Sukses

Sudahkah Anak Anda Terlindungi dari Difteri Lewat Vaksin DPT?

Salah satu cara melindungi anak dari penyakit difteri adalah dengan memastikan mereka mendapatkan vaksin DPT.

Klikdokter.com, Jakarta Salah satu cara yang sangat efektif untuk melindungi anak Anda dari penyakit difteri adalah dengan vaksin DPT. Tak hanya difteri, melalui vaksinasi DPT, tubuh terlindung dari penyakit pertusis dan tetanus. Ketiganya merupakan penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi.

Pertusis dikenal juga dengan batuk rejan. Kondisi ini menyebabkan batuk yang terus-menerus sehingga anak dapat mengalami kesulitan dalam makan, minum, bahkan bernapas. Pertusis juga dapat menyebabkan pneumonia, kejang, kerusakan otot, dan juga kematian.

Sementara itu, tetanus menyebabkan kontraksi otot yang menyakitkan. Sering kali, hal ini menyebabkan rahang terkunci sehingga sulit untuk membuka mulut. Kondisi ini menyebabkan kematian pada kurang lebih 20 persen penderitanya.

Difteri sendiri disebabkan infeksi bakteri, yang akan menempel pada permukaan dari saluran pernapasan. Bakteri tersebut akan menghasilkan racun yang merusak jaringan sehingga terbentuk lapisan tebal dan berwarna abu-abu pada saluran pernapasan.

Akibatnya, penderitanya akan mengalami kesulitan dalam bernapas dan menelan. Selain itu, racun juga dapat menyebabkan keluhan demam, nyeri tenggorokan, tubuh yang lemah, dan pembengkakan kelenjar pada leher. Lebih lanjut, dapat timbul kerusakan pada jantung, saraf, dan ginjal.

Pemberian vaksin DPT pada anak

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), sebaiknya vaksin DPT diberikan saat anak berusia 2, 3, dan 4 bulan. Apabila diberikan vaksin DTaP, maka umumnya DPT diberikan saat anak berusia 2, 4, dan 6 bulan. Perbedaan antara vaksin DTP dan  DTaP terletak pada komponen antigen untuk penyakit pertusis.

Vaksin DPT sebanyak tiga kali perlu dilengkapi sebelum anak berusia satu tahun. Setelah itu, antara usia 1-5 tahun sebaiknya diberi vaksin ulangan (booster) sebanyak dua kali. Anak akan kembali mendapat imunisasi difteri saat usia sekolah, melalui program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah).

Pemberian tiga atau lebih vaksin difteri efektif untuk melindungi dari penyakit difteri hingga 97 persen. Dengan pemberian vaksin ulangan yang sesuai, efektivitas ini dapat meningkat hingga 99 persen. Tak heran, imunisasi dianggap sebagai perlindungan terbaik terhadap kemungkinan tertular difteri.

1 dari 2 halaman

Efek samping vaksin DPT

Pemberian vaksin DPT dapat menimbulkan efek samping, dari ringan hingga berat. Hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Dapat timbul kemerahan, bengkak, dan nyeri pada lokasi suntikan. Hal ini umum dialami dan umumnya hilang dalam dua hari
  • Terkadang ditemukan demam, rewel, kelelahan, nafsu makan berkurang, atau muntah 1-3 hari setelah pemberian vaksin
  • Reaksi serius, seperti kejang, menangis terus selama 3 jam atau lebih; demam tinggi (lebih dari 40,50C) yang lebih jarang ditemui. Anak lebih tua yang mendapat vaksin ulangan dapat mengalami bengkak pada seluruh lengan atau kaki, keluhan ini pun jarang terjadi
  • Kejang jangka panjang, koma, penurunan kesadaran atau kerusakan otak amat jarang terjadi

Sebagai orang tua, setelah vaksin DPT, Anda dapat melakukan beberapa hal untuk membuat anak lebih nyaman, yaitu:

  • Memberikan minum (misalnya ASI) lebih banyak
  • Memberikan pakaian tipis apabila anak demam. Jika diperlukan, berikan obat anti-demam
  • Mengompres bekas suntikan dengan air dingin
  • Anda boleh memandikan anak, atau menyeka anak dengan air hangat
  • Apabila timbul reaksi serius, reaksi yang berat atau menetap, atau Anda merasa khawatir, silakan bawa anak ke dokter

Sering kali, orang tua khawatir memberikan vaksin apabila anak sedang sakit. Untuk anak yang sakit ringan, misalnya pilek, maka vaksin dapat tetap diberikan sesuai jadwal. Untuk anak yang sakit sedang hingga berat, pemberian vaksin sebaiknya menunggu anak pulih dari sakitnya. Jadi, mari lindungi anak Anda dari difteri dengan vaksin DPT!

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar