Sukses

Kenali Perilaku Pedofilia untuk Melindungi Anak Anda

Ketidakpekaan orang tua pada pedofilia menguntungkan para pelaku. Agar anak Anda terlindungi, kenali apa itu pedofilia.

Klikdokter.com, Jakarta Beberapa hari lalu, tepatnya Rabu (01/05) silam, kabar menghebohkan datang dari Kendari, Sulawesi Tenggara. Mantan anggota TNI AD ditangkap oleh pihak kepolisian karena terbukti melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap 7 bocah SD. Dilansir dari berbagai sumber, tersangka pedofilia mengincar para korbannya saat mereka berada di sekolah. Ia berpura-pura menjadi orang suruhan orang tua yang hendak menjemput pulang. Setelah si anak mau, pelaku membawanya ke hutan untuk dicabuli.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kendari, Anselmus AR Masiku, Jumat (03/05) lalu, menyatakan bahwa pelaku pedofilia layak mendapatkan hukuman kebiri di samping hukuman penjara. Ini karena tindak kejahatannya sudah sangat meresahkan masyarakat. Menurutnya, aturan kebiri di Indonesia sudah legal sehingga tidak menjadi masalah.

Tindakan kebiri yang disarankan oleh Direktur LBH Kendari memang dilegalkan di lebih dari 20 negara di dunia untuk menurunkan hasrat seksual parafilia alias orang-orang yang memiliki kelainan hasrat seksual. Kebiri merupakan tindakan bedah atau penggunaan bahan kimia untuk menghilangkan fungsi testis pada pria ataupun fungsi ovarium wanita. Ketiadaan hormon penunjang seksual akibat tindakan tersebut tentu akan memengaruhi hasrat seksual para parafilia agar mereka tidak mengulangi tindak kejahatan sebelumnya.

Pedofolia, perilaku abnormal yang perlu diwasapadai

Pedofilia digolongkan sebagai suatu ketertarikan seksual yang tidak normal. Seorang pedofil memiliki fantasi dan keinginan yang kuat untuk melakukan aktivitas seksual dengan anak di bawah umur (prapubertas). American Psychiatric Association (APA) telah memasukkan pedofilia ke dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders sejak tahun 1968.

Menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, aktivitas seksual yang dilakukan oleh pedofil beragam. Mulai dari hanya melihat terus-menerus, menelanjangi, menyentuh kelamin, hingga berhubungan seksual. Perilaku bejat ini bisa terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan.

Selain itu, meski kebanyakan pelakunya adalah pria, bukan berarti wanita dewasa tidak bisa menjadi pelaku pedofilia. Meski “menyukai” anak-anak, para pedofil masih memiliki ketertarikan seksual terhadap orang dewasa dan masih bisa menjalin hubungan layaknya orang pada umumnya.

Lagi pula, untuk mengategorikan bahwa seseorang mengidap pedofilia juga tak bisa sembarangan. Menurut dr. Nadia, seorang pedofil memiliki fantasi, hasrat, dan perilaku untuk melakukan aktivitas seksual yang berulang dengan anak berusia di bawah 13 tahun. Pola perilaku tersebut harus terjadi selama setidaknya 6 bulan.

Hingga saat ini belum ada yang tahu secara pasti apa yang menyebabkan seseorang menjadi pedofil. Namun, ada beberapa teori yang menyatakan bahwa pemicunya adalah kombinasi antara gangguan biologis, sosial, perkembangan, serta faktor psikososial.

Mengenali seorang pelaku pedofilia memang menjadi pekerjaan rumah yang sangat berat bagi orang tua. Kepekaan dan pengawasan terhadap anak adalah hal mutlak, untuk menghindarkan buah hati Anda dari perilaku tidak senonoh pedofil. Ingatkan pula si Kecil untuk tidak bepergian dengan orang asing dan ajari agar tidak membiarkan orang selain dirinya sendiri menyentuh alat kelaminnya. Bila perlu, ikut sertakan jagoan cilik Anda ke dalam kelas bela diri, seperti taekwondo, silat, atau karate, agar dia mengerti dasar-dasar membela diri bila ada sesuatu yang mengancam keselamatan dirinya.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar