Sukses

Buruh Sering Shift Malam, Rentan Kena Asma?

Aktivitas produksi pabrik sering membuat buruh harus bekerja pada shift malam. Situasi ini dinilai rentan memicu asma. Benarkah demikian?

Klikdokter.com, Jakarta Banyak orang yang menganggap bahwa asma didapat saat masa kanak-anak. Namun, tidak juga. Nyatanya, asma bisa diderita saat usia dewasa akibat beberapa faktor, salah satunya adalah jenis pekerjaan yang digeluti. Ada sebagian pendapat yang mengatakan bahwa buruh yang sering dapat jadwal shift malam rentan terkena asma. Bagaimana fakta medis mengenai hal ini?

Asma merupakan penyakit peradangan kronis saluran pernapasan yang ditandai dengan penyempitan dan peradangan saluran napas. Menurut penjelasan dari dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, dasar dari penyakit asma adalah alergi. Apabila penderita alergi terkena salah satu pemicu atau alergennya, maka gejala alergi seperti sesak napas atau asma bisa terjadi.

Lantas, apakah buruh yang sering jaga malam membuat mereka lebih rentan terkena asma?

Shift kerja bisa pengaruhi kondisi kesehatan

Menurut dr. Sepriani tentu ada perbedaan kondisi kerja pada jam normal alias dimulai pada pagi hari dan mulai bekerja pada malam hari. Pada malam hari, udara cenderung lebih dingin. Selain itu, orang-orang yang bekerja pada shift malam biasanya sudah melakukan sejumlah aktivitas pada siang maupun sore hari. Sehingga, ketika jam kerjanya tiba, risiko terjadinya kelelahan ekstra pun meninggi.

“Nah, kalau pekerja itu sedari awal sudah memiliki alergi, lalu bertemu dengan faktor pencetusnya, misalnya saja udara dingin di malam hari, tungau, maupun kelelahan, maka, orang tersebut dapat mengalami serangan asma,” kata dr. Sepri menjelaskan.

Jadi, bisa dibilang pekerja shift malam memang benar akan lebih rentan mengalami asma, apalagi sejak awal ia sudah memiliki risiko alergi. Lalu, bagaimana jika pekerja tersebut tidak memiliki risiko alergi?

“Jika tidak ada risiko alergi, meski ia bekerja di udara yang cenderung dingin dan mengalami kelelahan, ia tidak akan mengalami asma,” jelas dr. Sepri singkat. Jadi, dibutuhkan faktor alergi untuk membuat seorang pekerja shift malam untuk bisa terserang asma.

Kiat hadapi shift malam

Sulit memang untuk menghindari shift malam bila itu memang kewajiban Anda sebagai pekerja. Lebih menjengkelkannya lagi adalah jika perusahaan tempat bekerja bukanlah jenis perusahaan yang menoleransi kondisi kesehatan pekerjaannya. Jadi, mau tak mau untuk meminimalkan risiko, pekerja biasanya mengenakan pakaian tebal dan menyediakan minuman hangat agar kondisi tidak semakin parah.

“Mereka yang bekerja pada malam hari juga mesti meluangkan waktunya untuk beristirahat. Tak hanya itu, mereka juga disarankan untuk memperbanyak minum air putih. Jika ingin menambah energi atau mengusir kantuk, sebaiknya jangan makan makanan manis terlalu banyak. Coba konsumsi buah sebagai penggantinya,” saran dr. Sepri.

Untuk berjaga-berjaga, pekerja yang sering mendapatkan shift malam juga bisa berkonsultasi dengan dokternya untuk mendapatkan asthma controller. Penyakit asma itu sendiri bisa diatasi oleh dua hal, yaitu reliever dan controller. Reliever adalah pereda untuk menangani gejala asma saat itu juga, sedangkan controller adalah obat untuk mengontrol gejala asma yang sudah kronis, misalnya berupa obat minum dan inhalasi. Dengan berkonsultasi pada dokter, controller dapat diberikan dengan dosis yang tepat sesuai kebutuhan.

Bekerja pada malam hari memang punya konsekuensi tersendiri, khususnya menyangkut kesehatan. Oleh sebab itu, para buruh yang sering bekerja shift malam mesti menjaga kondisi tubuh sebaik-baiknya karena rentan kena asma. Jangan sampai gejala asma timbul karena Anda tidak mengantisipasi pencetusnya. Bawa selalu inhalasi dan/atau obat asma serta baju hangat ke mana pun Anda pergi. Gunakan juga masker supaya Anda tidak menghirup zat-zat alergen. Dengan begitu, kekambuhan asma bisa ditekan serendah mungkin meski harus bekerja malam hari bak kalong.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar