Sukses

Ini Orang-orang yang Berisiko Tinggi Kena Malaria

Malaria lebih mudah terjadi pada orang-orang yang tergolong berisiko tinggi. Siapa sajakah itu?

Klikdokter.com, Jakarta Setiap orang dapat terinfeksi malaria, sekalipun mereka sehat. Meski demikian, ada kelompok tertentu yang lebih berisiko mengalaminya. Bahkan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), hampir setengah dari populasi dunia berisiko terkena malaria.

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium. Parasit ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles betina yang telah terinfeksi sebelumnya. Keluhan biasanya muncul dalam waktu 10–15 hari setelah tergigit nyamuk. Tanda dan gejala khasnya berupa demam tinggi, diikuti dengan reaksi menggigil dan diakhiri dengan berkeringat.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, sekitar 72 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah bebas malaria. Namun, masih ada sekitar 10,7 juta penduduk yang bermukim di zona endemis menengah dan tinggi malaria, yakni di sebagian wilayah Kalimantan, Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Parasit penyebab malaria

Ada lima jenis parasit Plasmodium yang menyebabkan malaria pada manusia, yakni Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, Plasmodium ovale, dan Plasmodium knowlesi.

Di antara kelima penyebab ini, yang paling berat dan berbahaya yakni infeksi Plasmodium falciparum. Infeksi Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale biasanya lebih ringan, namun parasit dapat “tidur” dalam tubuh manusia selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sewaktu-waktu, malaria bisa kambuh bila kekebalan tubuh sedang menurun.

Parasit Plasmodium yang telah memasuki tubuh manusia akan berkembang biak di organ hati dan kemudian masuk ke dalam sel darah merah. Di dalam sel ini, parasit juga kian berkembang biak dan pada akhirnya memicu pecahnya sel darah merah. Saat inilah, keluhan malaria mulai muncul.

Siapa saja yang berisiko?

Pada dasarnya, setiap orang bisa mengalami malaria. Tetapi, sebagian besar kasus memang terjadi pada mereka yang tinggal di wilayah endemis malaria. Mereka yang berasal dari wilayah bebas malaria pun dapat terinfeksi ketika bepergian ke wilayah-wilayah ini. Sebut saja turis domestik maupun mancanegara yang bepergian ke wilayah timur Indonesia, atau mereka yang banyak melakukan perjalanan dinas ke area-area tersebut.

Selain itu, ada kelompok orang yang lebih rentan tertular malaria dan mengalami infeksi malaria berat yang mengancam nyawa. Mereka yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah bayi di bawah 1 tahun, anak balita, ibu hamil, dan pengidap HIV/AIDS. Secara umum, kelompok ini memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih rendah ketimbang orang sehat dan karenanya, lebih mudah terinfeksi malaria.

Pada sebagian kasus, malaria juga bisa menular melalui transfusi darah atau dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya, baik sebelum atau selama proses persalinan.

Faktor lain yang memengaruhi risiko tertular malaria

Faktor individu tampaknya memengaruhi kerentanan seseorang mengidap malaria. Meski demikian, faktor lingkungan juga berperan dalam menularkan malaria. Lingkungan yang banyak genangan air lebih disukai nyamuk pembawa parasit malaria, sehingga mudah berkembang biak.

Di samping itu, minimnya penggunaan pakaian yang bersifat protektif, kelambu, losion antinyamuk, serta obat pencegah akan meningkatkan risiko seseorang tertular malaria.

Oleh sebab itu, untuk menurunkan risiko tertular malaria, carilah informasi tentang daerah tujuan sejak jauh-jauh hari. Cari tahu pula apa yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksinya. Umumnya, Anda dianjurkan untuk mengonsumsi obat pencegah malaria sebelum, selama, dan setelah melakukan perjalanan. Tapi ingat, obat-obat ini hanya mengurangi risiko infeksi sebanyak 90 persen. Sisanya, upayakan dengan menyiapkan segala perlengkapan agar Anda terhindar dari gigitan nyamuk.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar