Sukses

Turunkan Berat Badan dengan Obat Pencahar, Amankah?

Obat pencahar sering dijadikan sebagai alternatif untuk menurunkan berat badan. Namun, apakah efektif dan aman bagi kesehatan?

Klikdokter.com, Jakarta Memiliki berat badan dan tubuh ideal adalah idaman setiap orang. Selain meningkatkan rasa percaya diri, kondisi tubuh yang demikian juga dapat mencegah penyakit. Tak heran, banyak yang berlomba-lomba untuk memiliki berat badan dan tubuh yang ideal. Beragam cara pun rela dilakoni, salah satunya dengan mengonsumsi obat pencahar.

Tidak dimungkiri, obat pencahar memang sering dijadikan alternatif untuk “menguras” saluran pencernaan agar lemak bisa ikut keluar bersama dengan kotoran. Tindakan ini tergolong sering dilakukan, khususnya oleh orang-orang yang ingin menurunkan berat badan secara instan.

Mengenal obat pencahar

Obat pencahar biasanya digunakan untuk membantu menstimulasi pergerakan usus dan melancarkan buang air besar. Obat ini dapat diresepkan oleh dokter, atau dibeli secara bebas di pasaran.

Obat pencahar sebenarnya diindikasikan untuk mereka yang menderita konstipasi atau sembelit. Selain itu, obat jenis ini juga kerap diresepkan oleh dokter untuk membantu melancarkan buang air besar pada pasien gagal jantung dan sirosis (pengerasan) hati.

Ada beberapa jenis obat pencahar. Masing-masing bekerja dengan mekanisme yang berbeda.

  • Obat pencahar stimulan: bekerja dengan cara mempercepat pergerakan usus
  • Obat pencahar osmotik: bekerja dengan membuat usus besar menahan lebih banyak air
  • Obat pencahar laksatif: dapat menyerap air dengan sendirinya sehingga membentuk “massa’ di dalam usus besar yang dapat mempercepat pergerakan usus. Obat pencahar jenis ini ada yang mengandung garam dan bersifat menarik air, ada yang bersifat lubrikan sehingga mampu melapisi permukaan feses dan usus agar pergerakan lebih lancar, ada pula yang bersifat melunakkan feses sehingga lebih mudah melewati usus besar.
1 dari 2 halaman

Apakah efektif dan aman?

Secara teori, obat pencahar memang dapat membantu menurunkan berat badan. Namun, yang sebenarnya “keluar” dari tubuh Anda hanyalah air dan feses. Selain itu, efeknya pun hanya sementara. Apabila Anda makan dan minum lagi, maka otomatis berat tubuh Anda akan bertambah seperti sedia kala.

Berdasar pada hal itu, menurunkan berat badan dengan mengonsumsi obat pencahar tidak akan memberikan hasil yang efektif, terutama untuk jangka panjang. Lagi pula, tidak ada studi yang mendukung efektivitas penggunaan obat pencahar untuk menurunkan berat badan.

Lebih dari itu, penggunaan obat pencahar yang tidak sesuai indikasi juga dapat merugikan kesehatan. Salah satu keadaan yang sangat mungkin terjadi adalah dehidrasi akibat kekurangan cairan. Hal ini disebabkan obat pencahar bersifat menarik air dari tubuh untuk melancarkan pergerakan usus dan memudahkan feses untuk keluar. Maka dari itu, apabila jumlah air yang keluar tidak diseimbangkan dengan jumlah air yang masuk, penggunaan obat pencahar dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi.

Apabila dehidrasi sudah telanjur terjadi, gejalanya dapat berupa rasa haus, kurang konsentrasi, kelelahan, badan lemas, dan gangguan suasana hati (mood). Pada kasus yang lebih berat, dehidrasi dapat menyebabkan keluhan sakit kepala, berkurangnya produksi urine, hingga penurunan kesadaran alias pingsan.

Selain itu, penggunaan obat pencahar dengan cara sembarangan juga mampu menyebabkan elektrolit tidak seimbang. Ini terjadi karena elektrolit seperti natrium (sodium), kalium (potassium), klorida, magnesium, kalsium, dan fosfat dapat turut keluar melalui feses. Apabila sudah terjadi terjadi, ketidakseimbangan elektrolit dapat menyebabkan keluhan badan lemas, kelemahan pada tubuh, sakit kepala, jantung berdebar, nyeri otot, kebingungan, kejang, koma hingga kematian.

Karena obat pencahar tidak efektif dan berpotensi menyebabkan efek samping merugikan jika tidak dikonsumsi sesuai anjuran, Anda sebaiknya tak lagi mengandalkan obat tersebut untuk menurunkan berat badan. Alih-alih memiliki tubuh langsung dan ideal, penggunaan obat pencahar secara tidak tepat malah bisa menyebabkan kematian.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar