Sukses

Kiat Puasa Tetap Sehat bagi Penderita Diabetes

Penderita diabetes boleh berpuasa asalkan mematuhi anjuran dokter agar penyakitnya tidak mengganggu ibadah puasa Ramadan yang dijalani.

Klikdokter.com, Jakarta Bagi umat Muslim di mana pun, puasa adalah salah satu ibadah yang paling ditunggu-tunggu. Euforia Ramadan dirasakan oleh anak-anak hingga orang lansia. Sayangnya, puasa bisa sangat menantang bagi para penderita diabetes.

Ya, diabetesi rentan mengalami hipoglikemia dan hiperglikemia saat puasa. Tentu saja, hal itu dapat mengganggu proses ibadah sekaligus membahayakan kesehatan mereka.

Di saat menahan lapar dan haus selama berpuasa ditambah padatnya aktivitas, penderita diabetes tipe 2 berisiko mengalami hipoglikemia (kadar gula darah yang sangat rendah). Sedangkan, ketika mereka berbuka puasa, diabetesi justru rentan mengalami hiperglikemia (kenaikan gula darah yang signifikan).

Puasa Ramadan memang mengakibatkan sejumlah perubahan pada komposisi tubuh diabetesi. Puasa juga akan mengubah jaringan lemak mereka. Keadaan ini jelas memicu penurunan massa otot, yang dapat berujung pada penurunan jumlah dan sensitivitas insulin.

Kondisi berpuasa yang cukup berat semacam itu sangat dirasakan oleh warga Muslim penderita diabetes di perkotaan. Meski demikian kelompok ini tetap bersikukuh menjalani puasa.

Bertahan saat puasa

Berangkat dari masalah itulah, Novo Nordisk menyelenggarakan sebuah acara talkshow. Program bincang-bincang yang digelar pada Kamis (9/5) lalu membahas tentang bagaimana para penderita diabetes dapat “bertahan hidup” selama Ramadan. Kuncinya adalah bagaimana penyakit gula darah yang dialami tidak kambuh meski mereka berpuasa.

Acara yang dihelat di Roemah Kuliner, Metropole XXI, Cikini, Jakarta Pusat itu dihadiri oleh tiga orang narasumber. Dokter spesialis penyakit dalam, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FINA, membahas soal penyakit diabetes. Sedangkan dr. Dwi Oktavia T.L. Handayani, M.Epid sebagai Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan DKI Jakarta menjelaskan data penyandang diabetes di Indonesia, khususnya Jakarta. Hadir pula Banarsono Trimandojo selaku Direktur Market Access & Public Affairs PT Novo Nordisk Indonesia.

Sesi pertama diisi oleh Prof. Sidartawan. Menurutnya, keinginan berpuasa masyarakat Indonesia sangat tinggi, meski mereka memiliki penyakit diabetes. Ketika ditanyakan bolehkah penyandang diabetes berpuasa, Prof. Sidartawan memberikan jawaban yang melegakan.

“Pada dasarnya, penderita diabetes tipe 2 boleh saja berpuasa. Namun, mereka juga harus paham mengenai tantangan dan risiko yang akan dihadapi, terutama soal hipoglikemia,” jelas Prof. Sidartawan.

Menurutnya, dokter akan lebih khawatir bila pasiennya mengalami hipoglikemia ketimbang hiperglikemia. Itu karena hiperglikemia bisa lebih mudah diatasi dengan insulin dan cepat kembali normal, sedangkan hipoglikemia dapat berujung pada kerusakan otak.

“Iya, sel darah merah dan otak itu kan hanya mendapat energi atau makanan dari glukosa. Ketika glukosanya itu sangat minim, sel-sel itu pun akan rusak. Nah, kalau sudah rusak, sudah tidak bisa diperbaiki lagi.” tegasnya.

Itulah mengapa, orang yang terkena hipoglikemia sering linglung, pelupa, bahkan sering kehilangan kesadaran. Kalau itu dibiarkan terus-menerus, akibatnya bisa sangat fatal.

1 dari 2 halaman

4 pilar edukasi untuk diabetesi

Diabetesi yang ingin tetap menjalani puasa mesti mematuhi tata laksana diabetes yang terangkum dalam 4 pilar, yaitu edukasi (memahami betul tentang diabetes dan risiko yang akan ia alami), mengatur pola makan dengan jumlah yang sudah ditentukan dan menghindari makan berlebihan, melakukan kegiatan jasmani secara rutin (jalan kaki, naik turun tangga, berenang, atau bersepeda), serta tetap melakukan terapi farmakologinya (pengonsumsi obat dan penggunaan insulin sesuai dosis yang dianjurkan).

Jika diabetesi menerapkan empat pilar tersebut, risiko mereka mengalami hipoglikemia atau hiperglikemia pun akan semakin kecil.

Sementara itu, dr. Dwi dan Bapak Banarsono memaparkan bahwa angka penyandang diabetes di Indonesia – terutama di Jakarta – terus meningkat. Menurut data Riskesdas tahun 2018, DKI Jakarta merupakan provinsi dengan prevalensi diabetes tertinggi di Indonesia dengan peningkatan persentase dari 2,5% (2013) menjadi 3,4% (2018).

“Kenaikan angka tersebut sebagian besar dipicu oleh gaya hidup masyarakat perkotaan yang kurang sehat.” tutur dr. Dwi.

Maka, Pemprov DKI Jakarta menandatangani MOU Cities Changing Diabetes (CCD) yang bekerja sama dengan Kedutaan Besar Denmark dan Novo Nordisk Indonesia untuk menekan pertumbuhan prevalensi diabetes.  Adapun tiga elemen dalam program itu adalah memetakan masalah diabetes, mendorong tindakan nyata, serta membagikan solusi yang terbukti ampuh untuk menginspirasi yang lain.

Tidak terhalangnya niatan beribadah oleh penyakit diabetes merupakan impian tersendiri bagi para diabetesi. Jadi, lakukanlah empat pilar yang telah disebutkan di atas. Namun jika gejala hipoglikemia muncul, segera batalkan puasa Anda dan istirahat. Lalu, jika sudah membaik, konsultasikanlah hal tersebut kepada dokter Anda mendapatkan penanganan yang tepat.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar