Sukses

Awas, Anak juga Rentan Kena Penyakit Autoimun

Penyakit autoimun memang sering mengintai wanita dewasa. Namun, penyakit ini pun bisa menyerang anak.

Klikdokter.com, Jakarta Belakangan ini, penyakit autoimun sedang jadi sorotan khalayak, setelah ibunda aktris muda Mikha Tambayong meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Penyakit autoimun memang sering mengintai wanita dewasa. Namun, pada dasarnya, penyakit autoimun juga bisa menyerang siapa saja, tak terkecuali anak.

Penyakit autoimun, menurut dr. Reza Fahlevi dari KlikDokter, merupakan reaksi berlebihan dari sistem imun tubuh. Sistem imun yang seharusnya melindungi, justru berbalik menyerang tubuh. Dijelaskan oleh dr. Reza, ada lima penyakit autoimun yang kerap menyerang anak-anak, yakni juvenile arthritis, diabetes tipe 1, immune thrombocytopenia purpura (ITP), systemic lupus erythematosus (SLE/lupus), dan penyakit celiac.

  • Lupus

    Dari sekian banyak penyakit autoimun, mungkin lupus yang paling dikenal masyarakat awam. Menurut dr. Reza, lupus paling sering menyerang remaja putri dan wanita di usia muda, dan menyerang berbagai organ, seperti kulit, sendi, mulut, sistem saraf, jantung, paru, ginjal, dan darah.

    Sementara itu, menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid dari KlikDokter, gejala lupus biasanya berupa:

    • Ruam berwarna merah atau keunguan berbentuk mirip kupu-kupu (ruam malar) yang terdapat pada pipi dan hidung
    • Selain ruam malar, muncul juga ruam diskoid. Ruam ini berwarna kemerahan dan disertai dengan pengelupasan kulit. Biasanya dijumpai pada pipi, hidung, sekitar bibir, dan cuping telinga
    • Sesak napas, batuk-batuk, dan nyeri dada
    • Sariawan di mulut lebih dari satu dan tidak nyeri
    • Kulit mudah merah atau terbakar bila terpapar sinar matahari
    • Jumlah sel darah tidak normal, baik itu sel darah merah, putih, atau trombositnya
    • Kerap memiliki gangguan kesadaran, gangguan memori, bicara tidak jelas, dan sulit menelan

    “Bila terdapat gejala yang mengarah ke lupus, dokter akan menganjurkan untuk pemeriksaan darah, yaitu antinuclear anitibody (ANA) dan danti-doublestranded (anti-DsDNA)” tutur dr. Resthie.

  • Penyakit celiac

Selain lupus, penyakit autoimun yang kerap dijumpai adalah penyakit celiac. Penyakit ini merupakan reaksi intoleransi gluten yang merupakan kandungan protein pada gandum dan oat.

“Saat anak yang terkena celiac mengonsumsi gluten, zat itu akan menghancurkan dinding usus sehingga dapat menimbulkan berbagai gejala gangguan saluran cerna,” kata dr. Reza.

Atas alasan itu, ada beberapa produk yang menyertai label gluten free yang ditujukan untuk anak-anak penderita celiac.

  • Juvenile Arthritis

Sebanyak 1 dari 1.000 anak mengalami penyakit autoimun ini. Biasanya, juvenile arthritis menyerang anak perempuan dengan gejala nyeri, kemerahan, dan bengkak pada sendi-sendinya.

  • Diabetes Tipe 1

Menurut dr. Reza, hingga tahun 2017, diabetes tipe 1 telah menyerang 1 sampai 2 dari 10.000 anak. Penyakit autoimun ini menyerang sel-sel tubuh pada bagian pankreas sehingga tubuh tak dapat memproduksi insulin. Gejalanya berupa sering haus, sering berkemih, cepat lapar, dan sering lemas.

  • Immune Thromocytopenia Purpura (ITP)

Trombosit si Kecil terus-menerus turun tetapi bukan karena demam berdarah dengue? Jangan-jangan anak Anda terkena penyakit immune thromocytopenia purpura (ITP). Gejala ITP mirip DBD, yakni bintik-bintik merah di kulit, mimisan, dan perdarahan gusi. Kasus ITP terjadi pada 3 hingga 8 dari 100.000 anak.

Meski banyak menyerang wanita dewasa, bukan berarti anak tidak bisa terkena penyakit autoimun. Yang paling penting, orang tua harus selalu memperhatikan tanda-tanda dan gejala yang muncul pada tubuh anak. Bila gejala penyakit autoimun muncul, segera bawa anak ke dokter untuk dilakukan pengecekan medis.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar