Sukses

Gejala Diabetes Mellitus pada Anak yang Perlu Anda Tahu

Jangan salah, anak-anak juga bisa terkena diabetes, lho! Karena itu, kenali gejala diabetes mellitus pada anak berikut ini.

Diabetes mellitus identik dengan penyakit orang dewasa. Namun sebenarnya hal tersebut tidak tepat, karena diabetes juga bisa dialami oleh anak-anak.

Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2018, lebih dari 1.000 anak di Indonesia menyandang diabetes. Mari kenali tanda dan gejala diabetes pada anak agar lebih waspada. 

1 dari 4 halaman

Diabetes Mellitus Tipe 1, Jenis Diabetes yang Terjadi pada Anak

Jenis diabetes mellitus pada anak-anak berbeda dengan yang terjadi pada orang dewasa. Jika anak mengalami diabetes, kemungkinan besar jenis diabetes yang dialami adalah diabetes mellitus tipe 1. Sementara itu, diabetes pada orang dewasa umumnya adalah diabetes mellitus tipe 2.

Dalam keadaan normal, organ di rongga perut bernama pankreas memproduksi hormon insulin. Hormon ini bertugas memetabolisme gula di dalam darah dan memasukkan gula dari aliran darah ke dalam sel-sel di dalam tubuh untuk diubah menjadi energi.

Artikel Lainnya: Anak Sering Haus, Gejala Diabetes?

Pada diabetes tipe 1, terjadi kerusakan pankreas sehingga hormon insulin tidak terbentuk dengan cukup. Akibatnya, proses metabolisme gula darah terganggu. Gula menumpuk dalam kadar tinggi di dalam darah dan tak dapat masuk ke dalam sel-sel tubuh.

Hingga saat ini, penyebab kerusakan pankreas pada diabetes mellitus tipe 1 belum diketahui dengan jelas. Diperkirakan adanya gangguan imun yang menyebabkan kerusakan tersebut.

2 dari 4 halaman

Kenali Gejala yang Ditimbulkan

Terdapat berbagai gejala diabetes pada anak, di antaranya:

  1. Banyak Kencing dan Mudah Haus

Untuk mengatasi gula darah yang terlalu tinggi, tubuh berusaha untuk mengeluarkan gula bersama dengan urine. Itu sebabnya penderita diabetes memiliki gejala banyak kencing. 

Anak yang mengalami diabetes bisa terbangun beberapa kali di malam hari untuk buang air kecil. Karena banyak kencing, darah menjadi lebih pekat. Untuk mengompensasi hal tersebut, tubuh akan mengirim sinyal haus ke otak. Oleh karena itu, penderita diabetes mudah merasa haus.

  1. Mudah Lapar

Pada diabetes, gula di dalam darah tak bisa dihantarkan ke dalam sel-sel tubuh padahal sel membutuhkan gula untuk diubah menjadi energi. Sel-sel tubuh mengalami kelaparan meskipun gula di dalam darah tinggi. Sel-sel yang kelaparan akan mengirim sinyal lapar ke otak sehingga penderita diabetes sering merasa lapar.

Artikel Lainnya: Anak Sering Ngompol? Jangan-Jangan Diabetes !

  1. Penurunan Berat Badan yang Drastis

Tubuh penderita diabetes tak dapat memetabolisme gula darah. Akibatnya, tubuhnya kekurangan energi. Untuk berusaha mencukupi energi, tubuh akan memecah cadangan gula, lemak, dan protein menjadi energi. Pemecahan semua cadangan energi ini akan menyebabkan berat badan turun drastis.

  1. Mudah Lelah

Gula adalah sumber energi utama untuk beraktivitas. Jika gula tidak dapat dimetabolisme dengan baik, gula tak bisa diubah menjadi sumber energi. Kekurangan energi tersebut menyebabkan anak dengan diabetes mudah merasa lelah.

  1. Napas Berbau Buah atau Aseton

Salah satu komplikasi tersering dari diabetes mellitus tipe 1 adalah ketoasidosis diabetikum (KAD). Bahkan sering kali diagnosis diabetes pada anak baru diketahui saat anak mengalami KAD.

Komplikasi diabetes ini ditandai dengan adanya badan keton, hasil pemecahan lemak di dalam darah. Badan keton tersebut menyebabkan napas berbau buah atau berbau aseton.

Artikel Lainnya: Cara Deteksi Dini Diabetes Mellitus pada Anak

3 dari 4 halaman

Penanganan Diabetes pada Anak

Penanganan diabetes pada anak berbeda dengan penanganan pada orang dewasa karena jenis diabetes mellitus yang dialami berbeda.

Hingga kini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan diabetes. Meski demikian, anak dengan diabetes dapat memiliki kadar gula darah yang terkontrol dengan menggunakan obat secara tepat dan teratur.

Penanganan diabetes pada anak yang utama adalah dengan memberikan insulin. Insulin dapat diberikan dengan suntikan di bawah kulit 2-3 kali dalam sehari, atau menggunakan pompa insulin yang “ditanam” di bawah kulit.

Selain itu, penanganan lain yang tak kalah penting adalah mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, memonitor gula darah dengan teratur, dan melakukan aktivitas jasmani secara teratur.

Waspadailah gejala diabetes pada anak. Jika anak menunjukkan salah satu gejala diabetes, konsultasikan dengan dokter dan periksakan gula darah anak untuk memastikan ada tidaknya diabetes.

[FY/ RS]

0 Komentar

Belum ada komentar