Sukses

Bolehkah Vaksin Difteri Saat Haid?

Mungkin banyak dari Anda yang bertanya-tanya, bolehkah melakukan vaksin, seperti vaksin difteri, saat sedang haid? Ini jawabannya.

Klikdokter.com, Jakarta Ada banyak mitos atau anggapan yang mengiringi peristiwa wanita tengah haid atau menstruasi. Sehingga, muncul pertanyaan apa saja yang boleh dan tidak boleh saat wanita mengalami siklus ini. Termasuk, apakah boleh melakukan vaksin difteri saat sedang haid?

Saat seorang wanita sedang haid, ada banyak efek samping pada tubuh yang dialami. Mulai dari badan lemas, nyeri di beberapa bagian tubuh, nyeri di bagian perut. Kondisi-kondisi tersebut mungkin memunculkan pendapat bahwa dalam kondisi tersebut wanita tidak disarankan untuk melakukan vaksin, termasuk vaksin difteri.

Ada kaitan antara haid dan vaksinasi?

Sebetulnya, pada saat haid tidak ada larangan secara medis seorang wanita untuk mendapatkan vaksinasi difteri. Ini juga berlaku untuk vaksinasi lainnya. Karena, tindakan vaksin dan kondisi wanita yang sedang haid merupakan kejadian yang tidak berkaitan.

Proses haid terjadi di dalam rahim. Dalam fase itu terjadi peluruhan dinding rahim apabila tidak terjadi pembuahan. Sementara itu, vaksinasi merupakan suatu tindakan memasukkan kuman yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh untuk memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit.

Apabila saat dilakukan suntik terdapat reaksi seperti demam, penyebabnya bukan karena sedang dalam kondisi haid, melainkan efek samping dari vaksinasi itu sendiri. Kondisi ini dapat terjadi pada semua orang saat sedang haid atau tidak.

Dalam medis, terdapat kontraindikasi terhadap vaksinasi. Kondisi haid bukan merupakan salah satu kontraindikasi vaksinasi. Kontraindikasi terhadap vaksinasi adalah suatu keadaan yang sangat jarang terjadi pada seseorang, yang mana dapat terjadi peningkatan risiko terjadinya efek samping. Kontraindikasi pemberian vaksinasi ada tiga, yaitu:

  • Terjadinya defisiensi imun (daya tahan tubuh menurun)
  • Memiliki riwayat syok anafilaktik (serangan reaksi alergi yang tergolong berat)
  • Jangan memberikan vaksin DPT pada anak dengan kejang berulang atau pada anak dengan penyakit saraf

Jangan sampai kekhawatiran Anda mengenai efek samping yang belum tentu terjadi, utamanya saat Anda sedang haid, menghalangi Anda untuk melakukan vaksinasi difteri. Pasalnya, cara paling efektif untuk mencegah penyakit ini adalah dengan melakukan vaksin difteri sesuai jadwal supaya vaksin yang diberikan dapat bekerja secara optimal.

1 dari 2 halaman

Parameter pemberian vaksin difteri pada orang dewasa

Ada tiga parameter yang harus Anda perhatikan saat melakukan vaksin difteri pada orang dewasa, yaitu:

  • Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin Td atau belum lengkap status imunisasinya, diberikan 1 dosis vaksin Tdap diikuti dengan vaksin Td sebagai penguat setiap 10 tahun.
  • Orang dewasa yang sama sekali tidak diimunisasi diberi dua dosis pertama dengan jarak 4 minggu, dan dosis ketiga diberikan setelah 6-12 bulan dari dosis kedua.
  • Orang dewasa yang belum menyelesaikan tiga dosis vaksin Td seri primer diberikan sisa dosis yang belum dipenuhi.

Vaksin ini akan semakin efektif bila diberikan setiap 10 tahun selama seumur hidup. Karena, vaksin hanya mampu memberikan perlindungan selama 10 tahun, sehingga setelah 10 tahun perlu diberikan booster atau penguat.

Jika sampai detik ini Anda belum pernah menerima vaksin difteri, segera lakukan vaksinasi atau pastikan dulu status imunisasi Anda sejak kecil sudah dilengkapi atau belum. Vaksin difteri yang diberikan sesuai jadwal mampu mencegah seseorang tertular difteri, dengan tingkat proteksi di atas 95 persen.

Efek samping yang sering muncul bukanlah efek samping yang berat. Efek samping yang paling sering dilaporkan adalah demam ringan selama 1-2 hari dan nyeri atau bengkak di lokasi suntikan selama 1-3 hari.

Jadi, jangan sampai kondisi Anda yang sedang haid menghentikan Anda dari vaksinasi difteri yang sudah direncanakan. Ingat, vaksin adalah cara paling efektif dalam mencegah terjadinya penyakit difteri. Karenanya, lindungi diri dan seluruh keluarga dari salah satu penyakit infeksi menular ini.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar