Sukses

Penyebab Gatal Saat Hamil

Rasa gatal bisa muncul kapan saja, tak terkecuali saat hamil. Apa penyebabnya dan apakah kondisi ini perlu dikhawatirkan?

Klikdokter.com, Jakarta Wanita yang sedang hamil sering mengalami keluhan yang tak mengenakkan. Mulai dari sulit tidur, sering sesak, nyeri di sekitar pinggang, dan tak jarang mengalami gatal-gatal. Tak jarang gatal yang dirasakan bikin panik dan mengganggu aktivitas. Nyatanya, ada penyebab dari munculnya gatal-gatal yang dirasakan saat hamil.

Keluhan gatal dialami sekitar 20 persen wanita hamil. Gatal yang mengganggu dapat membuat wanita hamil mengalami penurunan kualitas hidup, semisal kurang produktif. Pada dasarnya, penyebab gatal pada wanita hamil terjadi akibat adanya perubahan hormonal. Akibatnya, kulit jadi lebih sensitif terhadap lingkungan atau benda-benda yang dipakai.

Selain faktor hormonal, kondisi kulit yang kering akibat peregangan yang terjadi di kulit juga bisa memicu timbulnya rasa gatal. Kulit di perut akan semakin tipis, mengingat rahim makin membesar seiring bertambahnya usia kehamilan.

Kelainan kulit saat hamil yang menimbulkan keluhan gatal

Terdapat beberapa jenis kelainan kulit yang bisa terjadi pada wanita hamil, yang menimbulkan rasa gatal. Di antaranya adalah:

  1. Pruritic urticarial papules and plaques of pregnancy (PUPPP)

PUPPP merupakan kondisi yang relatif aman dan dapat sembuh dengan sendirinya. Insiden terjadinya PUPPP banyak terjadi pada saat kehamilan pertama di trimester akhir maupun sesaat setelah melahirkan. Tak hanya itu, PUPPP juga bisa terjadi pada wanita yang sedang hamil kembar. Kondisi ini juga bisa berulang pada kehamilan berikutnya.

PUPPP biasanya muncul dengan tanda seperti bintik-bintik, hingga timbulnya plak yang meluas di sekitar perut hingga area pantat dan lipat paha. Keadaan ini diperparah apabila seorang wanita hamil memiliki stretch mark di perutnya. Kondisi ini akan menimbulkan rasa gatal yang menyiksa dan membuat tak nyaman, khususnya saat malam hari.

Sampai saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab seorang wanita hamil mengalami kondisi ini.

  1. Intrahepatic cholestasis of pregnancy (ICP)

ICP merupakan kondisi yang berhubungan dengan terganggunya aliran sistem biliari selama kehamilan. Kondisi ini muncul pada trimester kedua atau ketiga, dan terjadi secara tiba-tiba.

Gejala awal yang muncul adalah gatal di telapak tangan dan telapak kaki secara mendadak, dan dirasakan makin gatal saat malam hari. Selain rasa gatal, biasanya juga terdapat gejala penyerta seperti perubahan warna urine menjadi lebih gelap (mirip warna teh), dan ada pula laporan bahwa pada 10 persen dari kasus ICP terjadi perubahan warna kulit menjadi kuning (jaundice).

  1. Pemphigoid gestationis

Pemphigoid gestationis merupakan kondisi autoimun yang muncul pada usia kehamilan 20 minggu dan juga bisa muncul pada masa nifas. Kondisi ini memiliki bentuk seperti ruam pada awalnya, kemudian membentuk seperti papul dan plak di sekitar pusar dan ekstremitas (anggota gerak). Pada keadaan lanjutan, bisa terbentuk blister yang bisa menyebar pada wajah, telapak tangan, dan kaki.

  1. Atopic eruption pregnancy (AEP)

AEP sering disebut dengan prurigo dalam kehamilan. Kondisi ini terjadi akibat adanya perubahan sistem imun selama kehamilan. AEP merupakan kondisi yang tak perlu dikhawatirkan, dan biasanya muncul pada wanita hamil yang punya riwayat alergi atopi (alergi yang dialami sejak kecil).

Tanda dan gejala yang muncul dari AEP hampir mirip dengan PUPPP, yaitu terdapat bintik kemerahan yang tersebar di seluruh tubuh, terutama di sekitar kaki dan tangan.

Meski ada beberapa penyebab yang tak perlu dikhawatirkan, tapi keluhan gatal pada masa kehamilan tak lantas boleh dipandang sebelah mata. Apabila tidak ditangani dengan segera, rasa gatal dapat mengganggu wanita hamil dan janinnya. Misalnya wanita hamil mengalami gatal karena ICP, jika tidak ditangani bisa akibatkan kelahiran prematur, distres pada janin, yang bukan tak mungkin dapat menyebabkan kematian janin.

Jadi, keluhan gatal yang dirasakan saat hamil tetap harus diperiksakan apa penyebabnya, sehingga bisa ditangani dengan tepat. Konsultasikan ini dengan dokter spesialis kandungan dan kebidanan serta dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mendapatkan terapi yang sesuai.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar