Sukses

Imunisasi Gigi, Penting tapi Sering Diabaikan

Imunisasi gigi buat anak sama pentingnya dengan imunisasi penyakit lain. Mengapa?

Klikdokter.com, Jakarta Imunisasi gigi mungkin belum terlalu sering Anda dengar dibanding imunisasi penyakit umum lainnya. Padahal, dari tahun ke tahun makin banyak anak yang mengalami penyakit gigi. Data Riskesdas 2018 menunjukkan, rata-rata anak usia 5 tahun memiliki gigi berlubang sebanyak 8 buah dari total 20 buah gigi yang sudah tumbuh.

Berdasarkan buku “Dental Immunization: Urgency To Build Empowerment In Community”, dampak penyakit gigi berlubang pada anak membutuhkan perhatian serius karena dapat mengganggu proses mengunyah serta tumbuh kembang, terutama perkembangan otak anak.

Salah satu penulis buku tersebut, Dr. Irene Adyatmaka, DDS, PhD, menyampaikan bahwa program kesehatan gigi sekolah dengan metode lama (hanya mengandalkan petugas kesehatan sekolah, penyuluhan satu arah dalam jumlah peserta yang banyak, dan kegiatan sikat gigi massal) tidak lagi efektif dalam upaya meningkatkan kesehatan gigi anak usia sekolah.

Karena itu, beliau dengan dukungan dari Universitas Harvard, Universitas Melbourne, dan Universitas Nijmegen merancang suatu inovasi baru yang dapat digunakan dalam program kesehatan gigi sekolah agar efektif dalam meningkatkan kesehatan gigi anak. Nama programnya adalah imunisasi gigi.

Imunisasi gigi terdiri atas tiga tiang utama, yaitu:

  1. Mengenali faktor risiko karies gigi dengan aplikasi "Irene Donut" (bisa diunduh di www.irenedonut.com)

Setiap pasien perlu penanganan yang berbeda-beda sesuai kondisinya. Dengan kesadaran itu, dibuatlah aplikasi “Irene Donut” yang berguna untuk membantu pasien dalam menentukan apa yang sebenarnya dibutuhkan atau dihindari.

Misalnya anak A dan B sama-sama memiliki gigi berlubang, namun ternyata penyebab gigi berlubangnya berbeda. Oleh karena itu, dengan adanya "Irene Donut" dapat ditentukan apa saja faktor penyebab karies masing-masing individu, bagaimana mengatasinya, serta perubahan apa yang diperlukan.

  1. Terapi remineralisasi

Dari hasil penelitiannya, Dr. Irene menemukan bahwa gigi dengan bercak putih (white spot) dan garis hitam (stained fissure) memiliki risiko tiga kali lebih besar untuk mengalami gigi berlubang dibanding gigi tanpa bercak putih dan garis hitam. Karena itu, perawatan untuk menghentikan kondisi tersebut sangatlah penting.

Untuk mengatasi demineralisasi, anak bisa melakukan perawatan di rumah, yakni menggunakan vitamin gigi yang mengandung CPP-ACP. Kandungan kalsium dan fosfat di dalamnya dapat mengembalikan mineral gigi yang hilang sebelum terbentuk lubang gigi, serta membantu menetralkan  keasaman di dalam rongga mulut.

  1. Melindungi permukaan gigi permanen yang sedang tumbuh

Dalam merawat gigi dengan risiko karies tinggi, seperti gigi geraham permanen yang baru tumbuh dan geraham dengan garis hitam, diperlukan tindakan yang berbeda.

Gigi geraham permanen yang baru tumbuh dapat diberikan Surface Protection, yang berguna untuk mempercepat pematangan struktur enamel gigi sebelum gigi tersebut mengalami kerusakan. Tindakan seperti ini sangat mudah dan cepat, hanya butuh 3 menit dengan harga cukup terjangkau.

Selain tiga tiang utama di atas, hal yang tidak kalah penting adalah perawatan gigi yang sudah diimunisasi. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kemampuan dalam menyikat gigi. Dalam melatih anak-anak untuk menyikat gigi dengan baik, perlu strategi yang menarik, mudah diingat, dan dipahami anak.

Tindakan yang difokuskan untuk meningkatkan kemampuan menyikat gigi anak adalah dengan menggunakan Tri Plaque ID Gel yang dioleskan pada seluruh gigi. Melalui cermin, anak-anak dapat melihat, membedakan plak gigi, dan di mana saja tempat plak gigi yang menumpuk.

Program ini bisa dilakukan secara mandiri oleh kader posyandu dan orang tua murid yang diberi pelatihan, tanpa perlu bergantung dengan petugas kesehatan gigi. Karena perlu diketahui, perbandingan jumlah petugas kesehatan gigi dengan jumlah masyarakat Indonesia masih sangat sedikit.

Dengan adanya terobosan imunisasi gigi ini, program kesehatan gigi sekolah diharapkan dapat aktif kembali dengan lebih berwarna, tidak membosankan, serta memberikan dampak yang signifikan dalam menurunkan angka jumlah penyakit gigi anak.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar