Sukses

Mengupas 6 Mitos Seputar Tampon

Meski di Indonesia kurang populer, tak ada salahnya mengenal tampon lebih dekat. Banyak mitos tentang tampon yang beredar, ini kebenarannya.

Klikdokter.com, Jakarta Di Amerika Serikat (AS), keberadaan tampon yang diproduksi secara massal sudah “mewarnai” toko obat sejak tahun 1930-an. Selanjutnya, jenis pembalut ini pun diproduksi secara massal ke seluruh dunia. Kabarnya, di AS sekitar 70 persen wanita menggunakan tampon. Namun, sayangnya, popularitasnya di Indonesia tidak sebesar itu. Yang menarik, tak sedikit mitos seputar tampon yang beredar sehingga membuat (calon) penggunanya khawatir.

Informasi mengenai tampon pun tak banyak. Di TV, radio, atau media lainnya, yang ada hanya iklan pembalut. Bahkan, tak sedikit wanita yang belum tahu apa itu tampon. Tak hanya itu, harganya pun lebih mahal dibandingkan pembalut biasa.

Mengenal pembalut jenis tampon

Tidak populernya tampon di Indonesia bisa jadi berakar dari stigma soal keperawanan. Pemakaian pembalut hanya cukup ditempel di celana dalam, sedangkan tampon harus dimasukkan ke dalam vagina. Terdapat kekhawatiran bila tampon sampai merobek selaput dara atau label “gadis” bisa runtuh.

Bagi Anda yang belum tahu, tampon adalah salah satu produk pembersih area kewanitaan. Tampon dirancang untuk menyerap aliran darah, dengan cara dimasukkan ke liang vagina saat sedang haid.

Setelah dimasukkan dengan benar, posisi tampon akan ditahan oleh vagina dan akan mengembang saat menyerap darah haid. Sebagian besar tampon terbuat dari bahan rayon atau campuran rayon dan kapas, dengan tingkat daya serap yang berbeda-beda.

Mitos soal tampon

Kombinasi popularitas, stigma, dan kekhawatiran menjadikan tak sedikit mitos atau miskonsepsi yang berkembang mengenai tampon. Padahal, salah satu nilai unggul dari tampon adalah karena kepraktisan dan kenyamanannya. Salah satu contohnya adalah, dengan memakai tampon, Anda tetap bisa tetap memakai legging tanpa khawatir bentuk pembalut terlihat dari luar.

Namun berkembangnya mitos tentang tampon membuat produk pembalut ini menjadi kurang diminati. Berikut ini adalah beberapa mitos yang beredar soal tampon.

  1. Tampon bisa menghilangkan keperawanan?

Kembali lagi, bisa jadi karena stigma keperawanan yang dianggap segalanya, banyak wanita yang ketakutan menggunakan tampon.

Dijelaskan oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, salah satu risiko penggunaan tampon pada mereka yang belum pernah berhubungan seksual adalah robeknya selaput dara (himen). Namun, dr. Sepriani juga mengingatkan bahwa risiko robeknya himen tak hanya datang dari penggunaan tampon.

“Bisa juga karena kecelakaan, bahkan hal sederhana seperti naik sepeda,” kata dokter yang akrab disapa dr. Sepri ini.

Menurut dr. Sepri, masyarakat Timur – termasuk Indonesia – menganggap bahwa keperawanan ditandai dengan selaput dara yang masih utuh. Sehingga ketakutan robeknya himen akibat memakai tampon, membuat produk ini kurang diminati.

Fakta lainnya, menurut dr. Sepri, himen sendiri ada berbagai tipe. Ada yang tertutup, ada pula yang memang dari sananya sudah ada lubangnya.

“Maksudnya, kalaupun ada penetrasi penis, hubungan seks yang pertama kali dilakukan bisa tak mengeluarkan darah layaknya robek,” jelasnya.

Intinya, yang harus diluruskan adalah, status keperawanan itu tidak dinilai dari robek atau tidaknya selaput dara, atau keluarnya darah saat pertama kali berhubungan seksual. Risiko robeknya selaput dara pada penggunaan tampon memang ada, namun itu kecil dan tergantung cara pemakaian dan preferensi personal calon pemakai.

1 dari 3 halaman

Selanjutnya

  1. Tampon yang dimasukkan bisa “hilang”

Saat ingin mengeluarkan atau mengganti tampon, Anda tinggal menarik tali di ujungnya. Tak jarang terjadi, ketika tali ditarik, silinder tampon tak ikut keluar alias talinya putus! Tentu bikin panik, dong, takut kalau tampon tersebut “terserap” tubuh ke atas atau tersangkut di organ.

Faktanya, kata Megan Pierce, MD, dokter spesialis kebidanan dan kandungan di CareMount Medical, AS, kepada Health, “tak ada benda yang bisa hilang di vagina.”

“Vagina itu seperti saluran yang relatif sempit dan berakhir di leher rahim (serviks) dengan kedalaman rata-rata 3-7 inch (7-17 cm). Dengan anatomi yang seperti itu, tidak mungkin tampon bisa “hilang” begitu saja,” kata dr. Sepri menambahkan.

Jika tali tampon terlepas dan tampon masih di dalam, tak perlu kalang kabut. Disarankan oleh Dr. Megan, masukkan jari (yang bersih) ke dalam vagina. Posisi jongkok bisa memudahkan Anda. Jika jari tak bisa menjangkaunya, tak perlu malu meminta bantuan pasangan atau ob-gyn Anda.

  1. Tampon tak boleh dipakai semalaman

Aturan umumnya: jangan menggunakan tampon lebih dari delapan jam berturut-turut. Namun, jika Anda lupa atau pulang kantor kelelahan lalu tertidur saat tiba di rumah, tak perlu panik. Segera lepas atau ganti saat ingat atau bangun.

Pada prinsipnya, tampon itu menyerap atau menahan darah menstruasi, sementara darah adalah media yang paling ideal untuk pertumbuhan bakteri.

“Jadi, kalau tampon dipakai lebih lama dari waktu sewajarnya, risiko infeksinya meningkat. Infeksi ini bisa terjadi mulai dari keputihan biasa, radang vagina, radang leher rahim (servisitis), hingga radang organ kewanitaan bagian dalam,” ungkap dr. Sepri.

Dr. Megan juga mengatakan bahwa ini tak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Ia mengungkapkan bahwa semua ginekolog (di AS) pernah menangani pasien yang datang dengan tampon yang “terjebak” di vagina selama beberapa hari, bahkan berminggu-minggu, dan semuanya hampir tak mengalami masalah serius. Ia melanjutkan, hal yang paling umum terjadi adalah pertumbuhan berlebih dari bakteri vagina normal, sehingga bisa menyebabkan keputihan atau bau tak sedap.

Meski demikian, dr. Sepri tetap mengingatkan Anda untuk tetap waspada. Meski mungkin saja tak ada masalah serius setelah penggunaan tampon yang terlalu lama, tapi bukan berarti pemakaian boleh seenaknya. Risiko infeksi tetap ada.

2 dari 3 halaman

Selanjutnya (2)

  1. Tak perlu mengganti tampon saat ke toilet

Baik buang air kecil atau buang air besar, sebaiknya ganti tampon Anda setelahnya. Pasalnya, jika urine membasahi tali tampon – atau jika ada kontaminasi dari bakteri dalam tinja – maka ada ancaman infeksi,.

“Jangankan pakai tampon, tanpa tampon pun bisa saja terjadi infeksi!” tegas dr. Sepri.

Untuk mencegahnya, ia menyarankan pengguna tampon untuk menggantinya tiap 3-4 jam sekali. Selain itu, setelah buang air kecil atau buang air besar, basuh vagina dari arah depan ke belakang, sehingga kuman dan saluran kemih atau anus tak akan masuk ke vagina.

  1. Memakai tampon terlalu lama bisa akibatkan toxic shock syndrome

Toxic shock syndrome (atau sindrom TS) merupakan komplikasi paling serius dari penggunaan tampon. Penyebabnya adalah bakteri Staphylococcus aureus, yang secara normal terdapat di vagina.

Dalam kondisi ideal, dr. Sepri menjelaskan bahwa bakteri tersebut tak akan menimbulkan infeksi. “Namun, saat darah berkumpul di sana (misalnya memakai tampon terlalu lama) dan ada luka kecil (micro-tears, misalnya akibat gesekan saat memasukkan tampon atau iritasi ringan), bakteri tersebut akan berkembang dan masuk ke dalam aliran darah, lalu timbullah gejala sindrom TS.”

Dilansir dari CNN, kejadian sindrom TS ini terbilang sangat jarang, dengan angka 1 dari 10.000 orang di AS. Kejadian sindrom TS memang berhubungan dengan pemakaian tampon dalam jangka waktu lama. Namun, jika tampon digunakan secara benar, rutin diganti, dan higienis, risiko sindrom TS akan mengecil.

  1. Tampon organik lebih baik daripada tampon biasa

Apa pun dengan label “organik” tentu dianggap lebih baik. Namun, ketika menyangkut tampon, belum Anda bukti bahwa merek yang organik lebih aman atau sehat ketimbang yang standar. Ini tertuang dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal medis “Applied and Environmental Microbiology”. Tak hanya itu, di jurnal tersebut juga disebut bahwa tampon organik juga tetap punya risiko sebabkan sindrom TS.

“Vagina memiliki selaput lendir dan berpotensi menyerap bahan kimia apa pun yang terkandung dalam tampon,” kata Dr. Megan. Dan karena produsen tampon tak diharuskan untuk menuliskan semua bahan atau komponen pembuat tampon, mungkin ada jejak pestisida atau bahan kimia lain yang bisa membahayakan penggunanya. Jadi, jika kemungkinan tersebut membuat Anda lebih memilih tampon organik karena khawatir, pilihan ada di tangan Anda.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengategorikan tampon sebagai “alat medis”. Mereka membuat pernyataan bahwa baik organik maupun nonorganik, salah satu cara untuk memastikan tampon aman dan efektif adalah tak ada keluhan apa pun ketika dipakai sesuai petunjuk yang tertera di kemasan.

Itulah beberapa mitos yang beredar seputar tampon. Dengan mengetahui fakta medis di balik mitos-mitos tersebut, diharapkan pengetahuan Anda tentang alat medis wanita ini bertambah dan bisa membantu meluruskan berita yang tak benar. Yang terpenting, utamakan kebersihan area kewanitaan selama haid dengan rutin mengganti pembalut atau tampon yang Anda pakai.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar