Sukses

Cita-cita Besar dr. Daeng untuk Dokter Indonesia dan IDI

Ketua IDI periode 2018-2021, dr. Daeng M Faqih, S.H, M.H. menuturkan cita-citanya dalam memimpin organisasi profesi medis tersebut.

Klikdokter.com, Jakarta Memimpin salah satu organisasi profesi medis terbesar di Indonesia tentu bukanlah tugas yang mudah. Bagi dr. Daeng M Faqih, S.H, M.H. situasi inilah yang tengah dijalani sekaligus dinikmatinya. Ditemui KlikDokter di kantornya di PB IDI (Ikatan Dokter Indonesia) di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu, dr. Daeng bersemangat menuturkan serangkaian cita-cita besarnya sebagai Ketua IDI periode 2018-2021.

Semangat pria kelahiran Pamekasan Madura ini begitu tampak saat menuturkan sejumlah rencananya untuk melajukan IDI sekaligus memajukan profesi dokter Indonesia. Namun siapa sangka, cita-cita masa remaja pria kelahiran 30 Juni 1969 ini justru dulu jauh dari dunia kedokteran.

Perjalanan menuju bidang kedokteran

Mengikuti kisah yang dituturkan dr. Daeng tentang bagaimana ia akhirnya menekuni bidang kedokteran, amat menarik. Ya, meski saat ini ia menikmati pekerjaannya sebagai dokter, pria ini mengaku tidak pernah secara spesifik bercita-cita menjadi seorang dokter.

“Dulu saya ingin menjadi seorang ahli nuklir,” kata dr. Daeng, disusul suara tawanya.

Diingatnya betul, ketika ia duduk di bangku SMA, sang ayah sempat berpesan agar ia masuk sekolah kedokteran. Namun saat itu, ia menolak dan memilih mengikuti keinginannya untuk menjadi ahli nuklir.

“Dewi keberuntungan” berpihak padanya. Pada 1988, Daeng pun diterima di jurusan Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) lewat jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan).  

Namun nasib menggariskan anak keempat dari tujuh bersaudara ini harus kembali dihadapkan pada tuntutan orang tuanya. Daeng yang saat itu sudah sempat setahun berkuliah di jurusan yang dipilihnya, akhirnya harus menerima permintaan ibunya agar meneruskan ke bidang kedokteran.

“Setelah ayah saya meninggal, ibu saya tetap ingin salah satu anaknya ada yang jadi dokter. Waktu itu yang diminta kebetulan saya,” kenang dr. Daeng.

Tidak ingin menolak keinginan orang tua untuk kedua kalinya, Daeng muda pun menurut. Maka pada 1989 ia pun mengikuti ujian masuk dan diterima di jurusan Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang. Dan terbukalah hatinya pada jurusan yang kelak dicintai dan ditekuninya itu.

Uniknya, meski sudah jelas “berbasah-basah” di kedokteran, dr.Daeng rupanya tak sungkan untuk pindah ke “lain hati”.  Lulus dari sekolah kedokteran, ia memutuskan untuk mendalami ilmu hukum dengan mendaftar S2 hukum. Mengenai hal itu, ia memiliki alasan yang sangat logis.

“Saya tidak berbelok. Tetapi dalam perjalanan saya menjadi dokter, berpraktik, lalu ikut organisasi profesi IDI, saya banyak berkecimpung pada beragam persoalan yang bersentuhan dengan hukum,” ujarnya, menekankan keputusannya itu.

Kasus-kasus hukum yang berkaitan dengan kesehatan, Undang-Undang Rumah Sakit, peraturan tentang praktek dokter, kasus-kasus malapraktik, serta pelanggaran disiplin dan etika, menjadi alasan dr. Daeng menekuni bidang hukum.

“Dengan memahami dan mendalami ilmu hukum kedokteran, saya yakin akan dapat membantu lebih banyak dokter dan pasien,” kata dr. Daeng.

1 dari 2 halaman

Rencana dan cita-cita besarnya untuk IDI

Pelantikan dr. Daeng M Faqih, S.H, M.H. sebagai Ketua IDI pada 8 Desember 2018 lalu, seakan mewujudkan cita-cita kedua orang tua dr. Daeng agar putranya itu memiliki kontribusi besar bagi masyarakat. Di sisi lain, sebagai ketua organisasi profesi medis tersebut, dr. Daeng juga memiliki sejumlah rencana dan cita-cita besar yang ingin diwujudkannya untuk para dokter di Indonesia.

“Martabat dokter Indonesia harus dibangun. Dalam hal apa? Antara lain unggul dalam keahlian dan keterampilan serta memiliki kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi yang unggul,” tuturnya bersemangat.

Selain itu yang juga tidak kalah penting, dokter juga harus beretika, berintegritas dan berkarakter. Para dokter  harus memiliki etos, semangat yang kuat baik untuk bekerja maupun mengabdi dan melayani masyarakat.

Menurutnya, bermodalkan karakter-karakter tersebut, seorang dokter akan melahirkan dampak yang kuat bagi lingkungan di sekitarnya.

“Dengan ilmu yang dimilikinya, seorang dokter sangat bisa membantu masyarakat menyelesaikan persoalan, terutama terkait masalah kesehatan,” kata dr. Daeng. Ia percaya bahwa pengaruh positif bagi lingkungan tersebut nantinya akan berdampak langsung pula pada diri dokter yang bersangkutan.

“Tapi keunggulan pengetahuan, keahlian, dan pengetahuan teknologinya itu tetap harus dikerjakan dengan penuh etika dan semangat untuk pengabdian dan pelayanan,” tambah dr. Daeng.

Sejumlah keunggulan itulah yang menurut dr. Daeng diperlukan oleh dokter Indonesia agar memiliki daya saing yang mumpuni. Sebab di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) seperti saat ini para dokter Indonesia akan menghadapi kompetisi yang ketat tidak hanya pada tingkat ASEAN, tapi juga dalam skala yang lebih luas.

“Kalau dokter kita tidak memiliki daya saing, pasti akan tertinggal, baik dari segi penguasaan ilmu dan penguasaan teknologi. Akibatnya, dokter Indonesia pun akan kalah saing dalam memberikan pelayanan. Itulah yang saya coba dorong di periode  kepemimpinan saya,” ujarnya.

Salah satu langkah untuk mewujudkan daya saing para dokter Indonesia yang diusahakan oleh dr. Daeng adalah membangun sistem berbasis pengembangan dan inovasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.  Lalu bidang riset pun menjadi kunci dari pengembangan dan inovasi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Maka IDI pun akan membentuk lembaga riset yang diberi nama RIIMA (Research institute of Indonesian Medical Association). Lembaga ini akan mendorong penelitian yang sifatnya clinical research, riset yang berkaitan dengan pelayanan. Apa pun yang nantinya akan dikerjakan akan bersifat evidence base karena didasarkan pada riset.

“Kalau pelayanan itu didasarkan pada riset, pelayanan yang diberikan pada pasien pun bisa dipastikan adalah pelayanan yang terbaik. Karena berdasarkan bukti ilmiah,” kata penggemar olahraga tenis meja ini.

Ditambahkannya, riset juga akan diarahkan kepada hal-hal yang dipakai untuk menunjang kebijakan kesehatan. Misalnya berkaitan dengan JKN, riset tentang kendali mutu, serta riset tentang angka kesakitan dan penyakit tertentu. Dengan begitu, kebijakan-kebijakan kesehatan bisa dilaksanakan dengan tepat sesuai hasil pengamatan.

Sejumlah rencana besar yang tengah dijalankan oleh dr. Daeng M Faqih, S.H, M.H. sebagai Ketua IDI periode 2018-2021 memang perlu mendapat banyak dukungan. Ia tidak bisa berjalan sendirian. Membangun karakter dokter Indonesia agar bermartabat dan berdaya saing bukanlah perkara mudah, tapi juga sangat bisa diwujudkan.  Ia percaya sebuah perubahan sekecil apapun dapat membawa dampak nyata bagi masyarakat luas.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar