Sukses

Remaja Lakukan Tindak Kekerasan, Ada Indikasi Gangguan Otak?

Remaja yang melakukan tindak kekerasan, apakah ini merupakan indikasi adanya gangguan di otak?

Klikdokter.com, Jakarta Berita mengenai seorang gadis SMP berusia 14 tahun yang mengalami pengeroyokan oleh 12 siswa SMA di Pontianak, Kalimantan Barat, masih menjadi perbincangan. Simpati terus mengalir kepada korban dan keluarga dan menuntut agar pelaku kekerasan ditindak seadil-adilnya. Berita terbaru, polisi sudah menetapkan tiga orang tersangka utama dari kasus ini, ketiganya masih remaja berusia 17 tahun. Lalu mengapa remaja bisa berbuat sadis dan agresif demikian? Benarkah remaja yang melakukan tindak kekerasan bisa terindikasi memiliki gangguan otak?

Adakah kaitan antara pelaku kekerasan dan gangguan otak?

Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya, apakah remaja pelaku kekerasan, seperti kasus di atas, merupakan indikasi adanya gangguan otak?

Otak merupakan organ yang sangat vital. Hal ini karena otak mengatur aktivitas terkecil hingga yang sistemik di dalam tubuh. Otak menerima semua informasi yang terjadi dalam tubuh dan memberikan respons yang diperlukan.

Selain itu, otak juga mempunyai kemampuan luar biasa yang disebut plastisitas otak, yang berarti otak dapat memodifikasi struktur dan fungsinya tergantung apa yang terjadi dalam tubuh dan lingkungan luar.

Pernyataan tentang kekerasan dan agresivitas pada remaja adalah akibat adanya gangguan otak tidak sepenuhnya benar. Pada dasarnya, hal tersebut diakibatkan karena berubahnya struktur dan fungsi otak akibat adanya respons dari dalam tubuh maupun dari lingkungan sekitar.

Penyebab dari dalam diri bisa berupa stres, cemas, keinginan untuk membuktikan diri, dan tidak kuat secara spiritual. Selain itu, faktor lingkungan juga berperan dalam mendorong terjadinya tindak kekerasan.

Kurangnya perhatian dari orang tua, adanya masalah dalam keluarga, hubungan antar teman, serta kurangnya edukasi. Jika ini semua berlangsung cukup lama, maka otak akan mengubah struktur dan fungsinya sesuai dengan respons yang dibutuhkan.

Berikut ini adalah bagian-bagian otak yang terdampak dan apa saja yang terjadi hingga seseorang bisa menjadi agresif dan melakukan tidak kekerasan.

  • Amigdala

Ini adalah organ kecil di dalam otak yang berbentuk seperti kacang. Meski kecil, tetapi perannya sangat penting untuk mendukung kehidupan manusia sehari-hari. Amigdala berperan dalam mengatur emosi, termasuk perasaan takut dan senang.

Para peneliti menemukan adanya reaksi berlebihan dari amigdala ketika seseorang emosi dan melampiaskannya lewat tindak kekerasan. Jika pelampiasan ini menjadi kebiasaan dan tidak terkontrol, nantinya amigdala akan lebih mudah bereaksi berlebihan, sehingga seseorang menjadi lebih agresif. Hal ini merupakan akibat kemampuan plastisitas otak.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

  • Korteks prefrontal

Bagian ini terletak di permukaan luar otak. Korteks prefrontal berperan dalam proses pertimbangan dan pengambilan keputusan. Peneliti mengatakan, pada seseorang yang sudah biasa melakukan tidak kekerasan, bagian ini tidak banyak bereaksi sehingga orang tersebut tidak memikirkan akibatnya atas apa yang dilakukan.

Mengaitkannya dengan kasus penganiayaan remaja putri di Pontianak, para pelaku pengeroyokan dilaporkan menyadari kesalahannya dan sudah meminta maaf. Namun, saat pengeroyokan berlangsung, mungkin bagian korteks prefrontal ini tidak banyak bereaksi karena berhubungan dengan plastisitas otak.

  • Serotonin

Serotonin adalah zat kimia otak yang mengatur mood dan perasaan. Jika kadar serotonin dalam batas normal, perasaan Anda akan baik-baik saja dan merasa senang. Namun, jika sedang stres atau depresi, kadar serotonin bisa menurun.  Apabila hal ini berlangsung terus-menerus, kadar serotonin di otak akan terbiasa dengan perasaan yang tidak baik, sehingga menjadikan orang tersebut mudah marah dan tersinggung.

Jadi, remaja yang melakukan tidak kekerasan tidak diakibatkan oleh gangguan otak. Karena, hal tersebut disebabkan oleh berubahnya struktur dan fungsi otak akibat adanya respons dari dalam tubuh maupun lingkungan. Kasus tindak kekerasan ini memang sudah terlanjur terjadi. Namun, dengan mengetahui bahwa otak punya kemampuan plastisitas, tindak kekerasan dapat dicegah dengan cara lebih peduli kepada keluarga, lingkungan sekitar, dan diri sendiri.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar