Sukses

Pasangan Anda Mengidap Sindrom Asperger, Kenali Tantangannya

Merawat anak dengan Asperger mungkin terdengar lebih familier. Tapi bagaimana jika pasangan Anda yang mengalaminya?

Klikdokter.com, Jakarta Baru-baru ini, komedian asal Amerika Serikat, Amy Schumer (37), mengungkapkan bahwa suaminya, Chris Fischer (39), terdiagnonis sindrom Asperger yang merupakan bentuk ringan dari autisme, lewat episode acara komedi “Growing” yang dilakoninya. “Pengumuman” tersebut merupakan salah satu upaya Amy dan Chris untuk menghilangkan stigma yang kerap menyertai gangguan saraf ini.

Ciri-ciri pengidap sindrom Asperger dan autisme kadang sulit dibedakan. Sederhananya, Asperger dianggap sebagai bentuk autisme ringan. Pengidap Asperger tidak memiliki kesulitan dalam belajar, berbahasa, maupun memproses informasi. Mereka justru biasanya menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata, cepat menguasai bahasa dan kosakata baru, serta mampu menghafal berbagai hal dengan detail. Pengidap sindrom Asperger umumnya bisa menjalani fungsi dan aktivitas sehari-hari dengan baik, meski tetap butuh penyesuaian tertentu.

Tantangan memiliki pasangan penyandang sindrom Asperger

“Suami saya terdiagnosis sindrom Asperger dan dia berada dalam spektrum autisme. Ada beberapa tanda yang muncul sejak dini,” kata Amy Schumer.

Amy mengungkapkan bahwa sejak awal ia sudah mengetahui bahwa ada yang berbeda dari diri suaminya. Namun, perbedaan tersebut nyatanya tidak menjadi penghalang dalam pernikahan mereka.

Ditanya mengenai keputusannya untuk membuka kehidupan pribadinya kepada publik, Amy mengatakan dalam acara “Late Night with Seth Meyers”, “Kami berdua ingin membukanya karena selama ini hasilnya positif.” Ia juga menambahkan bahwa banyak orang yang takut kepada diagnosis karena stigma yang menyertainya.

Pengidap sindrom Asperger memiliki sejumlah gejala tertentu. Menurut dr. Karin Wiradarma dari KlikDokter, terdapat tiga gejala utama sindrom ini, yaitu:

  1. Komunikasi

Penderita sindrom ini mengalami kesulitan untuk memahami komunikasi, bahkan dalam bahasa yang sering digunakan sehari-hari sekalipun. Bahasa yang sering digunakan seolah-olah tampak seperti bahasa asing di telinganya. Selain itu, mereka pun mengalami kesulitan dalam mengekspresikan diri secara emosional dan sosial.

“Penderita juga sulit memahami gerakan tubuh orang lain, mulai dari bahasa tubuh, ekspresi wajah, hingga intonasi suara. Selain itu, mereka juga kesulitan untuk memulai, membangun topik, dan mengakhiri percakapan dengan orang lain. Solusinya, berbicaralah dengan singkat dan jelas,” jelas dr. Karin.

  1. Interaksi sosial

Penderita mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman-temannya, baik untuk memulai ataupun mempertahankan pertemanan.

“Sering kali mereka juga kurang dapat menangkap hal-hal yang benar dan salah dalam etika pertemanan,” tambah dr. Karin.

  1. Imajinasi

Penderita sindrom Asperger kesulitan berimajinasi. Mereka lebih menyukai bidang yang lebih logis, seperti matematika dan fisika. Selain itu, mereka juga kesulitan dalam menduga-duga apa yang orang lain alami atau rasakan, meskipun jika hal tersebut cukup dapat diketahui oleh orang pada umumnya.

1 dari 2 halaman

Penderita Asperger tak bisa berbohong?

Salah satu karakteristik Asperger (yang ditunjukkan lewat karakter Dr. Sheldon Cooper dalam serial “The Big Bang Theory”) adalah kesetiaan pada kebenaran, bukan pada perasaan orang.

Berdasarkan penjelasan Tony Atwood, profesor psikologi di klinik Asperger dan autisme Minds & Heart di Brisbane, Australia, kepada LiveScience, kunci sosialisasi adalah “teori pikiran”, yaitu kemampuan untuk menghubungkan keadaan mental dengan individu lain.

“Teori pikiran menentukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau diyakini orang lain,” kata Tony.

Katanya lagi, pasien Asperger cenderung punya teori pikiran yang kurang berkembang, yang membuat mereka kesulitan dalam berempati dengan orang lain. Mereka diketahui terlalu jujur alias tak bisa berbohong. Bahkan pasien yang belajar untuk berbohong pun akan melakukannya dengan sangat buruk.

Mengenai ketidakmampuan penderita Asperger dalam berbohong, Amy juga mengakui hal ini kepada Seth.

“Rasanya seperti mimpi, tetapi juga mimpi buruk!” canda Amy.

Ia mengatakan karakter tersebut bisa menantang karena Chris tak bisa berbohong untuknya. Misalnya ingin pergi dari satu acara dengan alasan harus pulang ke rumah, Chris mengatakan, “Tidak, kita tidak punya tempat yang harus dituju,” terang Amy. Contoh lainnya, Chris juga tak bisa berbohong jika pakaian yang Amy pakai tampak kurang bagus. Meski demikian, Amy juga mengatakan semua karakter Chris membuatnya jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk menikah dengannya.

Memiliki pasangan dengan sindrom Asperger memang bisa sangat menantang. Namun, jika pasangan saling terbuka, membantu, dan mendukung, apalagi juga mendapat pendampingan dari psikolog, adanya sindrom ini bukanlah tantangan besar dalam sebuah hubungan.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar