Sukses

Kapan Waktu yang Tepat untuk Melakukan Pap Smear?

Wanita kerap menunda-nunda untuk melakukan Pap smear dengan alasan “belum saatnya”. Lantas, kapan saat yang tepat untuk melakukannya?

Klikdokter.com, Jakarta Bagi sebagian orang, tes Pap smear untuk mendeteksi sel serviks abnormal yang berpotensi menjadi kanker serviks bukanlah sebuah prioritas. Padahal, menurut dr. Andika Widyatama dari KliKDokter, tes Pap smear dapat menurunkan penyakit mematikan tersebut hingga 80 persen!

Alasan beberapa wanita tidak menjadikan tes ini sebagai prioritas adalah karena soal waktu. Selama masih muda, tes kesehatan, termasuk Pap smear, dianggap belum diperlukan. Lalu, kira-kira kapan ya waktu yang tepat untuk melakukan tes ini?

Usia, kondisi fisik tertentu, dan Pap smear

Perlu diketahui bahwa menurut The American College of Obstetricians and Gynecologist, setiap wanita dianjurkan untuk melakukan Pap smear sejak berusia 21 tahun. Dikatakan bahwa setiap wanita berusia 21-29 tahun wajib memeriksakan dirinya lewat tes Pap smear setiap 3 tahun sekali.

Tak hanya itu, wanita yang berusia lebih dari 29 tahun juga tetap memerlukan pemeriksaan Pap smear.

“Wanita berusia 30-65 tahun sebaiknya tetap melakukan tes Pap smear setiap 5 tahun sekali dan disertai dengan pemeriksaan penunjang lain, yaitu tes HPV.” jelas dr. Andika.

Tes human papilloma virus (HPV) memang dapat dilakukan bersamaan dengan Pap smear. Tes ini bertujuan mencari virus HPV pada jaringan serviks yang berisiko menyebabkan kanker.

Wanita berusia di atas 65 tahun dengan riwayat hasil Pap smear yang sebelumnya normal, biasanya tidak melakukan pemeriksaan ulang di kemudian hari.

Padahal, Pap smear harus dilakukan lebih sering pada wanita yang memiliki beberapa kondisi khusus, misalnya pada wanita yang menderita HIV atau yang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh akibat prosedur transplantasi organ, kemoterapi, atau penggunaan kortikosteroid.

Selain itu, wanita dengan paparan obat hormon diethylstilbestrol (DES) juga mesti lebih sering melakukan Pap smear, meski tengah mengandung. Obat DES ini biasa diberikan pada ibu hamil untuk mencegah kelahiran prematur, komplikasi kehamilan, hingga keguguran.

1 dari 2 halaman

Bolehkah Pap smear dilakukan sebelum aktif secara seksual?

Dilansir dari Mayoclinic.org, bila Anda merupakan wanita yang masih perawan dan belum aktif secara seksual, Anda mungkin memiliki risiko kanker serviks yang lebih rendah. Meski demikian, bukan berarti Anda tidak memerlukan Pap smear.

Hal ini pun dibenarkan oleh dr. Andika. Pap smear dapat diberikan pada wanita yang sudah aktif secara seksual maupun yang belum. Sebab, meskipun kanker serviks itu paling besar disebabkan oleh virus HPV yang menular lewat hubungan seksual, tetapi faktor risiko lain juga bisa menyebabkan terjadinya kanker tersebut.

Misalnya saja, kebiasaan merokok dan terdapat riwayat kanker serviks dalam keluarga. Sehingga, wanita yang perawan dan belum aktif secara seksual tetapi memiliki faktor risiko di atas tetap disarankan untuk melakukan Pap smear.

Kondisi wanita yang tidak memerlukan Pap smear

Ada beberapa kondisi yang tidak mengharuskan seorang wanita untuk melakukan skrining Pap smear, yaitu wanita berusia di atas 65 tahun dengan riwayat hasil Pap smear sebelumnya normal.

Selain itu, wanita yang sudah melakukan operasi pengangkatan rahim serta leher rahim (histerektomi total) juga tidak memerlukan Pap smear. Dengan syarat, operasi tersebut dilakukan bukan karena kanker. Kalau histerektomi dilakukan karena adanya kanker, dr. Andika tetap menganjurkan Pap smear secara rutin. 

Satu lagi yang sebaiknya diingat. Sebelum melakukan Pap smear, pastikan Anda tidak sedang menstruasi dan tidak melakukan hubungan seksual dalam 48 jam sebelum pemeriksaan.

Wanita yang hendak diperiksa sebaiknya juga tidak menggunakan pembersih vagina yang dapat memengaruhi cairan vagina. Jika hal tersebut diabaikan, hasil tes akan menjadi kurang akurat.

Jadi, itulah penjelasan mengenai usia dan kondisi fisik tertentu terkait dengan waktu yang tepat untuk melakukan Pap smear. Intinya, wanita di atas 20 tahun, baik yang sudah aktif melakukan hubungan seksual maupun yang belum, disarankan untuk melakukan skrining untuk mendeteksi sel-sel abnormal yang berpotensi menjadi kanker.

Dengan melakukan tes Pap smear, Anda pun dapat lebih berjaga-jaga dari risiko kanker serviks sekaligus berkontribusi dalam penurunan angka kematian akibat kanker serviks di Indonesia.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar