Sukses

Ingin Awet Muda, Kenali Bahan dalam Produk Anti-Aging

Anda yang ingin awet muda tentu paham dengan produk anti-aging. Tahukah Anda perbedaan antara retinol dan retinoid dalam produk tersebut?

Klikdokter.com, Jakarta Pakai produk anti-aging untuk awet muda tapi hasilnya belum maksimal? Siapa tahu karena salah pilih kandungan aktifnya! Retinol dan retinoid merupakan dua bahan yang paling sering muncul dalam produk skin care anti-aging. Meski namanya cukup mirip dan sama-sama dapat membantu melawan munculnya kerutan, keduanya tetap memiliki perbedaan.

Dilansir Reader’s Digest, retinoid adalah kelompok turunan vitamin A yang telah menjadi “bintang” dalam perawatan kulit anti penuaan. Dan menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, retinoid juga dapat digunakan untuk mengobati jerawat, mengurangi komedo, dan juga peradangan.

Dokter kulit bersertifikat Edidiong Kaminska, MD, salah satu pendiri Kaminsky Medical and Surgical Consulting Incorporated mengatakan bahwa bahan kimia retinoid dapat pula meningkatkan pergantian sel, menyamarkan keriput dan noda hitam, serta meningkatkan elastisitas kulit sehingga bisa tampak terlihat lebih muda. Dengan kata lain, retinoid ini merupakan bahan produk skin care yang multifungsi! Lalu, apa bedanya dengan retinol?

Perbedaan retinol dan retinoid

Retinol itu sendiri sebenarnya salah satu jenis dari retinoid. Umumnya, produk perawatan yang dijual di pasaran mengandung retinol. Retinol diketahui lebih lemah ketimbang retinoid. Sedangkan, retinoid lebih sering ditemukan pada obat-obatan yang lebih kuat, misalnya tretinoin, tazarotene, dan adapalene. Kendati demikian, keduanya merupakan perawatan anti-aging yang direkomendasikan oleh para ahli dermatologi.

Sementara itu, bila kerutan atau garis halus pada wajah Anda tidak terlalu parah atau sekadar ingin menjaga kulit supaya tidak mengalami penuaan dini, membeli produk skin care yang mengandung retinol sepertinya sudah cukup. Sebab, bahan tersebut bisa membantu Anda mewujudkan hal itu dengan proses yang lebih “santai” dan tidak terlalu keras.

Sedangkan, menurut Dr. Kaminska, Anda yang memang sudah memiliki keriput atau garis halus dan ingin segera menyamarkannya, lebih baik gunakan produk anti-aging yang mengandung retinoid karena efeknya jauh lebih kuat ketimbang retinol. Untuk menjadi asam retinoat, retinol butuh dikonversi sehingga memakan waktu perawatan yang lebih lama. Berbeda dengan retinoid, ia tidak perlu melalui proses pengonversian dan langsung bisa bekerja maksimal pada kulit.

Cara penggunaan yang aman

Meski retinoid tampak menjanjikan perubahan kulit yang lebih efektif, sebaiknya Anda tidak menggunakannya secara berlebihan. Sebab, setiap jenis retinoid yang Anda gunakan berpotensi mengiritasi kulit dan dapat menyebabkan efek samping, seperti kemerahan dan pengelupasan kulit. Hal itu pun dibenarkan oleh dr. Atika dari KlikDokter.

Menurutnya, selain dapat menimbulkan kemerahan dan pengelupasan, kulit Anda pun akan menjadi lebih sensitif terhadap cahaya matahari dan bahkan bisa membengkak. “Jadi buat orang yang memiliki hipersensitivitas terhadap retinoic acid mesti ekstra berhati-hati,” jelasnya.

Jika Anda mendapatkan produk antipenuaan yang mengandung retinoid oleh dokter kulit, selalu ikuti instruksi dokter. Menurut dr. Atika, krim retinoid acid digunakan hanya pada malam hari. Lalu, oleskan 1-2 jam sebelum tidur untuk memberikan waktu pada kulit menyerap bahan tersebut dan menghindari krim menempel pada bantal. Keesokan paginya, gunakan tabir surya dengan minimal SPF 30 serta pelembap untuk mengurangi efek samping.

Memakai produk anti-aging agar selalu awet muda sah saja kok. Jadi, Anda lebih memerlukan retinol atau retinoid sebagai anti-aging Anda? Penggunaannya tergantung dari tujuan dan kondisi kulit. Jika tujuannya adalah untuk mencegah penuaan dini dan keriput belum banyak muncul, pilih produk berbahan retinol. Sedangkan, bagi Anda yang memiliki keriput dan elastisitas kulit yang sudah berkurang, maka gunakanlah produk yang mengandung retinoid.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar