Sukses

Gejalanya Mirip, Ini Muntaber atau Diare?

Karena gejalanya mirip, kadang muntaber dikira diare atau sebaliknya. Sama-sama bikin bolak-balik ke toilet, ini perbedaan keduanya.

Klikdokter.com, Jakarta Jika dibandingkan dengan muntaber, diare mungkin terdengar lebih umum di telinga masyarakat. Meski begitu, keduanya memiliki gejala yang mirip sehingga tak jarang bikin salah kaprah. Wujud feses yang lembek dan cenderung cair merupakan gejala yang membuat dua kondisi tersebut sering dikira sama.

Menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, diare adalah penyakit yang menyebabkan peningkatan frekuensi buang air besar menjadi tiga kali atau lebih dalam sehari, dengan bentuk tinja lunak atau cair.

Bedanya dengan muntaber, dr. Nadia Octavia juga dari KlikDokter ikut menjelaskan, bahwa gastroenteritis merupakan penyakit saluran cerna dan dapat disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, parasit, atau jamur.

“Gejala yang sering dialami adalah diare, demam, nyeri perut, sakit kepala, nafsu makan tidak ada atau berkurang, lemah, mual, muntah, mialgia (nyeri otot), dan pada anak-anak mereka bisa rewel dan gelisah,” kata dr. Nadia.

Pemicu lain diare dan muntaber juga bisa karena konsumsi kafein berlebih dan alkohol juga. Kondisi intoleransi laktosa pun juga bisa menyebabkan hal serupa, sehingga penderitanya harus berhati-hati.

Jadi, muntaber dan diare adalah dua kondisi yang berbeda. Sederhananya, jika Anda diare, belum tentu Anda mengalami muntaber, Sedangkan jika Anda muntaber, gejala diare akan Anda alami. Ini karena diare bukanlah jenis penyakit yang berdiri sendiri, tetapi merupakan gejala dari suatu penyakit. Mulai dari inflammatory bowel disease atau penyakit radang usus, keracunan makanan, demam tifoid, dan penyakit lainnya.

1 dari 2 halaman

Membedakan muntaber dan diare

Untuk membedakan apakah “serangan” yang sedang Anda alami termasuk muntaber atau diare, ada satu hal yang paling membedakan antara muntaber dengan diare, yaitu timbul gejala mual muntah serta kram perut. Lebih dari itu, jika infeksi virusnya tergolong parah, penderita bisa mengalami demam, nyeri kepala, hingga nyeri otot.

Bila muntaber disebabkan oleh infeksi bakteri, gejala diare juga bisa disertai darah. Sedangkan pada kasus diare biasa (yang tidak parah), umum tidak disertai gejala lain selain keluhan buang air besar lebih dari tiga kali sehari, serta tekstur feses yang lembek atau cenderung cair.

Diare juga bisa disertai dengan gejala lain, tetapi tergantung dari apa penyakit pemicunya, sehingga campur tangan dokter untuk diagnosis. Namun yang jelas, hal yang paling membedakan adalah gejala mual dan muntahnya.

Waktu penyembuhan antara muntaber dan diare juga berbeda. Sebagai contoh, pada kasus yang disebabkan oleh radang usus, diare bisa bertahan hingga tiga bulan lamanya. Ini karena penyakit radang usus merupakan penyakit kronis.

Bedanya dengan muntaber, umumnya penyakit ini bisa sembuh kurang dari seminggu setelah paparan infeksi virus terjadi. Namun, jika penyebabnya bukan virus, melainkan bakteri, waktu penyembuhannya bisa makan waktu hingga berminggu-minggu.

Hidrasi sangat penting untuk mengatasi keduanya

Jika setelah memeriksakan diri ke dokter dan Anda terdiagnosis muntaber, selain mengonsumsi antibiotik (jika penyebabnya adalah bakteri), Anda bisa membantu mempercepat proses penyembuhan dengan memastikan kecukupan cairan tubuh.

Menjaga hidrasi merupakan cara terampuh dalam mempertahankan kondisi tubuh seseorang yang sedang kehilangan cairan akibat diare.

“Tubuh terdiri atas cairan kurang lebih 80 persen, sehingga dehidrasi atau kekurangan cairan akibat diare bisa mudah terjadi, apalagi pada anak-anak,” kata dr. Nadia. Karenanya, usai mengalami muntah dan diare (15-20 menit kemudian), jangan lupa ganti cairan tubuh dengan memanfaatkan oralit serta ASI bila penyakit tersebut diderita oleh bayi. Lalu, berhenti dulu dari aktivitas supaya Anda bisa beristirahat dengan baik.

Jika penderita muntaber tak bisa menerima cairan dari mulut karena terus-terusan muntah, baiknya segera cari bantuan medis dari fasilitas layanan kesehatan terdekat. Sebab, bisa jadi penggantian cairan yang keluar mesti dilakukan lewat infus.

Untuk mencegah baik diare maupun muntaber, biasakan untuk memastikan kebersihan makanan yang dikonsumsi. Hal ini karena baik diare maupun muntaber dapat terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi. Selain itu, jaga pula kebersihan diri dengan mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum menyiapkan dan mulai makan.

Nah, meski gejalanya mirip, Anda sudah tahu perbedaan muntaber dan diare, kan? Jangan sampai salah kaprah lagi, ya! Dan meski keduanya berbeda, tetapi penanganannya tak jauh beda, serta kemunculannya tak boleh disepelekan. Karena, bila tidak segera ditangani dengan baik, kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan kematian, khususnya pada anak-anak.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar