni tindakan pengangkatan sebagian besar serviks dan bagian atas vagina.

Meski demikian, sangat sedikit wanita yang melakukan trakelektomi saat hamil karena terdapat risiko perdarahan dan kehilangan bayi setelah operasi. Untuk tumor berukuran lebih besar, dokter mungkin menyarankan kemoterapi untuk mengecilkan atau mengendalikan kanker sampai bayi lahir.

Mengenai kemoterapi pada ibu hamil, peneliti meninjau kemoterapi yang diberikan setelah trimester pertama kehamilan sejauh ini tidak menunjukkan peningkatan risiko cacat lahir. Namun, masih diperlukan mengumpulkan informasi lebih banyak lagi dalam jangka waktu yang lebih lama, untuk meninjau dampak jangka panjang bagi anak-anak yang dilahirkan nantinya.

Apabila Anda terdiagnosis kanker serviks saat hamil penanganannya akan sangat bergantung pada kondisi Anda. Selain itu juga membutuhkan kerjasama dari berbagai dokter spesialis seperti obstetri, pediatrik, patologi dan sebagainya. Meski butuh usaha dan motivasi yang kuat, ibu hamil yang mengalami kanker serviks masih bisa diselamatkan janinnya.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar