Sukses

Benarkah Sabu Bisa Tingkatkan Gairah Seks?

Narkoba jenis sabu sering disalahgunakan lantaran dituding mampu meningkatkan gairah seks. Apa kata medis?

Klikdokter.com, Jakarta Setelah artis Sandy Tumiwa dibekuk polisi saat menggunakan narkoba jenis sabu, kini giliran politikus Andi Arief tertangkap menggunakan narkoba jenis yang sama pada hari Minggu (3/3) di sebuah hotel di bilangan Slipi, Jakarta Barat. Dikutip dari berbagai sumber, Andi Arief terbukti menggunakan sabu setelah dilakukan tes urine.

Sabu atau secara medis dikenal dengan metamfetamin merupakan suatu obat psikostimulan yang menghasilkan efek mirip kokain dan metilfenidat. Obat yang peredarannya benar-benar dibatasi itu sebenarnya digunakan untuk penderita ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif pada orang dewasa.  

Namun, banyak orang yang menggunakan sabu dengan cara yang tidak semestinya. Obat terlarang ini pun beredar secara diam-diam, dan sering dijual dalam bentuk pil, bubuk, atau kristal.

Cara kerja sabu

Orang-orang tidak bertanggung jawab umumnya menggunakan sabu dengan cara ditelan, disuntikkan ke nadi, dan dihirup langsung melalui hidung atau dengan alat bantu berbentuk tabung (bong).

Ketika digunakan dengan cara hirup, asap akan segera masuk ke peredaran darah melalui paru-paru dan dengan cepat menuju ke otak. Karena bersifat stimulan, sabu langsung memberikan efek euforia seketika, yang diikuti dengan peningkatan fokus, konsentrasi, dan energi selama kurang lebih 12 jam.

Seperti halnya obat stimulan lain, sabu dapat meningkatkan kadar dopamin, norepinefrin, dan serotonin di otak. Oleh karena itu, efek yang dirasakan instan biasanya berupa perasaan “adrenalin” yang meningkat selama 30 menit awal, merasa termotivasi untuk melakukan pekerjaan tertentu, serta rasa percaya diri yang melonjak tajam.

Lantas, bagaimana dengan peningkatan gairah seks? Apakah sabu mampu memberikan efek yang demikian?

Sabu dan gairah seks

Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Psychopharmacology, sabu atau metamfetamin merupakan golongan psikostimulan kuat yang dapat meningkatkan gairah seks dan kepuasan seksual. Namun, penelitian yang dilakukan pada mencit itu menyebut bahwa efek yang dirasakan bergantung dari dosis sabu yang digunakan. Pada dosis rendah, sabu tidak akan berdampak apapun pada gairah seks.

Sementara itu, berdasarkan Washington Medical Center di Vancouver, Kanada, penggunaan sabu juga berpotensi membuat seseorang rentan melakukan perilaku seks berisiko. Hal ini karena sabu dapat membuat “kerusakan” di lobus frontal otak, sehingga mampu mengubah perilaku, termasuk persepsi akan sesuatu, kontrol diri, dan penilaian terhadap hal tertentu. Atas dasar itu, banyak pengguna sabu rentan untuk melakukan perilaku seks bebas dan tidak sehat, seperti sering berganti pasangan seksual, seks anal, atau berhubungan seks dengan partner yang menderita infeksi menular seksual.

Tak berhenti di situ. National Institute of Drug Abuse di Amerika Serikat menyebut bahwa pengguna sabu juga sering berganti jarum suntik dengan orang lain sehingga membuat dirinya rentan mengalami infeksi seperti HIV, hepatitis B dan C.

Kesimpulannya, sabu memang bisa meningkatkan gairah seks. Namun, hal ini hanya bersifat sementara dan bergantung dari dosis sabu yang masuk ke tubuh. Semakin banyak sabu yang masuk, semakin besar pula gairah seks yang dirasakan.

Meski demikian, jangan terpancing dengan segala efek semu yang ditawarkan oleh sabu. Alih-alih meningkatkan performa dan gairah seks, sabu justru membuat penggunanya sangat berisiko mengalami gangguan kecemasan berat, paranoid, insomnia, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Selain itu, tekanan darah dan nadi juga meningkat, denyut nadi menjadi tidak normal, tubuh gemetar (tremor), dan muncul perilaku kasar yang bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Bahkan, pengguna narkoba jenis sabu juga lebih berisiko untuk mengalami infeksi menular seksual, mulai dari sifilis, hepatitis B, hingga HIV. Dengan kata lain, ada lebih banyak bahaya bagi kesehatan dengan mengonsumsi sabu, daripada manfaatnya.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar