Sukses

Radang Tenggorokan atau Difteri? Kenali Bedanya!

Meski punya kemiripan, radang tenggorokan dan difteri adalah dua penyakit yang berbeda. Kenali perbedaannya di sini.

Klikdokter.com, Jakarta Sempat hampir menghilang di Indonesia, akhir-akhir ini difteri kembali muncul akibat cakupan imunisasi difteri yang menurun. Mirip seperti radang tenggorokan, difteri juga menyerang bagian tenggorokan. Akan tetapi, meski punya kemiripan, mereka adalah dua penyakit yang berbeda. Kenali perbedaannya di sini.

Beda penyakit, beda penyebab

Dari sisi penyebabnya, radang tenggorokan dan difteri sungguh berbeda. Radang tenggorokan umumnya disebabkan oleh virus atau bakteri. Beberapa virus yang sering menyebabkan radang tenggorokan misalnya Rhinovirus, Influenza, dan Adenovirus.

Adapun bakteri penyebab radang tenggorokan adalah Streptococcus beta-hemolytic group A, Haemophilus influenza type b, Mycoplasma, dan Chlamydia pnemoniae. Penyebab lain radang tenggorokan dapat berasal dari faktor lingkungan. Misalnya, udara yang dingin dan kering, polusi, merokok, atau makanan dan minuman yang dapat mengiritasi mukosa pada tenggorokan.

Berbeda dengan radang tenggorokan yang dapat dipicu oleh beragam penyebab, difteri hanya disebabkan oleh satu jenis kuman, yaitu Corynebacterium diphtheria.

Gejalanya pun berbeda

Selanjutnya, bagaimana perbedaan gejala radang tenggorokan dan difteri? Simak penjelasannya di bawah ini.

  1. Nyeri tenggorokan

Radang tenggorokan dan difteri menyerang tenggrokan sehingga dapat menyebabkan nyeri di bagian tenggorokan. Sekitar 85-90 persen penderita difteri mengalami nyeri tenggorokan. Namun demikian, yang membedakannya dengan radang tenggorokan, nyeri tenggorokan pada difteri biasanya disertai ingus berwarna putih bercampur nanah.

  1. Demam dan nyeri kepala

Demam juga merupakan salah satu gejala yang dapat terjadi pada penderita radang tenggrokan dan difteri. Demam terjadi pada 50-85 persen orang yang mengalami infeksi difteri.

Selain demam, penderita radang tenggorokan dan difteri juga dapat mengalami nyeri kepala dan rasa tidak enak badan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa berbeda dengan demam yang disebabkan oleh radang tenggorokan, demam pada difteri biasanya tidak setinggi demam yang terjadi pada radang tenggorokan.

  1. Adanya pseudomembran

Ini merupakan gejala yang khas dari infeksi difteri yang paling membedakannya dari radang tenggorokan. Infeksi difteri pada saluran napas menyebabkan terbentuknya selaput berwarna putih di daerah jalan napas yang disebut dengan istilah pseudomembran.

Selaput ini mudah mengelupas dan berdarah. Jika penyakit difteri tidak segera ditangani, pseudomembran ini akan menyebabkan sumbatan jalan napas sehingga menimbulkan sesak napas hingga berakibat kematian.

Sementara itu, pada radang tenggorokan yang disebabkan oleh streptokokus, dapat ditemui bercak-bercak putih pada tenggorokan. Namun, bercak ini tidak sama dengan pseudomembran pada difteri. Bercak putih pada tenggorokan akibat infeksi streptokukus tidak mudah mengelupas dan berdarah seperti pseudomembran pada infeksi difteri.

  1. Bull’s neck

Gejala lain dari infeksi difteri adalah bull’s neck, yaitu pembengkakan daerah leher. Pembengkakan ini disebabkan oleh pembesaran kelenjar getah bening daerah leher serta pembengkakan jaringan lunak sekitar leher akibat proses peradangan.

Pembengkakan kelenjar getah bening di leher juga dapat ditemukan pada radang tenggorokan biasa. Namun pada radang tenggorokan biasa, pembesaran kelenjar getah bening hanya sebatas teraba. Penderita radang tenggorokan tidak sampai mengalami pembengkakan jaringan di sekitar leher yang menyebabkan bull’s neckseperti pada infeksi difteri.

Gejala difteri terkadang memang sulit dibedakan dengan radang tenggorokan. Akan tetapi, ada beberapa gejala yang spesifik pada difteri yang membedakannya dengan radang tenggorokan, seperti pseudomembran, bull’s neck, serta ingus berwarna putih. Namun jika Anda ragu terkait penyakit yang Anda derita, segera temui dokter agar mendapat pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar