Sukses

Stres Bisa Picu Gangguan Kesuburan Pria dan Wanita

Hidup memang tak lepas dari masalah. Namun, jangan sampai stres mengacaukan hidup Anda, apalagi sampai picu gangguan kesuburan!

Klikdokter.com, Jakarta Kerap disepelekan, stres ternyata bisa menjadi biang kerok berbagai gangguan kesehatan di tubuh, baik secara fisik maupun psikis. Selain itu, stres juga bahkan diketahui bisa memicu gangguan kesuburan pada pria dan wanita.

Terdapat penjelasan biologis mengapa kondisi emosional seperti stres bisa memicu timbulnya masalah kesuburan. Dilansir dari Verywell Family, ternyata kondisi tersebut bermuara pada otak, yaitu aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal (aksis HPA).

Setiap kali tubuh Anda merasa stres, kelenjar hipotalamus di otak mengirimkan sinyal ke kelenjar pituitari. Sinyal tersebut menunjukkan bahwa Anda sedang stres dan butuh bantuan. Kemudian, hipofisis bereaksi terhadap panggilan bantuan tersebut, lalu mengirimkan sinyalnya sendiri ke kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon stres kortisol.

Sebenarnya, ketika hormon kortisol dikeluarkan dalam jumlah yang wajar, keberadaannya bisa membantu mengatur gula darah. Sebaliknya, bila kortisol yang dikeluarkan terlalu banyak dan terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama, maka ini bisa membahayakan kesehatan.

Kaitan antara stres dan kesuburan

Hipotalamus dan hipofisis tak cuma mengatur hormon stres. Keduanya pun bertanggung jawab atas pengaturan sinyal hormon reproduksi. Hipotalamus melepaskan hormon GnRH. Lalu, hormon GnRH memberi sinyal kepada kelenjar hipofisis untuk melepaskan hormon perangsang folikel (FSH) dan hormon luteinizing (LH).

Baik hormon FSH maupun hormon LH, sama-sama merangsang pertumbuhan telur di ovarium wanita dan pertumbuhan sperma pada pria. Nah, apabila HPA hanya “sibuk” menangani stres, maka secara teori, hal ini dapat mengubah cara kerja hormon reproduksi sehingga menyebabkan ketidaksuburan.

Hubungan antara stres dan masalah kesuburan juga dibenarkan oleh dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter. Ia menyebut bahwa ada sebuah penelitian medis tahun 2002 yang menemukan bahwa infertilitas pria dipicu oleh stres dan burn out pada pekerjaannya.

“Misalnya ada pria, stres dan depresi bisa menyebabkan disfungsi ereksi serta penurunan kualitas dan kuantitas sperma,” jelas dr. Reza.

Tak hanya itu, sejumlah penelitian pun menyebut bahwa stres pada pria juga dapat memperlambat program kehamilan pasangan. Sebab saat stres, produksi hormon testosteron dan sperma pria juga akan ikut menurun.

1 dari 2 halaman

Faktor-faktor lain yang bisa memengaruhi kesuburan

Pada kesuburan wanita, menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter ada beberapa dampak akibat stres. Tingkat stres yang tinggi dapat mengacaukan ovulasi. Sebab saat Anda stres, tubuh akan mengirimkan sinyal ke hipotalamus, yaitu bagian otak yang bertugas untuk mengontrol ovulasi.

“Stres berkaitan dengan berkurangnya lendir dari serviks saat masa ovulasi, sehingga turut memengaruhi proses pembuahan,” ungkap dr. Dyah.

Tingginya kadar hormon kortisol di dalam tubuh wanita pada akhirnya juga akan memundurkan masa ovulasi, sehingga ini bisa menjadi kabar buruk untuk wanita yang ingin hamil.

Namun demikian, selain stres, ada pula beberapa hal yang dapat memengaruhi kesuburan pria antara lain:

  • Faktor lingkungan
  • Faktor kebiasaan dan gaya hidup
  • Pola makan
  • Merokok
  • Sering memakai celana ketat
  • Sering berendam di air panas
  • Berenang di kolam renang yang tinggi klorin
  • Paparan radiasi

Sedangkan pada wanita, hal lainnya yang bisa picu ketidaksuburan meliputi:

  • Kegemukan
  • Tubuh terlalu kurus
  • Faktor genetik
  • Paparan bahan kimia
  • Merokok
  • Alkohol
  • Olahraga berat

Bagi pria maupun wanita, stres juga bisa mengganggu kesehatan reproduksi, yaitu bisa memicu gangguan kesuburan. Oleh sebab itu, pintar-pintarlah dalam mengelola stres. Lakukanlah hobi Anda, tenangkan pikiran dengan meditasi, serta maksimalkan dengan pola makan sehat bergizi seimbang dan pola istirahat yang baik. Jika sedang program hamil, konsumsilah makanan yang diketahui dapat meningkatkan kesuburan, seperti produk olahan susu, sayuran hijau, biji-bijian, atau pisang.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar