Sukses

Malaria Monyet, Penyakit Apa Itu?

Pernahkah Anda mendengar tentang penyakit malaria monyet? Waspada, penyakit ini sudah ada di beberapa daerah di Indonesia.

Klikdokter.com, Jakarta Penyakit malaria sudah tidak asing bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tropis. Namun, penyakit malaria monyet yang sempat menyerang di wilayah Aceh, masih terhitung baru di telinga.

Malaria dikenal sebagai penyakit endemis yang masih menjangkiti beberapa daerah di Tanah Air. Sekitar 28% penduduk Indonesia masih tinggal di daerah dengan risiko rendah, sedang, hingga tinggi terjangkit malaria. Beberapa daerah endemis malaria yang hingga kini belum berhasil dieradikasi adalah Bengkulu, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Maluku Utara.

Malaria itu sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit dan ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Parasit penyebab penyakit yang sudah ada di Indonesia sejak tahun 1900-an ini terbagi menjadi 4, yaitu Plasmodium faciparum, vivax, malariae, dan ovale. Namun belum lama ini, jenis malaria terbaru telah ditemukan. Parasit yang menyebabkannya adalah Plasmodium knowlesi, atau yang dikenal secara umum sebagai malaria monyet.

Berawal dari monyet

Plasmodium knowlesi sebenarnya menginfeksi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), monyet ekor babi (Macaca nemestrina), dan langur (Presbytis melalophos). Dengan kata lain, parasit tersebut awalnya tidak menyebabkan penyakit pada manusia.

Namun, akibat adanya penebangan hutan dan semakin sempitnya habitat, para monyet tersebut bergeser dan semakin dekat dengan manusia. Hal ini menyebabkan nyamuk Anopheles latens dan Anopheles cracens yang merupakan vektor penyakit malaria monyet juga menggigit manusia, sehingga menyebarkan Plasmodium knowlesi dari monyet ke manusia. Hingga saat ini baru ditemukan kasus penyebaran Plasmodium knowlesi dari monyet ke manusia dan belum diketahui adanya penyebaran dari manusia ke manusia.

Di Indonesia, penyakit malaria monyet pertama kali dilaporkan terjadi di Kota Sabang, Aceh. Penyakit ini menyerang sepasang suami istri yang sering beraktivitas di dalam hutan. Kemungkinan mereka digigit nyamuk yang menularkan malaria monyet tersebut.

Selain di Indonesia, malaria monyet diketahui juga endemis di Sarawak, Malaysia. Peneliti menemukan 150 kasus malaria di rumah sakit di Sarawak, dan 70% di antaranya adalah kasus malaria monyet. Hal ini bisa terjadi karena banyak monyet ekor panjang yang hidup di hutan Sarawak.

Selain Indonesia dan Malaysia, kasus malaria monyet juga dilaporkan terjadi di Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, dan Cina.

1 dari 2 halaman

Kenali gejala malaria monyet

Orang yang terjangkit malaria pada umumnya mengalami 3 gejala khas, yaitu demam, menggigil, dan berkeringat. Selain itu, gejala juga dapat disertai dengan beberapa keluhan lain, seperti sakit kepala, mual muntah, diare, dan nyeri otot.

Gejala yang ditimbulkan oleh malaria monyet tak jauh berbeda dengan malaria pada umumnya. Hanya saja, keluhan pencernaan dan rendahnya trombosit lebih menonjol pada kasus malaria monyet.

Apakah malaria monyet bisa diobati? Bisa. Meskipun gejala dan obatnya mirip dengan Plasmodium falciparum, yakni artemisin dan primakuin, kasus malaria monyet perlu segera ditindak. Ini karena malaria monyet memiliki kecepatan reproduksi yang lebih tinggi, yakni dalam 24 jam. Oleh karena itu, terapi yang cepat dan tepat akan sangat penting untuk mengatasi malaria monyet ini. Kendati demikian, membedakan jenis Plasmodium secara tepat membutuhkan pemeriksaan PCR yang cukup rumit dan mahal, serta tidak dapat dikerjakan di laboratorium biasa.

Mengingat adanya kemungkinan terjangkit malaria monyet, semua masyarakat diimbau agar segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami keluhan demam tinggi atau gejala lain yang merujuk pada penyakit malaria. Tindakan ini sangat penting untuk dilakukan, terutama bila Anda adalah orang yang tinggal di daerah endemis malaria dan sering berada di hutan atau area pertambangan,

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar