Sukses

Mitos dan Fakta Seputar Skizofrenia

Banyak dikenal awam sebagai “gila”, mitos dan fakta seputar skizofrenia banyak beredar di masyarakat. Mari kupas tuntas di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang memengaruhi cara berpikir penderitanya. Kondisi ini juga membuat penderitanya memiliki gangguan emosi terhadap lingkungan sekitar.

Banyaknya informasi yang simpang siur menciptakan berbagai mitos tentang skizofrenia di masyarakat yang faktanya belum tentu jelas. Setelah gangguan bipolar dan depresi, Kementerian Kesehatan RI menyebut bahwa sekitar 400 ribu orang (atau setara dengan 1,7 kasus per 1.000 penduduk) mengalami skizofrenia. Karenanya, pemahaman mengenai gangguan mental ini sangat penting.

Ketahuilah beberapa fakta dan mitos seputar skizofrenia yang beredar di masyarakat berikut ini: 

1 dari 4 halaman

Fakta tentang skizofrenia

  • Fakta 1: Ada peran faktor genetik

Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid, dari KlikDokter, faktanya timbulnya skizofrenia belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor kombinasi yang berperan.

“Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi dari faktor genetik, sistem kimiawi otak, serta faktor lingkungan yang berkontribusi terhadap perkembangan skizofrenia,” terangnya.

Jacob S. Ballon, MD, profesor ilmu psikiatri dan perilaku dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, juga mengatakan hal yang sama. Kepada Everyday Health, ia mengatakan bahwa banyak peneliti memperkirakan bahwa komponen genetik menyumbang 10 persen terhadap risiko skizofrenia.

  • Fakta 2: Penggunaan mariyuana dikaitkan dengan meningkatnya risiko skizofrenia

Faktanya, hubungan antara keduanya cukup mengkhawatirkan. Menurut sebuah studi di Australia yang diterbitkan di “Archives of General Psychiatry” tahun 2010, menunjukkan bahwa pengguna kanabis reguler menggandakan risiko mereka mengembangkan psikosis dari 0,7 persen menjadi 0,14 persen.

Ada pula bukti epidemiologis yang menunjukkan bahwa penggunaan kanabis dikaitkan dengan peningkatkan risiko hasil psikotik, serta menegaskan hubungan dosis-respons antara level penggunaan dan risiko psikosis di kemudian hari. Ini tertuang dalam jurnal medis “World Psychiatry” tahun 2016.

2 dari 4 halaman

Selanjutnya

  • Fakta 3: Risiko bunuh diri lebih tinggi

Tertulis dalam sebuah studi dari Kanada di jurnal “Schizophrenia Research and Treatment” tahun 2016, prevalensi seumur hidup dari upaya bunuh diri di antara penderita skizofrenia adalah 39,2 persen dibandingkan dengan 2,8 persen pada populasi umum.

“Upaya tersebut bisa terjadi saat penderita punya gejala mendengar hal-hal yang menyuruh mereka untuk bunuh diri. Atau bisa juga terjadi setelah pulih dari banyak gejala, lalu mereka punya cara pikir berbeda dan khawatir akan masa depannya dan takut menyakiti dirinya pada saat itu,” jelas Prof. Jacob.

Bunuh diri sangat mungkin terjadi, apalagi jika penderita “termakan” stigma tentang kondisi yang mereka alami. Mereka merasa tak akan mampu memiliki kehidupan yang mereka harapkan. Pada kondisi tersebut, penderita sangat rentan untuk melakukan tindakan bunuh diri.

  • Fakta 4: Penderita mengalami delusi yang tidak bersumber dari realita

Ini juga dikenal sebagai waham. “Waham adalah suatu keyakinan yang salah (tidak sesuai fakta), tapi dipertahankan secara kuat meskipun sudah dijelaskan mengenai realita yang sebenarnya terjadi,” ungkap dr. Resthie.

Ada beberapa jenis waham yang sering dialami penderita skizofrenia, yaitu:

  • Waham kejar atau persekusi, yaitu keyakinan bahwa ada orang yang ingin membahayakan diri penderita.
  • Waham rujukan, yaitu keyakinan bahwa orang-orang di sekitar penderita dan seluruh alam semesta punya hubungan dengan penderita.
  • Waham kebesaran, yaitu keyakinan bahwa penderita adalah orang yang sangat penting.
  • Waham kendali, yaitu keyakinan penderita bahwa dirinya dikendalikan oleh orang atau pihak lain.
3 dari 4 halaman

Mitos tentang skizofrenia

  • Mitos 1: Penderita skizofrenia punya kepribadian ganda

Bisa dibilang ini mitos yang “awet” hingga sekarang. Prof. Jacob dari Universitas Stanford mencoba untuk menjelaskan.

“Salah satu penjelasan yang paling masuk akal yang pernah saya dengar adalah dari penguraian kata skizofrenia itu sendiri. Secara etimologis, ‘schizo’ berarti split (membagi, terpisah, terbelah) dan ‘phrenia’ yang berarti pikiran. Menggabungkan dua kata tersebut membuat banyak orang yang menarik kesimpulan yang salah sehingga penderita skizofrenia dianggap memiliki satu atau lebih kepribadian.”

  • Mitos 2: Penderita skizofrenia rentan terhadap kekerasan

Menurut studi yang diterbitkan di jurnal “PLoS Medicine”, ada hubungan antara kekerasan dan skizofrenia dan psikosis lainnya, tetapi kebanyakan risiko disebabkan karena penyalahgunaan zat. Kesimpulan peneliti, risiko perilaku kekerasan para orang-orang dengan psikosis dan penyalahgunaan zat serupa dengan risiko orang-orang dengan penyalahagunaan zat tanpa kondisi psikosis.

  • Mitos 3: Tak ada cara efektif untuk menangani skizofrenia

Faktanya, banyak pasien skizofrenia memiliki kualitas hidup yang cukup baik. Bahkan banyak yang bisa lulus kuliah dan beberapa menikah.

Menurut dr. Theresia Rina Yunita dari KlikDokter, yang harus dilakukan orang-orang di sekitar penderita adalah mendukung mereka untuk berobat ke dokter. Tujuannya adalah untuk mengontrol kekambuhan, sehingga penderitanya bisa menjalani hidup dengan normal.

Beberapa jenis pengobatan yang bisa dilakukan penderita antara lain terbagi menjadi psikososial dan psikofamakologi, antara lain:

  • Psikososial, yaitu dengan membantu pasien dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup agar mereka bisa kembali membaur dan berinteraksi.
  • Psikofarmakologi, yaitu dengan obat-obatan yang berkhasiat terhadap sistem saraf pusat yang memengaruhi fungsi psikis dan mental.

Mengenali fakta dan mitos tentang skizofrenia sangat penting, agar Anda bisa melakukan tindakan pencegahan sejak dini terhadap kondisi tersebut. Selain itu, Anda juga perlu mengetahui sejumlah gejalanya seperti enggan berkomunikasi dengan orang lain, ekspresi datar dan sering termenung. Selain itu seseorang yang mudah curiga pada orang lain, mengungkapkan pemikiran yang tidak wajar dan mengalami gangguan tidur juga kemungkinan mengalami skizofenia.

Jika ada orang-orang di sekitar Anda menampakkan gejala-gejala di atas, jangan kucilkan mereka. Selain itu, berhentilah menganggap atau menyebut bahwa penderita skizofrenia adalah orang gila yang harus dijauhi. Ajaklah untuk menemui ahli kesehatan jiwa agar bisa ditangani. Makin dini dideteksi, maka tingkat kesembuhannya makin baik.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar