Sukses

Terserang Batuk, Kapan Perlu Minum Obat?

Saat Anda batuk dan ingin cepat sembuh, Anda langsung minum obat batuk untuk meredakannya. Tapi, benarkah semua kondisi batuk perlu obat?

Klikdokter.com, Jakarta Batuk berdahak maupun batuk kering, keduanya memang cukup mengganggu aktivitas harian. Terutama bila pekerjaan yang Anda geluti mengharuskan Anda berbicara di depan umum, seperti presentasi. Agar batuk tidak berlangsung lama, buru-buru minum obat batuk pun dijadikan solusi utamanya. Namun, benarkah tindakan tersebut? Atau seharusnya, obat batuk diminum di saat kondisi batuk sudah terbilang parah?

Menurut dr. Alvin Nursalim, SpPD, dari KlikDokter, pada dasarnya tidak ada patokan khusus untuk menentukan kapan Anda harus minum obat saat batuk melanda. Bila memang Anda merasa ingin segera menuntaskan reaksi tubuh tersebut, maka tak ada salahnya jika Anda langsung minum obat batuk.

“Yang terpenting, obat batuk yang diminum ini mesti sesuai dengan jenis batuknya. Misal, yang Anda alami adalah batuk berdahak dan Anda ingin segera menuntaskannya, tapi yang diminum adalah obat untuk batuk kering. Tentu tak ada hasilnya,” jelas dr. Alvin.

Setelah mengonsumsi obat batuk, Anda juga mesti memperhatikan efek yang dihasilkan. Menurut dr. Alvin, bila batuk belum terlalu parah dan tidak ada gejala lain yang terlalu signifikan, biasanya batuk akan segera mereda setelah 2-3 hari mengonsumsi obat tersebut.

“Tapi bila batuk tak kunjung mereda, bahkan makin parah atau timbul gejala lain setelah 2-3 hari mengonsumsi obat, sebaiknya segera periksa ke dokter untuk dicari tahu penyebab pastinya,” dr. Alvin menegaskan.

Ini karena, obat batuk bersifat simtomatis, artinya bersifat hanya menghilangkan gejalanya saja dan bukan langsung mengatasi penyebabnya.

Kondisi batuk yang perlu segera ditangani

Meski dr. Alvin mengatakan tidak ada patokan khusus untuk menentukan kapan sebaiknya Anda mengonsumsi obat kala batuk menyerang, di bawah ini ada beberapa kondisi yang sebaiknya segera ditangani dengan obat batuk ataupun antibiotik. Adapun kondisi yang dimaksud, antara lain:

  • Saat dahak sulit dikeluarkan, obat batuk ekspektoran bisa membantu mengencerkan dahak dan membuatnya mudah untuk dikeluarkan.
  • Saat batuk muncul terus-menerus sehingga membuat Anda cukup lelah, obat batuk bisa membantu mengurangi frekuensi batuk.
  • Saat batuk berlangsung lebih dari 2 minggu.
  • Saat dahak yang dikeluarkan berwarna selain bening, misalnya kuning kehijauan, kemerahan, dan kecokelatan.
  • Batuk yang disebabkan oleh infeksi bakteri juga mesti mendapatkan penanganan segera dari antibiotik. Cara termudah untuk mengetahui apakah batuk Anda disebabkan oleh bakteri atau tidak, dapat dilihat dari warna dahaknya. Jika kuning kehijauan, maka penyebabnya adalah bakteri. Namun agar hasilnya lebih valid, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan darah, sputum, dan radiologi.

Anda boleh mengonsumsi obat batuk meski gejala tersebut baru Anda alami selama beberapa hari belakangan. Tapi untuk batuk yang disebabkan oleh infeksi bakteri, Anda harus berkonsultasi dulu dengan dokter karena membutuhkan antibiotik yang tak boleh dikonsumsi sembarangan.

Sebelum mencari obat batuk, ketahui juga bahwa selain dapat menjadi gejala suatu penyakit, batuk juga merupakan proses alami tubuh untuk mengeluarkan dahak berlebih dan iritan lainnya. Jadi, tak selamanya batuk yang Anda alami membutuhkan obat, terutama batuk yang hanya terjadi sesekali.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar