Sukses

Body Dysmorphic Disorder, Tanda Tak Puas Diri?

Sering komplain dan tak puas dengan kondisi tubuh sendiri? Bisa jadi Anda mengalami body dysmorphic disorder.

Klikdokter.com, Jakarta Melihat kecantikan dan tubuh ideal para supermodel, selebritas, atau orang lain di sekitar sering kali menimbulkan rasa iri. Tanpa disadari, media pun turut andil dalam membentuk perspektif standar kencantikan: rambut panjang berkilau, hidung mancung, tubuh langsing, tinggi semampai, kulit putih dan mulus, dan lain-lain. Akibatnya, banyak orang yang menjadi tak puas dengan bentuk tubuhnya sendiri. Berbagai cara pun dilakukan untuk meraih kecantikan yang diidamkan. Saat ini terjadi, waspadalah, bisa jadi Anda mengalami body dysmorphic disorder.

Body dysmorphic disorder (BDD) atau body dysmorphia merupakan gangguan jiwa saat seseorang menghabiskan waktu merasa khawatir akan kekurangan pada penampilannya, yang seringnya kekurangan tersebut tak disadari orang lain. Misalnya, seseorang merasa hidungnya terlalu pesek atau merasa pipinya terlalu tembam, padahal orang-orang di sekitar menganggapnya baik-baik saja.

BDD dapat dialami oleh segala rentang usia. Namun, seringnya kondisi ini dialami oleh remaja dan usia produktif, baik pria maupun wanita.

Tanda-tanda body dysmorphic disorder

Memang betul bahwa menjaga berat badan tetap ideal baik untuk kesehatan. Namun, sampai mana batas itu menjadi sebuah obsesi yang tidak sehat? Berikut ini adalah beberapa tandanya.

1. Olahraga berlebihan

Olahraga yang kompulsif atau berlebihan, atau dikenal juga dengan istilah anoreksia atletika, ditandai dengan mengutamakan keinginan berolahraga di atas hal lain seperti bersosialisasi dengan teman, keluarga, atau pasangan, atau memaksakan untuk tetap berolahraga saat sedang sakit, lelah, atau cedera.

Tanda lainnya adalah munculnya rasa bersalah ketika melewatkan satu sesi olahraga, lalu menggantinya dengan melipatgandakan sesi olahraga berikutnya. Jika gangguan ini disertai gangguan makan seperti anoreksia, akibatnya bisa fatal.

2. Restriksi atau menghitung kalori secara berlebihan

Memperhatikan asupan kalori yang masuk setiap kali makan memang dianjurkan. Namun, jika Anda terus-menerus menghitung setiap kalori dalam makanan atau minuman yang Anda makan atau minum dan membiarkan diri kelaparan, ini merupakan obsesi yang tidak sehat.

Sebagai panduan, asupan kalori harian setiap harinya bergantung pada usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisik. Sebagai gambaran, pria dengan aktivitas fisik fisik normal sebaiknya mendapatkan asupan 2.500 kalori per hari, sedangkan wanita dengan aktivitas normal dianjurkan mendapatkan 2.000 kalori per hari.

3. Sering menimbang berat badan

Menimbang berat badan lebih dari satu kali sehari merupakan tanda Anda terobsesi dengan berat badan. Kebiasaan ini bisa menambah stres harian Anda. Padahal, perlu diketahui bahwa berat badan secara alami berfluktuasi sepanjang hari. Jadi, dengan menimbang berat badan beberapa kali sehari malah justru bikin Anda stres jika menemukan angka timbangan bertambah. Frekuensi yang dianjurkan untuk menimbang berat badan adalah satu kali dalam seminggu.

4. Sering memandangi diri di depan cermin

Melihat di cermin dan mengevaluasi apa yang Anda lihat mungkin saja merupakan langkah awal yang baik dalam penurunan berat badan. Namun, jika Anda mulai memfokuskan pada seberapa gemuk bagian tubuh Anda (misalnya perut atau lengan), terutama jika bagian tubuh tersebut sebenarnya sudah ideal, bisa jadi itu merupakan tanda dari BDD.

BDD membuat penderitanya sangat “peduli” dengan bagian tertentu tubuhnya, selalu merasa ada yang kurang sempurna, betah berlama-lama melihat diri di cermin, membandingkan diri dengan orang lain, serta percaya bahwa orang lain menganggap dirinya jelek.

Biasanya pasien dengan gangguan ini merupakan tipikal pasien yang biasanya datang ke dokter spesialis bedah plastik berkali-kali untuk mendapatkan prosedur bedah guna memperbaiki bagian tubuhnya.

5. Gangguan makan

Dalam kasus yang parah, obsesi akan berat badan dapat menjadi suatu gangguan makan seperti:

  • Anoreksia nervosa

Suatu gangguan yang ditandai dengan ketakutan irasional akan peningkatan berat badan, membatasi kalori secara ekstrem hingga tubuh jadi kurus kering, hingga terjadi gangguan menstruasi.

  • Bulimia nervosa

Tidak seperti anoreksia, penderita bulimia nervosa mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak dan kemudian mengeluarkan makanan tersebut melalui muntahan, laksatif, diuretik, olahraga berlebih, puasa atau kombinasi di antaranya

Penderita body dysmorphic disorder akan selalu merasa tak puas dengan tampilan dirinya, dan selalu menganggap penampilannya tak sempurna. Obsesi akan kekurangannya tersebut lambat laun dapat memicu depresi atau kegelisahan sosial, atau ekstremnya bunuh diri, sehingga butuh penanganan tepat. Untuk Anda yang punya kecenderungan ini, baiknya berhenti mengkhawatirkan penampilan diri, dan belajarlah untuk mencintai diri Anda apa adanya. Ingat, bisa jadi apa yang Anda pikir kekurangan ternyata merupakan daya tarik yang tidak Anda sadari!

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar