Sukses

Polusi Udara dan Autisme, Apa Hubungannya?

Polusi udara dan autisme kerap dikaitkan. Dilihat dari sudut pandang medis, sebetulnya apa hubungan di antara keduanya?

Klikdokter.com, Jakarta Gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder atau ASD) adalah sekelompok kondisi klinis yang dapat ditandai dengan adanya tantangan atau hambatan pada kemampuan bersosialisasi, perilaku repetitif, bicara, atau komunikasi nonverbal. Nah, polusi udara kerap dikaitkan dengan autisme. Menarik untuk mengetahui apa saja hubungan di antara keduanya.

Autisme dapat terjadi sebagai akibat dari kombinasi beberapa faktor, yaitu genetik dan lingkungan. Karena autisme adalah suatu kondisi yang memiliki spektrum, setiap orang yang mengalami kondisi tersebut dapat memiliki ciri khas kelebihan dan hambatannya masing-masing.

Seiring dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai autisme, makin banyak pula penelitian yang dilakukan untuk mencari berbagai faktor risiko yang menyebabkan terjadinya kondisi ini.

Hubungan antara polusi udara dan autisme

Belakangan ini, terdapat dua penelitian yang menunjukkan kaitan antara kadar polusi udara dengan autisme pada anak.

Pada penelitian pertama yang dilakukan di Vancouver, Kanada, terhadap 132 ribu persalinan dari tahun 2004-2009 menemukan, terdapat kaitan antara paparan nitrat oksida yang merupakan hasil emisi mobil saat hamil dengan peningkatan angka kejadian autisme pada anak.

Sementara itu, penelitian lainnya yang dilakukan di Denmark dalam tahun 1989-2013, mencoba untuk mempelajari 15 ribu anak. Penelitian yang dipublikasikan di dalam jurnal medis “Environmental Epidemiology” ini menemukan bahwa paparan terhadap polusi udara pada bulan-bulan pertama kehidupan dan setelahnya juga berkaitan dengan terjadinya autisme anak.

Menurut Lynn Singer, seorang profesor di bidang populasi dan ilmu kesehatan kuantitatif dari Universitas Case Western Reserve di Ohio, Amerika Serikat, penelitian pertama menunjukkan adanya peningkatan kecil dalam terjadinya autisme pada populasi bayi yang terpapar nitrat oksida sebelum terlahir. Beliau juga menambahkan, walaupun peningkatan tersebut cukup kecil, jika ekspos polutan tersebut dirasakan oleh banyak orang, jumlah anak yang dapat mengalami efeknya juga makin banyak.

1 dari 2 halaman

Udara beracun picu autisme

Selain itu, ada pula penelitian dari Universitas Monash, Australia, menemukan bahwa anak-anak yang menghirup udara beracun mungkin berisiko lebih tinggi tumbuh dengan autisme. Ancaman ini khususnya dihadapi oleh bayi baru lahir hingga usia 3 tahun. Paparan partikel halus dari asap knalpot kendaraan bermotor, emisi industri, serta sumber polusi luar lainnya bisa menjadikan risiko autisme lebih tinggi hingga 78 persen.

Sampel penelitian tersebut adalah 124 anak dengan autisme dan 1.240 anak yang sehat di Shanghai, Tiongkok. Anak-anak itu dinilai secara bertahap selama periode sembilan tahun. Lamanya waktu memungkinkan para peneliti memeriksa hubungan antara polusi udara dan autisme.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal “Environment International” ini adalah yang pertama mengamati efek paparan jangka panjang polusi udara pada ASD selama kehidupan awal anak-anak di negara berkembang. Meski demikian, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi hubungan antara polusi udara dengan kesehatan mental yang lebih luas.

Selain itu, berdasarkan laman resmi Environmental Health Perspective, ada penelitian yang menganalisis 245 anak dengan autisme dan 1.522 anak tanpa autisme. Melihat estimasi paparan polusi selama kehamilan berdasarkan alamat rumah ibu, disimpulkan bahwa tingginya tingkat polusi umumnya terjadi pada anak-anak dengan autisme.

Hubungan terkuat adalah hadirnya partikel, bintik debu mineral tak terlihat, karbon, dan bahan kimia lain yang masuk ke aliran darah dan menyebabkan kerusakan di seluruh tubuh. Namun, penelitian tersebut tidak dapat dengan yakin mengatakan bahwa polusi menyebabkan autisme. Bisa jadi ada faktor lain yang tidak diperhitungkan dalam penelitian. 

Di luar autisme, polusi udara adalah masalah kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan. Bahkan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sempat mengungkap bahwa polusi udara menelan hingga empat juta korban jiwa tiap tahunnya di seluruh dunia. Nah, karena ternyata polusi udara juga diketahui berhubungan dengan autisme, tentunya kondisi tersebut harus makin diwaspadai, apalagi di beberapa kawasan kondisi polusi udara dilaporkan terus memburuk.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar