Sukses

Pro dan Kontra soal Membedong Bayi

Praktik membedong bayi dapat memberikan sejumlah manfaat. Namun ingat, ada juga efek merugikan yang dapat timbul akibat bedong.

Klikdokter.com, Jakarta Membedong bayi adalah hal yang sangat umum dilakukan, terutama pada bayi yang baru lahir. Praktik ini dilakukan secara turun-temurun di Indonesia, bahkan di beberapa negara dunia. Akan tetapi, pro dan kontra seputar manfaat dan kerugian bedong bayi tetap terjadi hingga saat ini.

Selain dianggap memberikan manfaat, membedong bayi juga bisa memberikan beragam efek samping merugikan anak. Anda yang masih bingung mengenai manfaat dan kerugian membedong, simak ulasannya di sini.

Manfaat bedong

Tindakan membalut seluruh tubuh bayi dengan kain lampin tidak hanya sekadar membuat anak nyaman. Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, banyak alasan orang tua membedong bayi mereka. Yang pertama, agar anak dapat tidur dengan lebih nyenyak.

“Bayi baru lahir masih memiliki suatu refleks yang disebut refleks moro. Kondisi ini membuat bayi sensitif terhadap suara dan sentuhan, sehingga mudah kaget dan terbangun mendadak. Nah, bedong bayi bisa mengurangi terjadinya refleks moro sehingga dapat tidur lebih nyenyak.”

Selain itu, menurut dr. Sepri, bayi masih belum memiliki pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) yang baik. Lemak dalam tubuhnya pun belum cukup banyak untuk dapat menahan panas, sehingga bayi mudah kedinginan dan rentan mengalami hipotermia.

“Nah, bedong bayi dapat membantu mencegah hal tersebut dan membuat tubuh bayi tetap hangat. Balutan kain yang cenderung sempit saat membedong pun menyerupai kondisi di dalam rahim ibu. Ini biasanya akan membuat bayi lebih tenang dan tidak rewel,” tutur dia.

1 dari 2 halaman

Apakah kerugiannya?

Namun, di balik manfaatnya, ternyata membedong bayi punya efek buruk. Menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid dari KlikDokter, berbagai studi telah membuktikan bahwa bayi yang dibedong berisiko 2-5 kali lipat untuk mengalami displasia pinggul.

Kondisi ini merupakan kelainan tulang pinggul yang ditandai dengan tidak pasnya tulang-tulang yang menyusun pinggul. Akibatnya, pinggul menjadi tidak stabil untuk berdiri dan berjalan.

“Hal ini bisa terjadi karena teknik bedong bayi yang salah. Banyak orang membedong bayi dalam keadaan tungkai bawah bayi diluruskan semaksimal mungkin. Inilah yang memicu terjadinya displasia pinggul pada bayi yang dibedong,” kata dia.

Normalnya, tungkai bayi baru lahir memang dalam keadaan agak tertekuk seperti kaki katak. Ini sama sekali bukan kelainan. “Jadi saat membedong, tungkai dan kaki harus tetap dibiarkan dalam keadaan agak tertekuk,” dia menjelaskan.

Tak hanya risiko displasia pinggul, bayi yang dibedong juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami dehidrasi akibat kepanasan (overheating) dan risiko mengalami kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome atau SIDS). Menurut dr. Resthie, hal ini terutama rentan terjadi pada bayi yang dibedong dengan terlalu ketat.

Sebaiknya dibedong atau tidak?

Bedong bayi boleh-boleh saja dilakukan, asalkan dengan cara yang baik dan benar. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan terkait bedong bayi, seperti dijelaskan dr. Sepriani, adalah:

  • Tidak membedong terlalu ketat, dan selalu gunakan kain yang tipis dan menyerap keringat.
  • Bedong bayi hanya hingga usianya sekitar 3 bulan. Membedong bayi lebih dari usia 3 bulan hanya akan membatasi ruang geraknya dan menimbulkan rasa tidak nyaman.
  • Bedong bayi mulai dari bahu ke bawah. Untuk menutupi kepala, cukup gunakan topi saja.
  • Pastikan bagian tungkai tetap longgar dan posisi kaki sedikit tertekuk ke atas. Anda tidak perlu berusaha meluruskan kedua kakinya.
  • Tempatkan bayi secara telentang di atas kain bedong. Jangan membedong bayi saat tengkurap.

Praktik bedong bayi dapat memberikan sejumlah manfaat. Namun ingat, ada juga efek merugikan yang dapat timbul akibat bedong. Jadi, keputusan ada pada Anda sebagai orang tua. Bila Anda memutuskan untuk tetap membedong bayi, lakukan dengan memperhatikan beberapa hal yang telah disampaikan di atas, atau simak juga tips nya di artikel ini.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar