Sukses

Perlukah Tes Genetika Sebelum Merencanakan Kehamilan?

Kekhawatiran bayi lahir cacat bisa muncul pada saat merencanakan kehamilan. Biasanya, hal yang mendasari dilakukannya tes genetika.

Klikdokter.com, Jakarta Setiap pasangan suami istri tentunya mendambakan buah hati yang terlahir sempurna tanpa cacat sedikit pun. Tak heran, berbagai upaya pun dilakukan saat merencanakan kehamilan, salah satunya dengan melakukan tes genetika. Tapi, benarkah tes ini memang diperlukan?

Bagaimanapun juga, hingga kini masih ada keluarga yang belum bisa menerima kondisi anak yang terlahir cacat. Tes genetika ini dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mengetahui adakah kemungkinan bayi lahir cacat akibat adanya kelainan genetik.

Dampak dari kelainan genetik

Kelainan genetik memang dapat menyebabkan beberapa masalah pada genetik atau kromosom seseorang. Beberapa kelainan genetik yang dapat terjadi antara lain aneuploidy, yaitu kondisi variasi jumlah kromosom dapat bertambah atau justru menghilang pada bagian-bagian tertentu.

Salah satu bentuk aneuploidy adalah monosomi, yaitu hilangnya satu homolog kromosom. Bentuk lainnya adalah trisomi, yaitu kondisi bertambahnya tiga salinan kromosom.

Beberapa jenis kelainan genetik yang dapat diperiksa antara lain cystic fibrosis, fragile x syndrome, sickle cell disease, dan spinal muscular atrophy.

Pada dasarnya, seorang bayi yang terlahir akan mengikuti gen dari kedua orang tuanya. Apabila gen yang dimiliki buruk, maka bayi yang terlahir memiliki genetik yang buruk juga.

Sedangkan, jika salah satu orang tua menurunkan gen yang baik, maka bayi tersebut akan lahir dengan membawa gen karier (gen yang bersifat pembawa) dan tidak memberikan gejala kelainan apapun. Biasanya, hal ini bisa diketahui lewat tes genetika.

1 dari 2 halaman

Perlukah tes genetika dilakukan?

Tes genetika bukanlah pemeriksaan yang rutin dilakukan selama mempersiapkan kehamilan maupun selama kehamilan. Apalagi, pemeriksaan ini membutuhkan biaya yang mahal dan tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas pelayanan tersebut.

Tak jarang, dalam tes ini dibutuhkan pengiriman sampel hingga ke luar negeri untuk mendapatkan hasil pemeriksaan.

Biasanya dokter akan menganjurkan pemeriksaan ini apabila Anda atau pasangan memiliki kelainan genetik di keluarga atau Anda memiliki faktor risiko tinggi, misalnya berusia di atas 35 tahun saat akan merencanakan kehamilan.

Tes genetika sebenarnya masih mengalami pro dan kontra. Sisi positifnya, pemeriksaan ini relatif mudah dilakukan, yaitu hanya membutuhkan sampel darah atau air liur dari pasangan suami istri.

Tes ini dapat memberikan gambaran kepada calon orang tua kemungkinan masalah yang akan muncul, sehingga hasil tes dapat didiskusikan bersama dengan keluarga bila memang ada kemungkinan keturunan yang dilahirkan memiliki kelainan.

Tetapi di sisi lain, pemeriksaan ini cenderung mahal dan bisa saja memberikan hasil yang tidak akurat 100 persen. Sebab, sulit untuk mengetahui kapan gen yang buruk tersebut akan diturunkan pada bayi Anda.

Hasil pemeriksaan tes genetika hanya memberikan gambaran berapa persen kemungkinan ibu melahirkan bayi yang normal atau yang tak normal. Pertimbangan ini yang kian hari membuat calon ibu atau pasangan suami istri menjadi stres untuk memutuskan apakah harus memiliki keturunan atau tidak.

Jadi, perlu atau tidaknya dilakukan tes genetika tergantung dari kesiapan Anda dan pasangan dalam menghadapi kenyataan bayi lahir cacat. Bagaimanapun juga, lahirnya bayi dalam keluarga kecil Anda adalah anugerah dari Tuhan. Tidak ada yang tahu apakah nanti akan terlahir sempurna atau ada kekurangan.

Lakukan upaya pencegahan dari sekarang

Sampai saat ini belum ada pengobatan untuk mengatasi kelainan genetik, meskipun penanganan pendukung seperti fisioterapi dapat dilakukan untuk membantu mengoptimalkan fungsi tubuh.

Oleh sebab itu, untuk mencegah bayi lahir cacat, Anda dan pasangan diharapkan dapat menerapkan hidup sehat dan menghindari paparan radiasi yang berlebihan.

Tes genetika memang tidak diwajibkan dalam merencanakan kehamilan. Namun, jika Anda masih ingin tetap melakukannya, jangan lupa untuk mendiskusikannya kepada dokter spesialis kandungan dan kebidanan untuk mendapatkan informasi yang sesuai.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar