Sukses

Sama-sama Disebabkan Nyamuk, Ini Beda DBD dan Malaria

DBD dan Malaria adalah penyakit yang sama-sama disebabkan oleh nyamuk. Ketahui perbedaannya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Demam berdarah dengue (DBD) dan malaria merupakan jenis penyakit khas negara tropis yang masih sering terjadi dan tak jarang sebabkan kematian jika tidak ditangani dengan segera. Sama-sama disebabkan oleh nyamuk, Anda perlu mengetahui beda kedua penyakit ini, dari perbedaan jenis nyamuk hingga tanda dan gejalanya.

Di Indonesia, prevalensi terjadinya DBD semakin meningkat setiap tahunnya, terutama saat musim penghujan. Sejak tahun 1968, Indonesia dinyatakan sebagai daerah endemis DBD dan kasusnya hampir terjadi di seluruh provinsi.

Berdasarkan Riskesdas 2013, didapat hasil point prevalence sebesar 1.3 persen. Meski begitu, hasil ini tidak menunjukkan kondisi Indonesia yang sebenarnya karena ada beberapa hambatan dalam pengumpulan sampel. Akan tetapi, jika dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, angka point prevalence ini meningkat hampir dua kali lipat. Sedangkan untuk malaria, daerah endemis bisa ditemukan di Papua, Papua Barat, dan NTT.

Hal-hal yang perlu Anda ketahui tentang DBD

DBD disebabkan oleh infeksi virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini juga dikenal dengan sebutan black white mosquito karena warna khas garis putih di atas warna tubuhnya yang hitam.

Nyamuk Aedes aegypti gemar tinggal di genangan air yang bersih, sehingga Anda dapat menemukan nyamuk ini dengan mudah apabila Anda memiliki penampungan air bersih di rumah.

Jika nyamuk ini menggigit Anda, beberapa gejala awal yang dapat timbul antara lain: demam yang mendadak tinggi, disertai nyeri kepala, lemas, bahkan mual dan muntah.  

Setelah fase demam, barulah masuk ke fase kritis. Penderitanya bisa tampak sudah sembuh yang ditandai dengan turunnya demam. Namun, perdarahan spontan bisa terjadi seperti munculnya bintik-bintik merah di kulit, gusi berdarah, mimisan, hingga feses berwarna hitam. Pada fase kritis ini, penderita bisa mengalami tanda-tanda syok apabila tidak diawasi secara ketat.

1 dari 2 halaman

Bedanya dengan malaria

Penyakit malaria disebabkan oleh parasit plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Di Indonesia, ada lima jenis malaria yang dikenal, yaitu malaria falsiparum, malaria vivaks, malaria ovale, malaria malariae, dan malaria knowlesi.

Nyamuk Anopheles sendiri berukuran lebih besar dibandingkan dengan nyamuk lainnya. Tempat hidup nyamuk ini ada di beberapa tempat, seperti genangan air, sungai, sawah, perkebunan, hingga pantai.

Secara garis besar, gejala dan tanda dari penyakit malaria adalah demam. Demam ini dapat terjadi setiap tiga atau empat hari sekali bergantung pada jenis malaria yang diderita. Biasanya, demam juga disertai menggigil hingga berkeringat. Selain itu, gejala penyerta yang juga bisa timbul adalah mual, muntah, diare, nyeri otot, dan nyeri kepala. Tak hanya itu, pada beberapa kasus yang berat bisa ditemukan keluhan seperti kejang hingga penurunan kesadaran.

Cara mencegah DBD dan malaria

Karena sama-sama disebabkan oleh nyamuk, menjaga kebersihan lingkungan dari nyamuk berperan sangat krusial. Langkah-langkah yang bisa dilakukan antara lain:

  • Menjaga kebersihan rumah dengan 3M+, yaitu menguras penampungan air, menutup tempat penampungan air, mengubur barang bekas, dan menghindari gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk ataupun tidur dengan kelambu.
  • Karena nyamuk Aedes aegypti aktif pada pagi hari (pukul 9-10) dan sore hari (pukul 4-5), ada baiknya untuk meningkatkan kewaspadaan dalam beraktivitas.
  • Nyamuk Anopheles aktif pada malam hari (sekitar 6-8). Jadi, jangan lupa untuk menggunakan kelambu atau obat nyamuk di dalam rumah.
  • Apabila akan berpergian ke daerah endemis malaria, Anda bisa minum obat sebagai profilaksis atau pencegahan. Untuk mendapatkan obat tersebut, Anda harus berkonsultasi dulu kepada dokter agar bisa diresepkan sesuai kebutuhan.

Meski sama-sama disebabkan oleh gigitan nyamuk, tetapi DBD dan malaria bebeda. Mulai dari jenis nyamuk, tanda dan gejala, hingga penanganannya. Apabila Anda mengalami salah satu atau beberapa tanda dan gejala yang telah disebutkan di atas, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter. Semakin lama Anda menunda, maka akan semakin cepat komplikasi bisa terjadi.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar