Sukses

Pentingnya Ciptakan Tempat Kerja Ramah PMS

Premenstrual syndrome alias PMS memang cukup menyiksa wanita. Tempat kerja yang ramah PMS akan membantu meringankan beban yang dirasakan.

Klikdokter.com, Jakarta Kondisi premenstrual syndrome (PMS) merupakan kondisi yang cukup mengganggu, baik bagi wanita maupun pria. Menurut dr. Nadia Octavia dari KlikDokter, kondisi PMS akan membuat wanita merasa lemas, pegal linu, nyeri di beberapa bagian tubuh, mual kembung, mudah lapar, mudah tersinggung, hingga depresi dan mudah cemas.

Sedangkan bagi para pria, PMS kerap membuat mereka menjadi “sasaran amuk” para wanita yang suasana hatinya tidak stabil akibat pergolakan hormon dalam tubuhnya. Akibatnya, sebulan sekali akan ada waktu dimana kondisi wanita menjadi kurang produktif dan emosi meningkat hanya karena PMS.

Meski demikian, hampir semua tempat bekerja hingga kini belum terlalu menganggap penting gejala PMS pada kaum wanita. Hal tersebut dianggap wajar dan bisa hilang dengan sendirinya. Sehingga, mau tak mau wanita harus mengesampingkan gejala PMS demi melanjutkan pekerjaan.

Padahal, kondisi lingkungan kerja yang sesuai sebenarnya dapat membuat wanita merasa lebih nyaman dan kinerjanya pun akan lebih produktif.

Pentingnya lingkungan kerja yang mendukung

Dilansir BBC.com, sebenarnya ada kantor yang sudah mementingkan kenyamanan para wanita PMS saat bekerja, yaitu Forza Football. Perusahaan start-up asal Swedia ini sejak Maret sudah mulai mengundang semua karyawannya untuk menghadiri diskusi dan lokakarya tentang efek PMS serta haid.

Di Swedia sendiri, meski sudah memiliki reputasi global untuk mendukung hak-hak perempuan, tetap saja masih ada stigma seputar pembahasan haid di banyak tempat kerja. Oleh sebab itu, diskusi tentang hal ini penting untuk dilakukan dalam upaya membuka pandangan semua orang.

Selain itu, haid seharusnya juga mesti berdiri sebagai topik kebutuhan yang penting. Sebab, haid merupakan hasil dari fungsi tubuh yang normal. Dan menurut Chief Executive Forza Football, Patrik Arnesson, haid harus disamakan seperti kebutuhan fisik lainnya.

Ketika haus, Anda mesti minum. Ketika lapar, Anda mesti makan. Ketika haid, maka wanita membutuhkan hal khusus yang perlu dilakukan

Forza Football sendiri memiliki 60 pekerja dengan rasio antara pekerja pria dan wanitanya 70:30. Perusahaan ini telah menyediakan produk-produk sanitasi dan tempat sampah gratis di toilet perusahaan.

Tak cuma itu, konsep kerja fleksibel juga telah diperkenalkan kepada semua stafnya, sehingga mereka dapat memilih jam kantor sendiri atau bekerja dari rumah jika mereka mau. Patrik pun menyarankan kepada para staf wanita untuk jangan segan mengatakan jika mereka ingin bekerja di rumah apabila sedang PMS.

Sebab, memaksakan diri untuk bekerja di kantor saat PMS sedang parah-parahnya hanya akan menghasilkan pekerjaan yang tidak maksimal.

1 dari 2 halaman

Kebijakan baru sangat membantu

Hal itu pun dibenarkan oleh Manajer Proyek Forza Football, Lisa Hammarstrom. Dia mengatakan, saat PMS, ia akan merasa sedih dan kehilangan kepercayaan dirinya. Sehingga, pada kondisi tersebut ia merasa kesulitan bila tetap harus pergi ke kantor.

Nah, ketika atasannya sudah memberikan kebijakan baru tentang kantor yang ramah PMS ini, Lisa mengatakan bahwa dia merasa sangat terbantu. Ia merasa senang selama PMS bisa membagi beban pekerjaannya agar lebih ringan dan ia bisa menggantinya di waktu lain. Dengan begitu, tidak ada pihak yang dirugikan.

Apa yang dilakukan oleh Forza Football ini akhirnya menginspirasi bisnis lain untuk mendorong melakukan hal serupa, khususnya di beberapa perusahaan di Swedia. Pasalnya, pada sebagian wanita, gejala PMS memang bisa sangat menyiksa dan membuatnya menjadi tidak produktif.

Apabila kantor tidak memberikan apa yang dibutuhkan pegawainya, maka akan cukup sulit bagi pegawai untuk termotivasi memberikan yang terbaik bagi target perusahaan. Sehingga, membuat kebijakan baru tentang PMS dan haid akan memudahkan kaum wanita dalam bekerja dan membantu mencapai target perusahaan.

Pada intinya, PMS maupun haid merupakan dua kondisi yang mesti dipahami oleh semua orang, baik pria maupun wanita. Ini karena kondisi hormonal yang menyangkut sistem reproduksi tersebut bisa berimbas pada hal lain, termasuk pekerjaan. Semoga suatu hari nanti perusahaan-perusahaan di Indonesia juga bisa melakukan hal serupa, ya!

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar