Sukses

Depresi Akibat Media Sosial, Apakah Mungkin?

Depresi bisa terjadi karena berbagai alasan. Apakah juga bisa disebabkan karena penggunaan media sosial? Ini faktanya.

Klikdokter.com, Jakarta Media sosial telah menjadi salah satu elemen yang esensial bagi kehidupan sebagian orang. Media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, Tik Tok, atau platform lainnya telah menjadi salah satu aspek kehidupan sosial masa kini. Biasanya orang memanfaatkan media sosial untuk mengunggah beragam materi foto, video, meme, gif, atau sekadar melihat konten unggahan teman atau idola. Sayangnya, di balik keriaan, terdapat sebuah ancaman psikis. Ya, depresi bisa diakibatkan oleh paparan media sosial.

Biasanya orang menggunakan media sosial untuk meredakan stres atau melampiaskan sesuatu, mulai dari mengkritik suatu pemberitaan, layanan konsumen, menyerukan kampanye, melihat video lucu, dan lain-lain. Sayangnya, sering kali unggahan seseorang justru menyerupai stres yang tak ada habisnya.

Terlepas dari popularitas platform media sosial dan peningkatan cakupannya dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, data yang ada masih sangat terbatas terkait bagaimana hal tersebut memengaruhi kehidupan manusia. Baik dalam hal perilaku, hubungan dan interaksi sosial, serta kesehatan jiwa seseorang.

Berbagai bukti kaitan antara depresi dan media sosial

Menurut sebuah artikel di Healthline, studi yang ada telah menunjukkan adanya kaitan antara penggunaan media sosial dengan terjadinya depresi, ansietas, penurunan kualitas tidur, penurunan rasa percaya diri, kesulitan memusatkan perhatian, serta hiperaktivitas.

Hal-hal tersebut terutama diamati pada remaja dan dewasa muda. Meski demikian, penting untuk diketahui bahwa berbagai studi tersebut hampir semuanya merupakan penelitian observasional. Artinya, hasilnya tidak dapat menentukan adanya hubungan sebab akibat antara kedua hal yang diteliti.

Selain penelitian di atas, ada pula satu studi terbaru yang dipublikasikan di “Journal of Social Clinical Psychology” mengemukakan bahwa ternyata ditemukan adanya hubungan kausal antara penggunaan media sosial dan dampak negatif terhadap kesejahteraan. Kondisi tersebut terutama dalam hal depresi dan rasa kesepian.

Salah satu peneliti studi, Jordyn Young dari Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa seseorang yang lebih jarang menggunakan media sosial umumnya cenderung tidak depresi dan tidak kesepian. Ia juga menambahkan, mengurangi penggunaan media sosial dapat menyebabkan terjadinya perbaikan, utamanya dalam hal kualitas kesejahteraan hidup seseorang.

Studi tersebut melibatkan 143 mahasiswa dari Universitas Pennsylvania yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok: kelompok yang diperbolehkan melanjutkan penggunaan media sosial seperti biasa dan kelompok yang diberikan batasan signifikan terhadap penggunaan media sosialnya.

Selama tiga minggu, kelompok yang dibatasi tersebut hanya boleh mengakses media sosial paling lama 30 menit setiap harinya. Waktu tersebut dibatasi, yaitu 10 menit untuk masing-masing tiga platform yang berbeda, yakni Facebook, Instagram, dan Snapchat.

Untuk memastikan kondisi eksperimental tetap berjalan, para peneliti melihat data penggunaan aplikasi di ponsel para peserta, yang mendokumentasikan berapa lama waktu yang digunakan untuk membuka masing-masing aplikasi setiap harinya. Pada akhir studi, didapat hasil bahwa pada kelompok yang dibatasi penggunaan media sosialnya, tampak terdapat penurunan gejala depresi serta kesepian setelah membatasi penggunaan media sosial.

Para pakar berhipotesis, ini merupakan akibat suatu konten yang biasanya telah dipilih secara saksama, dalam arti hanya menampilkan apa yang ingin orang tersebut perlihatkan. Misalnya mengunggah makan di restoran mewah, dokumentasi kebahagiaan liburan keluarga, liburan romantis dengan pasangan, pesta dengan teman-teman, atau konten lain yang umumnya ingin memperlihatkan keriaan atau energi positif lainnya.

Nah, orang-orang yang melihat konten tersebut akan membandingkan hidupnya dengan konten yang ia lihat, yang mana konten tersebut terkesan jauh lebih menarik. Adanya perbandingan inilah yang diduga memicu seseorang mengalami depresi.

Karena sudah ada hasil studi yang mengemukakan bahwa aktivitas media sosial yang berlebihan dapat mengakibatkan rasa kesepian dan depresi, karenanya Anda diharapkan bersikap bijak dalam hal penggunaannya. Misalnya saat bersama dengan teman-teman atau keluarga, baiknya jangan sibuk memandangi smartphone. Ingat, kebersamaan di dunia nyata jauh lebih membahagiakan ketimbang sibuk melihat berbagai konten unggahan di media sosial.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar