Sukses

Misi dr. Julianto Witjaksono Mewujudkan Kesehatan Masyarakat

Membangun kesehatan masyarakat perlu orang yang memiliki visi kuat. Dr. dr. Julianto Witjaksono, Sp.OG (K), MGO kini mengemban misi itu.

Klikdokter.com, Jakarta Bagi Dr. dr. Julianto Witjaksono, Sp.OG (K), MGO, isu kesehatan masyarakat bukanlah isu baru. Sebuah pengalaman di masa kecil pernah membawanya berbulat tekad menjadi dokter untuk mengabdikan diri bagi masyarakat. Pengalaman itu dibagikannya kepada  KlikDokter saat bertandang ke tempatnya bekerja, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

dr. Julianto bercerita, keinginannya menjadi dokter pertama kali muncul saat duduk di kelas 4 SD. Ketika itu, dia masih tinggal di Bandung bersama keluarga. Pada suatu sore saat hujan deras, sang adik terserang demam tinggi. Saat itu, sang ayah sedang berada di Amerika untuk tugas bekerja.

“Adik saya dibawa ke dokter di seberang, tapi ditolak sama dokternya. Waktu itu dibilang dokternya lagi tidur atau lagi sibuk. Ibu saya menangis,” kata dr. Julianto, mengenang peristiwa yang dilihatnya saat ia masih bocah. Maka sejak itu ia pun bertekad ingin menjadi dokter agar apa yang dialami adiknya tidak dialami oleh orang-orang lain.

Pengalaman sang dokter muda

Peristiwa itu membawa pria kelahiran Bandung, 14 Juli 1954 itu semakin mantap menjalani bidang kedokteran saat diterima di Fakultas Kedokteran UI. Lulus dari sekolah kedokteran pada 1980, dr. Wiet – sapaan akrabnya – menjalani wajib kerja sarjana (WKS) di daerah Lospalos, Timor Timur. Di sana ia harus melayani masyarakat dalam medan yang sulit.

“Untuk ke sana harus naik helikopter sekitar sejam atau dua jam. Lokasi itu adalah daerah peperangan, jadi saya ditempatkan di kamp pengungsian. Jadi banyak ibu yang melahirkan dengan cara-cara yang enggak pernah saya lihat waktu pendidikan. Tradisional sekali,” ujarnya.

Dari sekitar 5.000 pengungsi, dr. Wiet memperkirakan bahwa saat itu setiap bulan ada 10 persalinan. Namun, fasilitas persalinan sungguh minim.

“Di sana saat itu angka kematian ibu juga tinggi sekali. Bayangkan, mereka melahirkan anak dengan posisi tangan pegangan di atas, terus kaki suaminya mendorong perutnya ibu. Saya pikir, wah kasar sekali,” dr. Wiet mengenang.

Berkaca dari kondisi tersebut, dr. Wiet kemudian terdorong untuk membuat fasilitas kesehatan, apalagi saat itu di lokasi tersebut belum ada puskesmas. Jangan bayangkan bahwa fasilitas kesehatan yang didirikan dr. Wiet saat itu memadai dengan peralatan yang cukup. Semuanya serba sederhana.

“Di sana ada rumah-rumah yang ditinggalkan penduduk akibat peperangan. Kami buat atap dari daun-daun kelapa. Lalu dibikinlah kamar-kamar, sama ruang bersalin,” dr. Wiet mengisahkan sambil tersenyum.

1 dari 3 halaman

Membangun kesadaran pasien

Usai menyelesaikan studi Master of Gynaecology Obstetrics, University of Melbourne, Australia, pada 1989, dr. Wiet lalu fokus pada bidang infertilitas. Ia memahami bahwa menjadi dokter kandungan sekaligus pakar infertilitas tidaklah mudah.

Sering kali, dr. Wiet bertemu dengan para pasien yang tidak tahu harus melakukan apa terkait infertilitas yang dialami.

“Saya jelaskan bahwa penyebab infertilitas yang paling sering saat ini adalah gaya hidup. Sekarang ada banyak sekali gaya hidup yang menyebabkan kelainan pada laki-laki maupun pada perempuan. Misalnya kurang gerak, stres dan tuntutan pekerjaan, jalanan macet dan sebagainya,” tuturnya.

Beragam faktor penyebab infertilitas juga tidak lepas dari pengamatannya, seperti faktor ekonomi, sosial, psikologis dan sebagainya. Menurutnya, semua faktor tersebut memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kemandulan pada laki-laki dan perempuan. “Itu yang coba kami eksplor,” kata dr. Wiet.

Ia mengaku terkadang merasa terbebani saat ada pasiennya yang tidak kunjung hamil. Namun di sisi lain ia merasakan itu sebagai tantangan baginya sebagai seorang dokter.

“Karena pasien kan datang dengan penuh harapan, jadi saya harus bisa menjelaskan dan bagaimana bisa membantu mereka.”

Di sisi lain, rasa bahagia sebagai dokter kandungan pun ia rasakan saat melihat pasiennya berhasil hamil dan punya anak.

“Ada pasien yang sudah pasrah saja karena tidak kunjung hamil. Kepasrahan itu secara psikologis membuatnya ikhlas dan tenang. Justru dari sisi hormon, endokrin, itu sangat membantu terjadinya ovulasi, bahkan mengalami kehamilan yang spontan dan alamiah dengan baik,” tutur dr. Wiet.

Oleh karena itu, dia pun lalu menganjurkan kepada para pasangan agar lebih banyak rileks dan menjalani hidup sehat serta cukup olahraga. Kesadaran semacam itu dibangunnya agar pasien yang berharap memiliki keturunan bisa memunculkan rasa ikhlas dan pasrah yang justru dapat mengoptimalkan kerja hormon dalam tubuh, sehingga terjadi kehamilan yang alami.

2 dari 3 halaman

Membawa misi melajukan RSUI

Saat ini, dr. Julianto dipercaya untuk duduk sebagai Direktur Utama RSUI. Di bawah kepemimpinannya, ia berusaha menjadikan RSUI sebagai salah satu rumah sakit terbaik, bukan hanya di Indonesia, tapi di Asia Pasifik, bahkan dunia. Bahkan, pada 2030 RSUI dicanangkan akan menjadi world class hospital.

Namun, dr. Wiet juga menyadari bahwa untuk mencapai hal itu tidaklah mudah. Dua hal yang menjadi prioritasnya saat ini adalah tersedianya fasilitas dan alat-alat kesehatan, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM).

“Kalau dari sisi gedung, menurut saya sudah oke, tapi alat kesehatan terus berkembang. Jadi perlu ada reinvestasi, terus meng-update teknologi, misalnya USG dan CT scan. IT-nya juga perlu berkembang cepat. Semua itu harus didukung kalau mau jadi rumah sakit kelas dunia,” urai dr. Wiet.

Dari sisi SDM, dr. Wiet sangat percaya diri bahwa rumah sakit yang dikelolanya memiliki sumber daya manusia terbaik. Menurutnya, aset SDM ini pun bisa dikembangkan menjadi kelas dunia.

“Sekarang yang penting adalah bagaimana membentuk karakter mereka dan memberikan mereka kesempatan untuk berkembang,” kata pria yang menamatkan pendidikan doktoral di UI pada 2016 itu.

Meski tampak menggebu-gebu melajukan RSUI menjadi rumah sakit berstandar internasional, dr. Wiet juga tidak melupakan misi institusinya untuk membangun kesehatan masyarakat yang lebih baik di sekitar kawasannya,  terutama di Depok. Oleh karena itu, kolaborasi hospital care dan community care pun dibangun bersama-sama. Community care yang merupakan peran pemerintah, mencakup bagaimana masyarakat diedukasi dan didorong untuk hidup sehat.

“Misalnya, jual makanan enggak boleh terlalu manis, terlalu asin, dan terlalu fatty (berlemak). Disingkat GGL, yaitu gula, garam, lemak. Lalu air. Air yang digunakan harus air sehat. Lingkungan tidak boleh tergenang sehingga jadi tempat nyamuk Aedes aegypti. Selain itu gaya hidup sehat juga harus konsisten dijalankan,” dr. Wiet memaparkan.

Kunci hidup sehat dr. Wiet

Membawa misi melajukan RSUI menjadi rumah sakit berstandar internasional sekaligus mewujudkan kesehatan masyarakat kawasan yang lebih baik, kedua pundak dr. Wiet bagaikan sarat beban berat. Namun ternyata, ia tidak memiliki kiat khusus untuk menjaga kesehatannya dalam mewujudkan misi tersebut.

“Saya jalani saja. Saya mencoba menikmati semua hal dalam hidup saya. Yang penting, jangan stres. Kalau ada stres di kantor ya dinikmati sajalah,” katanya sambil tertawa.

Meski terkesan santai, tidak berarti lantas dr. Wiet meninggalkan pola hidup sehat. Di saat senggang, ia masih menyempatkan waktu di akhir pekan untuk berjalan kaki atau joging. Lokasi yang dipilihnya, tak jauh dari tempatnya bekerja.

“Paling saya jalan di taman, di seputaran UI. Jalan kaki di rumah sakit sini juga cukup untuk mengikuti anjuran WHO berjalan 10.000 langkah,” katanya sambil bergurau.

Meski tidak melakukan diet khusus, dr. Wiet juga tetap berusaha menjaga pola makannya agar selalu sehat. Konsumsi sayuran dan buah adalah sebuah keharusan baginya. Sesekali mengonsumsi daging juga dilakukannya sebagai penyeimbang. Dan ia lebih memilih daging sehat dengan kandungan lemak yang seminim mungkin.

“Yang penting bagi saya, makan jangan terlalu banyak agar perut tidak terlalu kenyang. Intinya seimbang,” kata dr. Wiet yang mengaku sedikit menghindari junk food.

“Ya, tapi sekali-kali bolehlah,” pungkasnya sambil tertawa.

Misi membawa RSUI menjadi rumah sakit kelas dunia sekaligus mewujudkan masyarakat kawasan yang sehat memang tidak mudah. Tapi Dr. dr. Julianto Witjaksono, Sp.OG (K), MGO menjalankan tugasnya dengan penuh semangat. Tentu bukan karena saat ini ia menjabat sebagai Direktur Utama di RSUI, melainkan kesehatan masyarakat sudah menjadi kepeduliannya sejak dini.

[RVS]

65 Komentar

  • rizky firdaus

    Vel culpa est aut. Velit ratione illo vero temporibus consequuntur. Veniam sunt eligendi sit ut sit et quae. Dignissimos dolores repellendus esse maxime aut velit ut.

  • rizky firdaus

    Vel magnam harum aut voluptas voluptatibus. Ducimus aut iusto illo maxime expedita deserunt. Quaerat incidunt accusantium qui odio fugit ex quia.

  • rizky firdaus

    Voluptatem sit sint iure omnis tempora sunt. Saepe excepturi distinctio sed. A quidem voluptas sed totam eligendi.