Sukses

Wanita Enggan Lakukan Pap Smear, Apa Alasannya?

Meski sangat bermanfaat untuk mendeteksi dan mencegah kanker serviks, nyatanya tak sedikit wanita yang enggan lakukan Pap smear. Mengapa begitu?

Klikdokter.com, Jakarta Ancaman kanker serviks harus menjadi perhatian para wanita. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi human papillomavirus (HPV) ini dapat mengubah hidup seorang wanita secara signifikan, bahkan merenggut nyawa. Meski begitu, sebenarnya sudah ada cara pencegahan kanker serviks yang terbilang efektif, yakni dengan mendapatkan vaksinasi HPV dan melakukan skrining Pap smear.

Menurut dr. Andika Widyatama dari KlikDokter, Pap smear sangat dianjurkan sebagai upaya deteksi dini sel serviks abnormal yang dapat berakhir menjadi kanker. “Dan menurut penelitian, pemeriksaan Pap smear yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan kasus kanker serviks hingga 80 persen,” tambah dr. Andika.

Pap smear dan pandangan mayoritas masyarakat

Perlu diketahui dulu bahwa segmentasi dari vaksinasi HPV dan Pap smear ini berbeda. Untuk vaksinasi, baik wanita maupun pria, keduanya boleh mendapatkannya. Namun Pap smear hanya bisa dilakukan oleh wanita. Sebab, prosesnya adalah dengan memasukkan alat spekulum untuk memastikan dinding vagina tetap terbuka sehingga memudahkan akses ke leher rahim. Lalu, dokter akan mengambil sampel dengan menggunakan spatula khusus dan sikat.

Meski manfaat dari Pap smear ini sudah terlihat jelas, pada kenyataannya masih banyak wanita Indonesia yang enggan melakukan Pap smear, di luar masalah kekurangan biaya. Sumber pemicu yang pertama adalah penilaian dari mayoritas masyarakat. Banyak orang Indonesia memandang bahwa hubungan seksual tanpa tujuan prokreasi adalah tidak bermoral. Di balik itu, tak sedikit wanita di Indonesia yang sudah melakukan hubungan seksual sebelum menikah.

Ada kemungkinan bahwa saat mereka ingin memeriksakan kondisi serviks mereka ke rumah sakit, mereka akan dicap oleh orang lain sebagai wanita ‘nakal’, wanita tidak baik-baik, hingga wanita penyebar penyakit menular. Ketimbang dicap seperti itu, para wanita pun memilih untuk mengurungkan niatnya melakukan Pap smear.

Selain itu, sumber pemicu yang kedua adalah rasa malu. Para wanita merasa malu untuk memperlihatkan organ intimnya ke dokter spesialis yang hendak melakukan tindakan medis. Rasa malu itu akan makin bertambah bila dokter yang bertanggung jawab untuk melakukan Pap smear adalah pria. Kalaupun si wanita tidak terlalu merasa sungkan karena sudah berpikir bahwa ini memang tindakan medis yang diperlukan, larangan untuk memperlihatkan vagina bisa datang dari pasangannya.

Dan penyebab ketiga adalah ketidaktahuan tentang Pap smear. Umumnya, orang-orang mengetahui bahwa kelompok yang wajib melakukan Pap smear hanyalah wanita yang sudah berhubungan seksual. Alhasil, ketika ada kesempatan untuk melakukan pemeriksaan, mereka menolak dengan alasan masih perawan.

Padahal, dr. Andika mengatakan bahwa wanita yang belum berhubungan intim juga boleh mendapatkan pemeriksaan Pap smear. “Karena ada faktor risiko lain yang bisa memicu terjadinya kanker serviks, misalnya merokok, punya masalah kekebalan tubuh, atau ada riwayat kanker serviks dalam keluarga,” paparnya.

Itulah tiga alasan mengapa wanita enggan untuk melakukan Pap smear. Jika Anda ingin terbebas dari bahaya kanker serviks, bekali diri Anda dengan pengetahuan tentang kanker serviks dan lakukanlah deteksi dini. Anda dapat berbicara dulu dengan dokter sebelum mendapatkan vaksinasi HPV dan menjalani Pap smear agar Anda memiliki keyakinan yang cukup dan tidak waswas atau takut berlebihan.

[RS/ RH]

4 Komentar

  • Amin Nurohim

    seperti kasus arya dan wati di tv itu?

  • Amin Nurohim

    klo operasi macam tu apa bisa pake HI ? agar gerak n jalan ibu saya tdk terlalu payah membawa beban yg tertimbu di perutnya

  • Amin Nurohim

    senen kontrol dokter jantung. selasa dokter dalam . rabu dokter tulang . kamis dokter syataf . jumat - sabtu terapi . jadi tiap hari konsumsi obat yg dari tiap dokter berbeda dan stiap bln sekantong kresek tanggung itu obat masuk semua ke badan ibu saya. dg kondisi fisik spt kpayahan membawa beba perut mungkin ya. kakinya yg kutus kecil harus menyangga beban badan yg jelas lebih besar dan berat dr kakinya. pertanyaannya bagaimana cara nya agar perut ibu saya itu bisa di kempesin ? hrs operasi ?