Sukses

Mengulik Efektivitas Puasa untuk Tangkal Kanker

Puasa yang dilakukan dengan tepat terbukti dapat mendatangkan beragam manfaat. Apakah menangkal kanker termasuk salah satunya?

Klikdokter.com, Jakarta Bulan Ramadan sudah di depan mata. Meski terhitung masih sebulan lagi, namun umat Muslim di dunia mulai menyiapkan diri untuk menjalankan ibadah puasa. Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah siap untuk tidak makan dan minum selama kurang lebih 13 jam? Jika belum, segera persiapkan diri agar Anda benar-benar mampu untuk berpuasa sebulan penuh. Dengan demikian, Anda akan merasakan beragam manfaat sehat yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Terkait manfaat puasa, dr. Resthie Rachmanta Putri M.Epid dari KlikDokter berkata  bahwa aktivitas tersebut terbukti mampu membantu menurunkan berat badan, mengendalikan tekanan darah, dan menurunkan kolesterol jahat. Tak cuma itu, puasa juga mampu menurunkan kadar gula darah, sehingga baik untuk dilakukan oleh penderita diabetes.

"Penelitian membuktikan bahwa puasa membuat kadar gula darah cenderung menurun, dan lebih stabil. Selain itu, insulin juga dapat berfungsi lebih optimal," jelasnya.

Selain manfaat-manfaat tersebut, banyak orang menyebut bahwa puasa juga mampu menangkal penyakit kanker. Namun, apakah ini terbukti?

Puasa untuk tangkal kanker

Melansir dari Medical News Today, beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa ternyata benar-benar membantu melawan kanker dengan menurunkan resistensi insulin dan tingkat peradangan. Peneliti juga mengatakan bahwa puasa dapat membalikkan efek kondisi kronis seperti obesitas dan diabetes tipe 2, yang keduanya merupakan faktor risiko kanker. Tak berhenti di situ, para peneliti pun percaya bahwa puasa dapat membuat sel-sel kanker lebih responsif terhadap kemoterapi, sekaligus melindungi sel-sel lain yang sehat. Puasa bahkan terbukti mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk membantu melawan kanker yang sudah terjadi.

Secara lebih spesifik, inilah bagaimana puasa mampu menangkal kanker:

1. Meningkatkan sensitivitas insulin

Insulin adalah hormon yang memungkinkan sel mengolah glukosa dari darah untuk digunakan sebagai energi. Mudahnya, insulin adalah hormon pengatur gula darah.

Ketika lebih banyak makanan yang masuk, sel-sel dalam tubuh akan menjadi kurang sensitif terhadap insulin. Alhasil, kadar gula darah akan meningkat dan tubuh akan menyimpan lemak dalam jumlah lebih banyak.

Di sisi lain, ketika tubuh tidak mendapatkan asupan makanan, tubuh akan mencoba untuk menghemat energi sebanyak mungkin. Salah satu cara yang dilakukan tubuh untuk hal itu adalah dengan membuat membran sel lebih sensitif terhadap insulin. Pada akhirnya, yang terjadi adalah kinerja insulin yang lebih sensitif. Kondisi ini pada akhirnya akan mempersulit sel kanker untuk tumbuh atau berkembang.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

2. Membalikkan efek kondisi kronis

Sebuah studi kasus tahun 2017 melihat efek puasa jangka pendek pada diabetes tipe 2. Pada penelitian ini, partisipan diminta untuk berpuasa selama 24 jam dan dilakukan sebanyak 2 hingga 3 kali dalam seminggu.

Setelah dilakukan dengan aturan tersebut selama kurang lebih 4 bulan, peserta mengalami penurunan berat badan 17,8% dan pengurangan ukuran pinggang 11%. Selain itu, para peserta yang ikut dalam studi ini juga tidak lagi memerlukan perawatan insulin semenjak pola puasa yang ditetapkan dilakukan selama 2 bulan.

3. Efisiensi autophagy

Autophagy adalah mekanisme sel alami yang diatur untuk “membongkar” komponen yang tidak perlu atau tidak berfungsi. Proses tersebut memungkinkan terjadinya degradasi dan “daur ulang” komponen sel secara teratur.

Autophagy sangat penting untuk mempertahankan fungsi sel yang tepat dan juga membantu mempertahankan sel-sel dalam tubuh. Selain itu juga berguna dalam hal mencegah dan mengobati kanker.

4. Meningkatkan kualitas hidup selama kemoterapi

Puasa tak hanya mencegah kanker, tapi juga membantu pengobatan kanker, yakni kemoterapi. Dengan puasa, orang yang sedang kemoterapi akan mendapatkan manfaat sebagai berikut:

  • Membaiknya proses regenerasi sel
  • Melindungi darah dari efek bahaya kemoterapi
  • Mengurangi memburuknya efek samping, seperti kelelahan, mual, sakit kepala, dan kram.

Sebuah studi pada 2018 menemukan bahwa puasa dapat meningkatkan kualitas hidup pada orang yang menjalani kemoterapi untuk kanker payudara atau kanker ovarium. Penelitian itu menggunakan periode puasa 60 jam, yang dimulai dengan durasi selama 36 jam sebelum kemoterapi dilakukan. Hasilnya, partisipan mengalami “toleransi” yang lebih tinggi terhadap kemoterapi dan merasakan lebih sedikit efek samping. Selain itu, peserta juga memiliki tingkat energi yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mereka yang tidak berpuasa.

Selain baik untuk kesehatan rohani, puasa ternyata juga baik untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan. Bahkan, penelitian telah membuktikan bahwa berpuasa juga memainkan peran penting dalam proses pencegahan dan pengobatan kanker. Jadi, masihkah Anda ragu untuk puasa, khususnya saat Ramadan tiba?

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar